Dear Papa

Sepertinya baru saja aku diantar ke sekolah dengan sepeda motormu yg tua dan cara mengemudimu yang khas. Pelan, santai, untung tidak ditengah jalan (karena sekarang aku merasa pemotor slow yg ngotot ada di tengah jalan itu menyebalkan..hehe). Sepertinya baru saja engkau menyampul semua buku pelajaranku, menyemir sepatuku, menyuapiku dengan nasi yg dikepal, mendongeng bagiku saat mati lampu, dan..ah, terlalu banyak jika kusebutkan..

Siang ini, temanku becerita tentang kehilangannya krn neneknya dipanggil pulang oleh Tuhan. Dan entah kenapa, hal itu kembali memutar memoriku pada 3 tahun lalu saat engkau juga dipanggil pulang olehNya. Masih segar di ingatanku, detik demi detik yg menyiksa melihatmu tak berdaya sampai akhirnya kau tiada. Sakitnya masih sama. Rindunya masih sama.

Saat aku akhirnya menikah setahun kemudian, yg kupikirkan bagaimana ya ekspresimu jika hadir di penikahanku, akankah kau menangis haru atau tetap dengan sikap “sok” cool-mu? Pun begitu aku dikaruniai buah hati, sering terbersit tanya bagaimanakah engkau berinteraksi dengan anakku? Ah, kau pasti jadi kakek yang hebat, kakek yg akan jadi idola anakku. Aku yakin itu.

Terima kasih telah menjadi teladan bagiku, menjadi pelindungku, pendukungku paling depan, “polisi”ku disaat aku mulai menyimpang. Terima kasih.

Rindu ini besar, sebesar hatimu yg mengasihiku tak bersyarat. Kau akan selalu menjadi cinta pertamaku. Love you Pa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s