Hujan Berkat

Dalam arti denotasi a.k.a sesungguhnya a.k.a sebenarnya, yg menjadi berkat yang dinantikan orang saat ini adalah HUJAN. Setelah panas yang puanjanggg, akhirnya, “kran” langit terbuka. Hujan dinantikan untuk menyejukkan suasana, hujan dinantikan oleh sumur-sumur yang mulai mengering (dan tentu pemilik sumur yang frustasi ga ada air <– nyokap gw), dan tentunya untuk menghilangkan asap (atau jerebu kata upin-ipin) yang menggantung pekat di langit-langit Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Asap yang sulit sekali diusir meskipun sudah dilakukan berbagai cara oleh relawan-relawan, anggota TNI, BNPB, dan semua pejuang-pejuang diluar sana.

Ah, sungguh, hujan di November ini begitu dinantikan…

Eits, tetapi tidak selesai sampai disitu, karena “ancaman” lain akan hujan mulai mengintai di banyak titik. Yap, we named it BANJIR. Padahal hujan baru sebentar, padahal hujan baru ada di pembukaan, tapiii…setiap hujan datang, banyak titik sudah tergenang. Hufft..

Salah siapa? kita semua, menurut saya. Di masa kekeringan, kita tidak mempersiapkan diri untuk datangnya hujan. Jalan berlubang belum diperbaiki semua, selokan tersumbat boro-boro ada yang memperhatikan, buang sampah masih enteng saja dimana-mana.

Salah siapa? “Pemerintah!” kata si kritikus, “Pemerintah tidak menyediakan infrastruktur yang baik untuk menghadapi hujan”. Saya setuju, masih banyak pemerintah daerah yang terkesan “abai” dengan hal ini –> tunjuk kabupaten dimana saya tinggal, tetapii..heii..tetapi…banyak juga perbaikan yang sudah coba dilakukan oleh beberapa pejabat pemerintah (hail to Ahok, Ridwan Kamil, Risma, atau siapapun yang pekuter (pejabat kurang terkenal) tapi karyanya nyata didaerah masing-masing –> ada yang mau memberi nama? :)). Kita tidak tahu apakah usaha mereka efektif, masih harus diuji dengan musim hujan yang baru mulai, tetapi at least kita tahu mereka melakukan sesuatu. Jangan terlalu pelit apresiasi lah.

Salah siapa? “Pengusaha Property, yang ga bisa liat lahan nganggur” kata si pengamat lainnya. Hal ini saya tidak ingin komentar, karena.. permintaan pasar akan properti ini tinggi, siapakah pasar itu? kita? ah..saya tidak tahu.. Tapi semoga akan ada pengusaha properti yang mengusahakan keseimbangan alam entah bagaimana caranya (yang jelas, bukan sekedar “menjual” alam sebagai bagian dari properti mereka. if you know what i mean)

Siapa lagi yang salah? Hmm…sudah kehabisan orang yang ditunjuk? Mari kita coba tunjuk diri sendiri. Seberapa banyak dari kita yang masihsajamembuangsampahsembaranganpadahaltahusampahinibisamengakibatkanbanjir (gemes, sampai malas pake tombol spasi). Yang habis beli tiket commuter line, trus struknya dibuang sembarangan? Yang lagi makan gorengan di bis trus sampahnya dibuang ke kolong atau ke jalan sekalian biar ga bikin mata sepet? Yang anaknya abis makan jajanan trus disuruh sama Ibunya “buang aja sampahnya disini” padahal “disini” itu bukan tempat sampah? Yang masih berpikir kalau sungai itu tempat sampah besar berjalan? Yang bangun rumah/toko sampai minggir kejalan tanpa mempertimbangkan pentingnya selokan disana? Yang malas recycle barang dan lebih suka membuang? Yang apa lagi ya..hmm..ada yang mau menambahkan?

Bisa jadi, saya adalah salah satunya. Tapi saya berusaha untuk mengindarinya. Kecil memang, tapi semoga membawa dampak.

Demikian perenungan sok bijak saya di siang ini. Semoga kita bisa mempersiapkan datangnya hujan dan bernyanyi..

HUJAN BERKAT KAN TERCURAH..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s