Standar Ganda

Hari ini jadi ingin berkeluh kesah…meski kata orang mengeluh itu tiada guna, gapapalah..jarang-jarang ini ūüėÄ Pernah ga sih ketemu sama orang yang suka banget menerapkan standar ganda sama orang lain? Maksudnya opo toh standar ganda itu? Jadi menurut saya, standar ganda itu jika seorang atau sekelompok orang menerapkan standar tinggi pada orang lain (atau yang berada di luar kelompoknya) tetapi standar dia itu tidak berlaku buat dirinya sendiri (atau kelompoknya). Contohnya ya adalah dia benci ga suka kalau ada orang lain yang tersinggung sama bercandaannya dia tapi dia sah-sah aja tersinggung sama bercandaan orang (yang menurut penilaian subjektif saya, kadar bercandaannya itu sama).

Contoh lain adalah dia ga suka kalo diomongin dibelakang (siapa juga yang suka ya) dan bisa ngambek berkepanjangan kalau dia tau tapi hobiii banget ngomongin orang di belakang dan kalau orang yang diomongin itu negur dan ngambek, dibilang ga asik. Minta digaruk pake pisau ga sih yang begini? Terus contoh lain lagi (duileh, banyak banget mbak, ini pengalaman pribadi ato gimana?) dia sukaaaa banget mengkritik orang tanpa tedeng aling-aling (kritik membangun ataupun yang tidak membangun) tapi anti banget dikritik sama orang lain. Bisa pundung dan bilang “emang si X (yg ngritik) udah paling sempurna apah?”. Makkkk..

Mungkin saja sih, saya sendiri pernah (atau sering) memiliki standar ganda seperti ini pada orang tanpa sadar. Dan di tengah hari bolong yang melelahkan gegara stock opname segambreng  tiba-tiba saya dapet pencerahan, kalo diperlakukan seperti itu ga enak banget. Bikin keki. Bukan, bukan karena saya habis diperlakukan seperti itu, tapi saya melihat teman saya diperlakukan seperti itu. Sayah eneg banget deh jadinya. Siang saya jadi gloomy karena saya ikutan ga enak feeling begini.

Menurut saya, hal ini mungkin terjadi karena kita susah berempati sama orang. Jadi, kita ngerasa sah-sah aja memperlakukan orang lain dengan standar yang menurut kita bener, padahal jika standar itu diterapkan ke diri kita sendiri, kita belum tentu suka ya. Simplenya sih, perlakukan orang lain seperti dirimu ingin diperlakukan.

Demikian keluhan saya yang ga penting ini

12376748_10203911321662361_2600425498577847570_n.jpg
Ini ga ada hubungannya sih sama keluhan saya, lebih ke susah empati..hehehehe

Tentang drama korea

Waktu saya masih abg kinyis-kinyis dulu, saya suka sekali nonton drama korea. Drama pertama yang saya tonton itu drama sejuta umat, Full House. Saya suka nonton karena dulu bebas aja mengkhayal bakal dapet suami semacam Yoo Min-hyuk (iya, saya sukanya sama second lead male actornya, bukan sama Lee Young-Jae as lead male actor ūüėÄ ). Cowok-cowok di drama korea itu kayaknya jadi impian (kebanyakan) anak perempuan untuk jadi future husband. Udahlah ganteng, baik hati (meski covernya rude, jutek, tp tetep soft hearted ujungnya), kaya raya, sweet banget tapi tetap manly, terus setengah mati memperjuangkan cinta. Aihhh, mate.. Sudah begitu (kebanyakan) plot drama korea itu kayak The rich-handsome-kind-sweet hero meet the average or even poor heroine atau kebalikannya, semuanya jadi serba mungkin di dra-kor. Kalau nonton dra-kor bisa ber-“awww..sweet” atau nangis sendiri saking menghayatinya. Makin mengkhayal babulah abg-abg perempuan semacam saya.

Lewat dari masa abg, saya pun sadar setelah menghadapi realita. Plot cerita dan pria-pria di drama korea itu nyaris mustahil eksis di bumi ini. Kalaupun ada, hanya sebagian keciiiilll saja dari kebanyakan love story di dunia. Saya mulai jarang nonton dra-kor karena takut sakit hati dengan ceritanya. Hahahaha. Cetek banget alasannya. Terakhir saya nonton dra-kor dengan serius itu judulnya Pasta (2010). Udah ga abg lagi sih saat itu, tapi masih lebih muda lah dari sekarang (yaiyalah, namanya juga umur mah bertambah atuh). Setelah itu, saya pindah haluan menonton serial kriminal semacam CSI, Law & Order, NCIS, Criminal Minds. Jauh banget deh.

Tetapi mulai minggu lalu, saya kangen tiba-tiba dengan drama korea. Tanya-tanya teman yang masih suka nonton, muncullah series Kill Me, Heal Me¬†di rekomendasinya. tadinya mau nonton Healer, tapi ntah kenapa jadi nonton Kill Me, Heal Me. And i’m in love with Ji Sung this series. Omagah, it’s beyond my expectation. Saya nonton 20¬†episodes dalam waktu 3 hari saja saudara-saudara.

KILL ME, HEAL ME

Ringkasan : Cerita tentang Cha Do Hyun (CDH), seorang Chaebol generasi ketiga yang memiliki gangguan DID (dissociative identity disorder) alias punya banyak kepribadian akibat trauma masa kanak-kanak yang mendapat kekerasan dari ayahnya. CDH punya 7 kepribadian (termasuk kepribadian aslinya sebagai CDH) yang merepresentasikan kenangan dia semasa kecil.

  1. Shin Se-gi sebagai kepribadian yang menanggung rasa sakit dari masa lalu CDH (CDH lupa memori tentang masa kecilnya di umur 7-8 th). Kepribadian ini penuh kepahitan, tangguh, kasar, stylish, tapi dia bertekad melindungi anak perempuan yang dulu pernah mengalami kekerasan bersama dia dirumahnya (will tell you later).
  2. Perry Park sebagai kepribadian yang merepresentasikan ayah CDH sebelum dia menjadi abusive. Pria paruh baya yang terobsesi dengan bir, kapal bertuliskan namanya dan hobi membuat bom.
  3. Ahn Yo-sub, ini pribadi remaja pria yang jenius tetapi memiliki kecenderungan depresif dan bunuh diri.
  4. Ahn Yo-na, ini kembaran pribadi Yo-sub dalam wujud remaja wanita yang cheerful dan tergila-gila pada idola remaja. Yo-na muncul jika CDH harus berhadapan dengan tekanan mental
  5. Nana, kepribadian ini muncul sebagai anak kecil yang direpresentasikan sebagai boneka beruang. Ini bagian ingatan CDH tentang anak perempuan yang dulu bersama-sama dengan dia jadi korban kekerasan di ruang bawah tanah.
  6. Mr.X, muncul terakhir dan jadi trigger untuk CDH berani menghadapi kenangannya. Mr.X ini muncul sebagai ayah Nana sebagai bagian dari harapan CDH supaya Nana memiliki pelindung.

Selain CDH, tokoh utama lainnya adalah Oh Ri Jin (ORJ) yang ternyata adalah anak perempuan yang jadi bagian masa lalu CDH yang di adopsi oleh keluarga Oh. ORJ tumbuh dengan kehilangan ingatan masa kecil sebelum di adopsi keluarga Oh. Dia menjadi residen psikiater dan menjadi murid psikiater yg menangani CDH. Setelah takdir mempertemukan kembali (takdir bokk), ORJ menjadi psikiater pribadi CDH dan sedikit demi sedikit memulihkan ingatan CDH sekaligus ingatannya sendiri. Di akhirnya mereka akhirnya jatuh cinta dan saling menyembuhkan luka masa lalunya.

Kurang gula (manis) apalagi coba endingnya. Tapi yang memukau buat saya itu sepanjang film ini, semua kepribadian CDH dimainkan dengan sangat total oleh¬†Ji Sung¬†. Dengan 7 pribadi dalam 1 orang dan 1 film tapi tetap terasa perbadaan masing-masing pribadinya. Bisa ngerasain emosi dari masing-masing pribadi, ada lucu, tegang, sedih, campur aduklah. Bahkan ketika masing-masing kepribadian ini pergi, kecuali CDH, ada rasa kehilangan. Aku gagal move onnnnnn…

Selain akting Ji Sung, yang dapet banget itu¬†chemistry antara CDH & ORJ (diperankan oleh¬†Hwang Jung Eum). Pernahkan berharap kalo pasangan di film berakhir jadian di dunia nyata karena¬†chemistry-nya dapet banget? nah, itulah yang saya harapkan terjadi sama Ji Sung dan HJE. Tapi setelah baca biodatanya, ternyata Ji Sung udah merit dong. Istrinya cantik banget, jadi ikhlaslah meskipun ga jadi sama gw HJE. Hahahahha. (Emang situ siapa sampe ga ikhlas? ūüėÄ ).

Peran pendukung yang menarik lainnya itu Oh Ri On (diperankan Park Seo-joon). Sebagai kakak adopsi ORJ, ORO memendam rasa cinta sama ORJ tapi pada akhirnya dia tetap memutuskan jadi kakak terbaik untuk ORJ dan mendukung ORJ sama CDH. Nah, ORO ini subjek afeksinya Yo-Na, jadi kalo Yo-Na keluar dia akan ngejar-ngejar ORO bahkan sampai dicium. Sungguh, itu adegan bikin ngakak. gara-gara peran Yo-na dengan ORO, Ji Sung dan Park Seo-joon dapet gelar best couple di MBC Drama Awards.

Postingan ini sungguh spoiler alert. Tapi semua yang tertulis di atas itu murni pendapat saya pribadi ya. Selera orang beda-beda, jadi kalau ada yang tidak sependapat, tolong akuh jangan dilempari batu. Hahahaha.

Baiklah, saatnya saya tidur sambil berharap mimpi Ji Sung yang senyumnya udak kaya panas¬†1064.18¬†¬įC yang bisa meleburkan emas.

 

Tentang Waktu

Menurut saya, waktu itu paradoks (ceileh, kaya ngerti aja apa arti paradoks).

Kalau kata kbbi : paradoks/pa·ra·doks/ n pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

dan jika menurut¬†wikipedia Indonesia¬†:¬†Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; (2) asumsi; (3) kalimat atau proposisi yg dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dl logika), yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi.¬†Sebuah ‘paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi.

Lalu saya jadi bingung sendiri, hahahaha.. semoga guru Bahasa Indonesia saya tidak membaca kebingungan saya sehingga tidak merasa gagal mentransfer ilmu, karena kesalahan semata dari saya. Kalau menurut¬†saya, Paradoks itu sebuah kondisi¬†membingungkan tentang 2 pernyataan yang bertentangan tetapi keduanya adalah benar pada kondisi itu. Kenapa saya sebut waktu adalah paradoks? Karena waktu bisa bergerak sangat cepat atau sangat lambat secara bersamaan, atau terkadang terasa bergerak cepat dan terkadang bergerak lambat tergantung kondisi si subjek. Maaf kalau pemahaman saya salah, dikoreksi saja, jangan dibully, apalagi dibenci ūüėÄ

Kapan menurut saya waktu terasa bergerak cepat dan lambat secara bersamaan?

  1. Setelah Papa meninggal dunia. Saya merasa waktu terasa sangat cepat sampai-sampai sudah hampir 4 tahun beliau pergi, tapi rasanya seperti baru kemarin saya memeluk beliau dalam kondisi sehat. Tetapi secara bersamaan, waktu terasa lambat karena selama 4 tahun ini sudah banyak hal besar terjadi dalam hidup saya. Saya bertunangan, menikah, hamil, melahirkan, pindah kerja. Entah, jika mengingat semua proses yang saya alami diatas, saya merasa waktu bergerak lambat seperti “oh, baru hampir 3¬†tahun tho saya menikah, perasaan sudah lama ūüėÄ “
  2. Setelah B lahir. Time flies kalau kata banyak orang yang meihat B sekarang. Yup, saya juga amazed karena sepertinya baru kemarin saya kegirangan melihat test pack positif lalu mengalami masa hamil dengan drama flek, kemudian melahirkan mendadak (semoga nanti saya bisa ceritakan), lalu tahu-tahu B sudah lari-lari kesana kemari. Time flies. Lagi-lagi secara bersamaan saya merasa waktu ini bergerak lamaaaa sekali karena menunggu kapan ya B mulai lancar bicara, kapan ya B giginya tumbuh lengkap, kapan ya B mau sikat gigi, kapan ya B mulai sekolah dan seterusnya

Jadi kedua hal diatas menurut saya membuat waktu bergerak cepat dan lambat secara bersamaan. waktu itu jadi paradoks untuk saya.

Lalu apa kondisi yang membuat waktu terasa melambat?

  1. Menunggu jam pulang kantor. sepertinya saya sudah ini, sudah itu, kesana-kemari, bolak-balik menghadap bos, tapi kok masih saja jam 4 atau jam 4.15 (saya pulang jam 5 sore). Pada kondisi ini sungguh waktu terasa sangat lambat.
  2. Menunggu jam makan siang, hahahahaha. Ini juga membuat waktu terasa melambat karena saya lapar biasanya mulai dari jam 10 pagi.
  3. Menunggu kabar yang diharapkan. Entah kabar keberadaan suami, kabar tentang barang belanjaan online yang belum tiba, menunggu kabar transferan gaji, menunggu kabar bonus, menunggu orang bayar hutang, eh.. hahahaha
  4. Macet. Ini benar-benar membuat waktu terasa sangat lambat buat saya, karena saya tidak betah berdiam diri di kemacetan
  5. Ada lagi yang bisa menambahkan?

Dan kondisi yang membuat waktu terasa berlari, menurut saya adalah :

  1. Waktu tidur malam. Kok ya tahu-tahu sudah pagi dan harus segera menyeret tubuh dari tempat tidur dan berangkat kerja
  2. Jam 1 siang, dimana adalah jam selesai istirahat saya. huks..kan masih pengen internetan :p
  3. Dikejar deadline kerjaan, ofkors..hahahaha.. kok tahu-tahu sehari berlalu (meskipun di jam 4 akan terasa melambat lagi :D)
  4. waktu tenggat pembayaran cicilan apapun. Hahahaha, perasaan kemarin baru baya eh udah hampir jatuh tempo lagi.
  5. Ada lagi yang bisa menambahkan?

Tetapi semoga saya bisa menggunakan waktu sebaik-baiknya, bisa mengitung hari-hari sebijaksana mungkin.

Cheers

Yogyakarta 3

Demi apa liburan singkat dan ga kemana-mana ini bisa jadi 3 seri ? ūüôā Ini mah karena saya ga¬† belum terbiasa menulis panjang. Jadilah 3 seri Yogyakarta. Ini cerita lanjutan dari cerita kemarin, masih tentang makanan. Pulang dari Malioboro & Resto Merapi, kami kembali berbincang-bincang dengan seluruh keluarga di rumah Yangti.

img-20151226-wa0023.jpg
Ini dia Yangti yang jadi alasan utama kami ke Yogya. She’s 90 years old and still healthy. Cuma matanya sudah agak rabun, dan sedikit pikun meskipun masih mengenali anak-cucu-buyut. Dia juga masih nyuci baju sendiri (karena ga mau dicuciin orang). Pokoknya she’s rock.

Sedikit cerita tentang Yangti saya, saya terenyuh sekali beliau masih mengenali saya saat saya tiba. Sudah 90 tahun tapi masih bisa jalan sendiri merupakan suatu prestasi menurut saya, apalagi mengingat beliau masih makan tongseng sampai sekarang X). Meskipun sekarang sering mengulang cerita dan agak pikun (mulai disorientasi waktu pagi-malam), tapi kami masih bisa berkomunikasi. Dulu, beliau ini petani & pedagang, istri pak lurah. Setelah Yangkung meninggal (th.1981) beliau masih harus berjuang menyekolahkan 2 anak terakhir (Om & Tante saya) dan she was made it. Om & Tante saya sukses jadi Sarjana. Maka waktu papa meninggal (th.2012), beliau yang menguatkan mama untuk tetap tegar. Dia bilang “aku saja bisa, kamu juga pasti bisa. apalagi anakmu sudah hampir jadi yang terakhir (adik saya tk.2 kuliah)”.

Saya salut juga dengan Om & Tante saya yang tinggal bersama Yangti. Meskipun masih tergolong sehat, mengurus orang seumur Yangti tetap tidak mudah. Adakalanya menangis sendiri tanpa sebab, adakalanya ingin buang air kecil tapi linglung ke kamar mandi & tidak tahan akhirnya b.a.k di ruang keluarga, adakalanya terbangun jam 1 pagi, jam 2 pagi, jam 3 pagi untuk minta makan. Adakalanya ingin mengobrol dan ceritanya diulang, diulang, diulang (multiply 1000X). Adakalanya marah tidak jelas. Pokoknya butuh kasih sayang, kesabaran, dan keikhlasan yang besarrr. Terdengar mudah, tapi saya yakin tidak karena orang muda biasanya masih punya banyak urusan yang harus diurus diluar, sehingga lelah tapi tetap harus mengurus orang tua yang kembali jadi dependent.

Semoga kelak saya bisa mengurus orang tua kami (mama & the in laws) dengan baik. Meskipun sulit, tetapi mengingat mereka dulu juga bersabar terhadap kami yang baru tumbuh, masih tergantung penuh, cerita berulang-ulang saat balita, jadi anak pemberontak ketika remaja, dan jadi anak yang sibuk ketika dewasa. Semoga kami dikaruniai kesehatan dan kemampuan mengurus mereka. Amin.

Cukup melankoli-nya. Sekarang back to the topic : MAKANAN. Hahahaha, jadi pas disebelah rumah Yangti, ada lahan kosong yang ternyata adalah lahan parkir untuk sebuah warung yang luar biasa ramai. Parkiran itu hampir tidak pernah kosong kalau warung tersebut buka. Warung apa coba?

p_20151226_194453.jpg
Ah, maafkan kecupuan saya mengambil gambar

Yap, Warung Bakmi Jowo Mbah Gito. Gileee.. ini penuh banget lho. Bangunannya cukup unik meskipun sempitttt.. hahaha, fondasinya dari kayu semua. Malam itu, kami akhirnya memutuskan untuk makan disitu, untung tinggal ngesot jadi ga pusing cari parkir yang puenuh banget.

Selain bangunannya unik, warung ini juga didekor ala rumah jawa jaman dulu, dana ada beberapa benda seni yang terpajang. Menjelang malam pun mulai terdengar karawitan yang disenandungkan oleh para seniman.

p_20151226_190728.jpg
Nah, itu meja kami dibelakangnya ada jejeran wayang kulit (abaikan om & tante saya yang jadi model tanpa sepengetahuan mereka :p )
p_20151226_194352.jpg
Itu keliatan kah dibelakang kita ada sejejeran alat musik? Nah itu tempat manggungnya karawitan (abaikan pantulan cahaya dan modelnya)
p_20151226_194251.jpg
Ini daftar menu & harganya, murce ya.. Pokoknya ruame pol

Sebenarnya ada 2 lantai (semuanya dari kayu, tiang penyangganya juga), tetapi lantai 2 sudah direserved oleh rombongan dari jekardah. Oh ya, kami pesan bakmi godhog, bakmi goreng, rica ayam, wedang uwuh (ga ada di menu di gambar atas), dan jahe gepuk. Saya ga foto makanan karena malu sama Om & Tante saya, hahahahaha. Rasa bakminya menurut saya biasa saja, kembali ke selera. Ayam ricanya pedas manis tapi lebih dominan manis sampe saya bingung karena harusnya pedas kan yaaa? ini mah emang masalah selera orang Yogya yang demen banget manis deh makanan & minumannya. Intermezo : Iseng saya tanya Tante saya menghabiskan berapa kilo gula sebulan, jawabannya 8 kilo booo…cuma buat 6 orang, dan cuma buat bumbu masak & minum teh. Aih, kebayang kan betapa manisnya teh dirumah Tante saya, hahahaha.

Yang unik adalah rasa minumannya. Ada wedang uwuh. Uwuh sendiri artinya sampah, karena minuman ini dibuat dari berbagai bahan dan daun jadi ntah kenapa disebut uwuh. Warna minuman ini merah karena salah satu bahannya adalah kulit kayu secang yang bisa menimbulkan warna merah. Rasanya cukup enak menurut saya, kaya rasa dan hangat juga (karena ada jahenya) meskipun tetep agak kemanisan bagi lidah saya. Selain itu, kami juga pesan jahe gepuk. Ini enakk..jahe utuh digeprak, dituang air panas dan susu, jadinya hangat..

p_20151226_191210.jpg
Ini jahe gepuk punya saya

Selesai makan, kami buru-buru bayar & pulang karena antrian sudah tambah banyak. Ini nih ga enaknya makan di tempat rekomendasi banyak orang, antriannya bikin makan jadi ga tenang kecuali kita cuek banget sama orang lain. Hahahaha.

Kami pun pulang untuk siap-siap subuhnya harus kembali ke Bogor. Sedih deh liburan segera berakhir, tapi panggilan untuk “mencangkul” sudah berbunyi. Sampai jumpa lain kali Yogya.

Sudah, begitu saja..hahahaha..

 

Yogyakarta 2

Selamat tahun baru semua, semoga tahun 2016 ini membawa berkat dan lebih banyak syukur dari kita. Untuk postingan pertama di tahun 2016, akan dibuka dengan kelanjutan tentang liburan kemarin, biar senengnya masih terasa :mrgreen:

Yup, dengan singkatnya waktu liburan di Yogya (hanya dari 23 s.d 27 Des 2015) dan banyaknya keluarga yang harus dikunjungi maka hanya sedikit sekali waktu yang tersisa untuk jalan-jalan. Bye alun2, bye Goa Pindul, bye Candi Prambanan, bye Candi Borobudur, byeee…ga ada kunjungan ke tempat2 wisata, bahkan taman pintar pun nggak 😂. Setelah di hari Natal saya terkapar dan sorenya ke Monjali, besoknya diawali pindah tempat menginap. Pagi2 buta, Yangti sudah sibuk membangunkan Mama untuk pulang ke rumahnya yg masih di daerah kotagede. Seminggu kemarin, Yangti memang tidur dirumah Tante saya yang merayakan Natal, karena sehari-hari dirumahnya Yangti tinggal dengan Tante saya yang merayakan Lebaran. Demi kemudahan tamu mengunjungi, akhirnya Yangti menginap saja di rumah Tante yang kemarin juga jadi tempat menginap kami.

Ini salah satu highlight saya berlibur ke Yogya. Saya senang sekali dengan suasana rukun, akrab, mendukung, kekeluargaan, diantara Tante2 saya yang berbeda keyakinan. Mereka saling support dalam mengurus Yangti. Pun berbeda keyakinan, Tante saya yang Muslim tetap menghormati keyakinan Yangti, tetap terbuka menerima kebaktian yang sesekali diadakan dirumahnya, bahkan membantu memasak jika ada kebaktian :mrgreen:, begitu sebaliknya jika ada pengajian, Tante yg Kristen juga membantu. Adeemmm liatnya.

MALIOBORO

Setelah angkut barang dan haha-hihi dengan semua keluarga yang berkumpul, saya, Pak B, & B pamit untuk mengunjungi sepupu Pak B yang kuliah di Yogya. Kami jemput J dari asrama kampus dan diantar ke Malioboro.

image
Gaya apa itu, B?

Hahaha, sudah diingatkan akan macet total tapi tetap nekat karena “masak ke Yogya tapi ga mampir ke Malioboro?”. Modal nekat kami kesana, ceritanya mau ke Pasar Beringharjo buat beli oleh-oleh, ndilalah setelah sampai dan susah payah cari parkir, ga nafsu masuk ke pasar karena isinya oranggggggg dimana-mana. Hahaha, mana panas pulak, karena kami sampai sekitar jam 11.00. Lalu bagaimana? Daripada bingung, sudahlah kami memutuskan untuk masuk ke Hamzah Batik (Mirota Batik) karena seingat saya, teman saya yang orang Yogya pernah menyarankan tempat ini. Masuk ke Mirota, ya ampunn puenuh juga, tapi mendinglah ber-AC. Di pintu masuk, ada peringatan tentang copet, tadi waktu kami parkir juga diingatkan tentang copet sama mas parkir, jadi parno, dikekeplah tas dan dompet yang isinya tak seberapa itu 😅.

Di Mirota sendiri, banyak barang unyu dan oleh2able, suasananya cukup etnik dan begitu masuk disambut bau dupa. Ada Bapak2 tua yang main (sepertinya) celempung. Dia asik bermain dan tidak terganggu dengan keriuhan sekitar. Ada stand khusus Jamu juga tapi kami skip karena panjang aja antriannya. Kami langsung naik ke lantai 2 yang jual berbagai pernak pernik, pajangan, kipas, tas, dompet, sampai lukisan. Pokoknya beragam sekali dan bikin galau yang mau beli. Harga juga variatif, dari yang under 10000 sampai Jut-jutan 😁. Setelah galau milih dan dipelototin Pak B, akhirnya saya sudahi belanja saya dan menyerahkan pada dia yang bertugas mengantri di kasir dan membayar.

image
Keliatan ga tulisannya? Mungkin ada yang patah hati :mrgreen:

Turun kebawah, saya menyempatkan beli lanting merk raminten yang satu grup dengan Mirota batik.
Kios oleh2nya sempitttt tapi penuhhh..cukup lengkap, ada bakpia beemacam rasa, lanting, yangko (yang sayangnya sedang habis), dan berbagai oleh2 khas Yogyakarta

RESTO MERAPI

Setelah selesai belanja, kami kelaparan dan kehausan. Sebenarnya tergiur dengan nasi pecel pinggir jalan, tetapi ga mungkin mampir karena bawa bocil. Emak-bapaknya mah perutnya udah kebal, cuma ga berani ambil resiko kalau menyangkut perut si bocil :mrgreen:.

Capcus lah kami putar-putar cari tempat makan. Tadinya kami pikir, akan makan di The House of Raminten di daerah gondokusuman. Pak B pernah berkunjung ke sini, katanya suasananya unik, lagi2 etnik. Tapi kami kalah kuat tekadnya melihat parkiran mobil yang sudah meleber kemana2. Hahahaha, kami putuskan untuk melipir ke Resto Merapi kotabaru (seberang SMA 3 Yogya). Cari-cari info di mbah gugel tentang resto ini malah bingung, katanya pake resep Bu Sisca Soewitomo, tapi fotonya beda..hahahaha.

Saya pesan Buntut Bakar, Pak B pesan Nasi Pecel komplit, J pesan Ayam Resto Merapi (sejenis ayam kremes tampaknya).

image
Rasanya enakk.. B doyan, buntutnya juicy, lembut tapi masih ada kenyal khas buntut, kuahnya lumayan segar, sayang nasinya sedikit. Saya jadi tambah nasi ūüė≥

Minuman kami semuanya blended coffee & latte (lupa apa aja, kayaknya sih saya Cookies, Pak B apa ya? 😮 , J green tea latte). Rasa minumannya sih standar aja, kebanyakan es..hahaha.

image
Saya, B, dan Tante J

Setelah makan, mengantar J balik ke asrama, say goodbye dengan J, kami pun pulang ke rumah Yangti. Hah..baru segini, saya sudah ngos2an nulisnya. Hehehe..

Sekian dulu dan akan dilanjut ke part 3 ( semoga niatnya tak luntur 😆 )

Sekali lagi, hapi nyewyir everiwan!