Yogyakarta 3

Demi apa liburan singkat dan ga kemana-mana ini bisa jadi 3 seri ? 🙂 Ini mah karena saya ga  belum terbiasa menulis panjang. Jadilah 3 seri Yogyakarta. Ini cerita lanjutan dari cerita kemarin, masih tentang makanan. Pulang dari Malioboro & Resto Merapi, kami kembali berbincang-bincang dengan seluruh keluarga di rumah Yangti.

img-20151226-wa0023.jpg
Ini dia Yangti yang jadi alasan utama kami ke Yogya. She’s 90 years old and still healthy. Cuma matanya sudah agak rabun, dan sedikit pikun meskipun masih mengenali anak-cucu-buyut. Dia juga masih nyuci baju sendiri (karena ga mau dicuciin orang). Pokoknya she’s rock.

Sedikit cerita tentang Yangti saya, saya terenyuh sekali beliau masih mengenali saya saat saya tiba. Sudah 90 tahun tapi masih bisa jalan sendiri merupakan suatu prestasi menurut saya, apalagi mengingat beliau masih makan tongseng sampai sekarang X). Meskipun sekarang sering mengulang cerita dan agak pikun (mulai disorientasi waktu pagi-malam), tapi kami masih bisa berkomunikasi. Dulu, beliau ini petani & pedagang, istri pak lurah. Setelah Yangkung meninggal (th.1981) beliau masih harus berjuang menyekolahkan 2 anak terakhir (Om & Tante saya) dan she was made it. Om & Tante saya sukses jadi Sarjana. Maka waktu papa meninggal (th.2012), beliau yang menguatkan mama untuk tetap tegar. Dia bilang “aku saja bisa, kamu juga pasti bisa. apalagi anakmu sudah hampir jadi yang terakhir (adik saya tk.2 kuliah)”.

Saya salut juga dengan Om & Tante saya yang tinggal bersama Yangti. Meskipun masih tergolong sehat, mengurus orang seumur Yangti tetap tidak mudah. Adakalanya menangis sendiri tanpa sebab, adakalanya ingin buang air kecil tapi linglung ke kamar mandi & tidak tahan akhirnya b.a.k di ruang keluarga, adakalanya terbangun jam 1 pagi, jam 2 pagi, jam 3 pagi untuk minta makan. Adakalanya ingin mengobrol dan ceritanya diulang, diulang, diulang (multiply 1000X). Adakalanya marah tidak jelas. Pokoknya butuh kasih sayang, kesabaran, dan keikhlasan yang besarrr. Terdengar mudah, tapi saya yakin tidak karena orang muda biasanya masih punya banyak urusan yang harus diurus diluar, sehingga lelah tapi tetap harus mengurus orang tua yang kembali jadi dependent.

Semoga kelak saya bisa mengurus orang tua kami (mama & the in laws) dengan baik. Meskipun sulit, tetapi mengingat mereka dulu juga bersabar terhadap kami yang baru tumbuh, masih tergantung penuh, cerita berulang-ulang saat balita, jadi anak pemberontak ketika remaja, dan jadi anak yang sibuk ketika dewasa. Semoga kami dikaruniai kesehatan dan kemampuan mengurus mereka. Amin.

Cukup melankoli-nya. Sekarang back to the topic : MAKANAN. Hahahaha, jadi pas disebelah rumah Yangti, ada lahan kosong yang ternyata adalah lahan parkir untuk sebuah warung yang luar biasa ramai. Parkiran itu hampir tidak pernah kosong kalau warung tersebut buka. Warung apa coba?

p_20151226_194453.jpg
Ah, maafkan kecupuan saya mengambil gambar

Yap, Warung Bakmi Jowo Mbah Gito. Gileee.. ini penuh banget lho. Bangunannya cukup unik meskipun sempitttt.. hahaha, fondasinya dari kayu semua. Malam itu, kami akhirnya memutuskan untuk makan disitu, untung tinggal ngesot jadi ga pusing cari parkir yang puenuh banget.

Selain bangunannya unik, warung ini juga didekor ala rumah jawa jaman dulu, dana ada beberapa benda seni yang terpajang. Menjelang malam pun mulai terdengar karawitan yang disenandungkan oleh para seniman.

p_20151226_190728.jpg
Nah, itu meja kami dibelakangnya ada jejeran wayang kulit (abaikan om & tante saya yang jadi model tanpa sepengetahuan mereka :p )
p_20151226_194352.jpg
Itu keliatan kah dibelakang kita ada sejejeran alat musik? Nah itu tempat manggungnya karawitan (abaikan pantulan cahaya dan modelnya)
p_20151226_194251.jpg
Ini daftar menu & harganya, murce ya.. Pokoknya ruame pol

Sebenarnya ada 2 lantai (semuanya dari kayu, tiang penyangganya juga), tetapi lantai 2 sudah direserved oleh rombongan dari jekardah. Oh ya, kami pesan bakmi godhog, bakmi goreng, rica ayam, wedang uwuh (ga ada di menu di gambar atas), dan jahe gepuk. Saya ga foto makanan karena malu sama Om & Tante saya, hahahahaha. Rasa bakminya menurut saya biasa saja, kembali ke selera. Ayam ricanya pedas manis tapi lebih dominan manis sampe saya bingung karena harusnya pedas kan yaaa? ini mah emang masalah selera orang Yogya yang demen banget manis deh makanan & minumannya. Intermezo : Iseng saya tanya Tante saya menghabiskan berapa kilo gula sebulan, jawabannya 8 kilo booo…cuma buat 6 orang, dan cuma buat bumbu masak & minum teh. Aih, kebayang kan betapa manisnya teh dirumah Tante saya, hahahaha.

Yang unik adalah rasa minumannya. Ada wedang uwuh. Uwuh sendiri artinya sampah, karena minuman ini dibuat dari berbagai bahan dan daun jadi ntah kenapa disebut uwuh. Warna minuman ini merah karena salah satu bahannya adalah kulit kayu secang yang bisa menimbulkan warna merah. Rasanya cukup enak menurut saya, kaya rasa dan hangat juga (karena ada jahenya) meskipun tetep agak kemanisan bagi lidah saya. Selain itu, kami juga pesan jahe gepuk. Ini enakk..jahe utuh digeprak, dituang air panas dan susu, jadinya hangat..

p_20151226_191210.jpg
Ini jahe gepuk punya saya

Selesai makan, kami buru-buru bayar & pulang karena antrian sudah tambah banyak. Ini nih ga enaknya makan di tempat rekomendasi banyak orang, antriannya bikin makan jadi ga tenang kecuali kita cuek banget sama orang lain. Hahahaha.

Kami pun pulang untuk siap-siap subuhnya harus kembali ke Bogor. Sedih deh liburan segera berakhir, tapi panggilan untuk “mencangkul” sudah berbunyi. Sampai jumpa lain kali Yogya.

Sudah, begitu saja..hahahaha..

 

Advertisements

2 thoughts on “Yogyakarta 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s