Simple Yet Sweet

Pagi ini hujan deras di Bogor, bikin berangkat kerja jadi lebih berat dua kali lipat dibandingkan biasanya. Kalau boleh milih mah, ingin goler-goler di tempat tidur sepanjang pagi yang berhujan, ingin kruntelan bareng B seharian, tapi ingat kerjaan menumpuk jadilah harus dipaksa mengangkat badan dari tempat tidur. Masa adaptasi di kantor saya sekarang cukup menguras emosi dan tenaga saya setahun belakangan, bahkan meskipun telah lewat setahun seringkali tetap muncul perasaan “i’m not belong here”. Dan di pagi hari ini, itulah yang menyerang hati saya yang lemah. Bukannya saya tidak bersyukur masih bisa bekerja di tempat yang baik, tapi ya itu tadi, hati saya lemah.

Dengan menyeret rasa tanggung jawab yang masih tertinggal dalam diri saya, saya pun berangkat ke kantor dengan perasaan sendu. Terlambat pula, karena macet, padahal saya sudah berangkat 20 menit lebih awal. Sigh. (bagaimana?sudah cukup membuat frustasi belum bacanya? :D) Hahaha.. Tapi Tuhan memang baik sekali, dia mengirimkan penghiburan buat saya melalui cara yang tidak terduga.

Jadi pagi ini saya mendapat telepon spesial di kantor dari seseorang yang tak pernah saya pikir akan menelepon saya. Yang menelepon saya pagi ini ke kantor itu salah satu bos saya di perusahaan lama, Pak J namanya. Shock, karena sebenarnya saya tidak pernah dekat dengan Pak J tapi saya memiliki kesan yang sangaaaatttt baikkk sama beliau. Orang yang rendah hati, berusaha mengingat orang secara personally bahkan dengan bawahan yang jauh levelnya di bawah dia seperti saya, beliau juga tenang pembawannya dan religius (bukan sekedar beragama, tapi tidak fanatik). Perlu bertingkat-tingkat lapisan bagi level saya untuk berurusan dengan Pak J ini.

Dia bercerita, kalau salah satu kenalan dia adalah salah seorang supplier yang pernah berhubungan dengan saya, Pak I namanya. Memang entah kenapa waktu itu, kami jadi membahas perusahaan saya kerja dulu dan sampailah pada Pak J. Saya spontan memuji beliau dan ternyata disampaikan oleh Pak I ke Pak J. Beliau menelepon saya hanya untuk bilang “Terima kasih ya atas apresiasi kamu, itu berarti buat saya”. Saat mengetik ini, saya berkaca-kaca lagi. Dia hanya menelepon untuk bilang terima kasih untuk pujian yang memang sangat pantas dia dapatkan, dan saya yakin banyak orang yang juga memuji dia begitu. Tindakan sederhana, tapi sungguh manis dan mengena.

Saya bersyukur beliau menelepon pagi ini, mengingatkan saya tentang penghiburan Tuhan bisa datang dengan cara yang sangat kreatif. Saya juga diingatkan, mungkin seberapa sederhana kebaikan yang kita lakukan dengan tulus bisa mencerahkan hati seseorang yang sedang gelap sekalipun. I’m forever grateful for this morning phone call from Pak J. Semoga Pak J sehat selalu, diberkati keluarganya, dan tetap jadi pribadi tang rendah hati.

Advertisements

12 thoughts on “Simple Yet Sweet

  1. bacanya juga bikin ati anget ya mbak πŸ˜€
    beneran deh pagi ini ngantor perjuangan banget. rumah-kantor sebenernya cuman 15 an menit. tapi pagi ini aku telat hampir 15 menit. saking macetnya πŸ˜€

    Like

  2. Padahal sepele yah, cuma panggilan telfon aja, tapi niat yang tulus akan selalu terasa di hati yah…
    Dirimu waktu muji pak J dulu pastilah tulus, sehingga dia pun setulus hati ngucapin terima kasihnya :))

    Buatku sendiri, membaca semua komentar di blog yang dituliskan dengan setulus hati itu bagaikan menerima uluran tangan persahabatan gitu lho, dan seringkali membuat mood ku jadi baguus :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s