Diet Kantong Plastik

Iya, saya baca kata-kata ini di kasir mini market yang biasanya selalu sebelahan atau sebrangan sama mini market lainnya bernama al*amart. Udah denger gaungnya beberapa hari ini sih mengenai plastik dari mini market yang tadinya gratis jadi berbayar. Sebagai emak-emak, yang saya pikir pertama kali adalah duh gimana ini buat plastik pelapis tempat sampah yang biasanya dikumpulin dari hasil belanja di mini market atau di -notsomini- market. Etapi abis itu dipikir2 yaudah, saya mah setuju-setuju aja sama kebijakan ini karena lumayan kan buat mengurangi sampah plastik yang konon susah terurai itu. Toh, kalo di mini market harus bayar ya 200 perak per lembar doang bok. Sekarang mah ngasih 200 perak ke pak ogah atau pengamen bisa dilempar balik tuh koin. Padahal saya mah masih demen ngumpulin 200 perak ini.

image

Ada yang bikin saya gatel pengen nulis postingan ini yaitu *lagi-lagi* share viral status seorang bapak (catet : BAPAK2 bukan remaja alay) yang merasa dizalimi dengan kebijakan ini. Di status itu dia bilang dia merasa dizalimi kenapa harus bayar kantong plastik sementara banyak produk-produk lain yang menggunakan plastik tidak dilarang. Dia ambil contoh sabun cuci piring s*nlight yang pake plastik tebal. Trus ujung-ujungnya nyuruh pemerintah urusin aja Sin*rmas yang disebut-sebut jadi dalang pembakaran hutan beberapa waktu lalu daripada bikin kebijakan plastik berbayar.

Dan lebih epic lagi komentar-komentar yang muncul mendukung pernyataan beliau dan membabi buta (babi, maafkan aku yang membuta-butakan kamu) mengkritik pemerintah. Konteksnya bukan plastik lagi tapi udah melebar, memanjang, meninggi kemana-mana. Huhh, lelah saya bacanya, lelah ketawa maksudnya. Huahahahaha.

Ini orang kenapa negative aja sik bawaannya.
Pertama, menurut saya ini sebenarnya gerakan mengajak kita SADAR akan dampak penggunaan plastik yang berlebihan, tapi dia membuatnya seolah-olah ini bentuk ketidakadilan yang super parah yang dilakukan pemerintah yang zalim.

Kedua, itu bapak-bapak protes dan marah-marah ke penjaga mini market yang mana ga punya wewenang buat dia gratisin atau bayar plastik yang diberikan. Jangan-jangan, gara-gara dia ga mau bayar, penjaga mini market itu yang bayarin.

Ketiga, dia mengancam ga mau belanja di indomar*t lagi kalo harus bayar, atuh siapa suruh dia belanja di sana ya, harusnya ya Pak, belanja aja di pasar, ato sekalian nanam di kebun sendiri, bikin minyak sendiri, bikin sabun sendiri, bikin apa2 sendiri biar ga ngerasa di zalimi orang, kan bikin sendiri semua.

Keempat, ni bapak jago banget ngalihin issue, segala sin*rmas dibawa, s*nlight diomongin, minyak goreng diprotes, padahal sebenarnya dia sendiri yang tidak mau berubah dimulai dirinya. Sungguh, saya juga tidak senang jika ada perusahaan2 yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan tidak mau bertanggung jawab terhadapnya (Tidak semua perusahaan begitu ya). Tapi paling tidak saya mau mulai berubah dari diri sendiri. Semoga dengan saya sendiri mengurangi penggunaan plastik, ada dampak positif yang dihasilkan.

Setahu saya, Indonesia juga bukan negara satu-satunya yang ada kebijakan begini, cenderung terlambat malah. Semoga saja, ke depannya pengelolaan sampah dan isu-isu lingkungan bisa ditangani dengan lebih profesional dan niat. Dimulai dari mengurangi plastik.

Dan buat istri si bapak yang marah-marah : Bu, suaminya tolong diajak piknik, rekreasi gitu biar pikirannya fresh sedikit.

Advertisements

15 thoughts on “Diet Kantong Plastik

  1. aku dulu alumni sin*rmas mbaa.. mana di sawitnya pulak *trus aku merasa berdosaaa πŸ˜€
    toss mba, aku juga mikirinya sampah aku gimana iniiih?
    solusinya: belanja pake tas ikea gede sama beli plastik sampah aja deh πŸ˜€

    Like

  2. Setuju memang kita harus mengurangi sampah plastik mba, bahaya untuk generasi mendatang. memang masalah kebiasaan prilaku aja sih lama kelamaan akan terbiasa kok.

    Dan kita juga nggak ada pabrik daur ulang ya.. seperti kertas, botol, kaleng dll padahal resourcenya khan dari alam kita sendiri. Memang kita harus banyak berbenah ya mba..

    Wah jadi pingin posting kayak gini juga nih, di sini kami belanja harus bawa tas/kantong sendiri, kalo nggak bayar lumayan untuk tas plastiknya.

    Like

  3. Lucu yaaahh si bapak-bapak tadi, maksut nya plastic disini kan limbah nya susah terurai, jadi kita bisa mulai dari hal2 kecil, kesadaran pribadi aja sih kalo menurut aku. Seperti awalnya kan pakai kertas dengan bijak, nah ini baru lagi, pakai plastik dengan bijak. ya kalo gak suka ya gak usah. gitu aja koq repot *kata alm.Gusdur* Kalo mau cari siapa yang salah sih gak ada habisnya, kenapa gak nunjuk diri sendiri dlu. Ya gak sih?
    Btw, aku skrg kerja di perusahaan si sabun cuci piring itu, hihihiihi…

    Like

    1. Mbaknya..waduhh..tadi mbak santi alumni sin*rmas, mbak lita di u*il*v*r bukan? Main tebak2an..haha..aku mah sesama anak pabrik, makanya keki dia nunjuk2 sembarangan, krn setauku utk waste treatment limbah ini aja bayarnya bisa milyaran bokk, dan banyak perusahaan yg mengikuti aturan juga, belum program2 CSRnya. Dia mah nuduh2 gaje, padahal jangan2 dia yg sering buang sampah plastik sembarangan.

      Like

  4. Yap, yang seperti ini udah bagus. udah cukup kasihan sama lingkungan kita yang tercemar akibat plastik. moga langkah awal ini bisa terus berlanjut πŸ™‚ bapak itu dan rekan sepikirannya yang jadi tantangan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s