Pillow Talk

Asik banget ga sih judulnya? Terbayang dong ya ngobrol manis manja di kasur sama pasangan sebelum tidur, romantis pasti. Tapi kali ini pillow talk saya dengan Pak B sama sekali tidak ada romantis-romantisnya karena percakapan kami yang agak diluar kebiasaan. Beginilah kurang lebih percakapan kami beberapa waktu lalu :

P : Bang B (bukan bang becak, bang bakso, dan bang-bang yang lain), kalau aku meninggal duluan, kamu bakal nikah lagi ga?

–hening–
–hening–

P : Ih, denger ga sih pertanyaan aku?
–terdengar helaan nafas, trus saya ditoyor–
B : Ngomong apa sih kamu malem2? Ngelindur ya
P : Gak kok, aku serius
B : Kamu sendiri gimana? Kalo aku meninggal duluan, kamu bakal nikah lagi ga?  (Kebiasaan banget ni orang balik2in omongan)
P : Ga tau, tergantung umur aku waktu itu –> ditoyor lagi sama Pak B
B : Cepet amat jawabnya, kalo aku nggak, aku gak bakal nikah lagi. Cukup bareng B (anak kami) aja.
P : –Speechless, diam2 ngerasa bersalah–

Kenapa sih saya tiba-tiba ngomongin hal ini? Karena beberapa waktu belakangan kesehatan saya kurang baik, sudah ke dokter tapi belum pemeriksaan lebih lanjut. Iya, saya mengalami beberapa pendarahan, di mulut, di bagian bawah tubuh, tiba-tiba berdarah tanpa rasa sakit atau luka. Karena kebanyakan googling dengan gejala seperti saya, saya ketakutan sendiri. Hahaha. Selain itu, beberapa waktu lalu kakak sepupu saya tiba-tiba divonis sakit lupus setelah berbulan-bulan mencari diagnosa karena kondisi yang melemah. Shock dengernya, tapi untungnya dia tetap semangat.

Yap, sebenarnya kematian itu hal yang pasti dalam kehidupan manusia, tapi seringkali kita enggan untuk membahas hal ini. Seperti Pak B yang butuh hening, helaan nafas, dan toyoran buat saya sebelum membicarakan hal ini. Saya pun dulu begitu, terutama 2 bulan setelah papa meninggal. Saya tidak mau membicarakan kematian, takut semua hal-hal yang diluar kebiasaan menjadi pertanda, sampai 2x dirawat dirumah sakit karena psikosomatis kata dokter. Tapi setelah konseling dan membaca buku C.S Lewis ( A grief observed), untungnya saya pulih dan merasa lebih baik.

Nah, tetapi namanya manusia tetaplah takut dengan kata kematian. Karena artinya kita memasuki dimensi baru yang belum pernah kita tau secara pasti sebelumnya seperti apa. Kita hanya mengimani (bagi yang percaya dengan kehidupan setelah kematian) bagaimana kondisinya nanti. Tapi yang pasti, kita akan terpisah selama-lamanya dengan orang-orang yang kita sayang selama di dunia. Apalagi setelah saya menjadi Ibu, hanya membayangkan terpisah dengan buah hati saya rasanya sakit di hati kayak kegores2 pisau. Mungkin hal itu yang membuat kita menaruh kematian jauh-jauh dari percakapan keseharian kita.

Bagaimanapun, ada baiknya kita brain storming tentang hal ini, agar bisa evaluasi cara hidup. Bagi yang percaya dengan kehidupan setelah kematian (saya percaya dan mengimani), tentu kita berpikir bagaimana menyiapkan diri mengahadapinya, bagi yang percaya kematian adalah akhir segalanya, paling tidak kita juga harus berpikir bagaimana kita ingin dikenang didunia ini, apakah kita hidup sia-sia atau tidak.

Duh, bahasannya jadi serius sekali ya..Hehehe..Apa pillow talk terakhirmu? 😉

Advertisements

10 thoughts on “Pillow Talk

  1. Eww.. mbak Pit, pillow talk jangan kek gitu aahh.. Semoga sehat2 selalu yaa, jauh2 deh dari penyakit2 apa lah itu namanya *hug*
    Pillow talk terakhir aku? aaahhh, udahh lupaa, hehehe, udah lama gak ngobrol sebelum tidur, ritual biasanya kalo anak udh bobo, ya emaknya cari kesibukan sendiri, lama2 ngantuk deh…. hehehe…

    Like

  2. Mba Pipit.. Semoga sehat selalu, ya … Ayo dikalahkan rasa takutnya, periksa lebih lanjut. Apapun sakitnya, kalo diagnosa lebih awal, inshaaAlloh chance kesembuhan lebih besar. Adek aku berpulang karena leukemia, mba. Seandainya terdiagnosa lebih awal, mungkin adek masih ada 😦

    Like

  3. Kadang hal tabu untuk dibicarakan sebenernya penting ya untuk didiskusikan 🙂

    Pillow talk kita tadi malam mengenai rencana masa depan, pengen pindah ke negara mana gitu kalau pensiun nanti 🙂

    Like

    1. Setuju mbak, karena itu ga ada salahnya sesekali dibicarakan. Menurutku, salah satu yg bikin semakin dekat dengan pasangan ya pembicaraan seperti itu.

      Ah, iya, rencana setelah pensiun..pengen banget pindah ke desa klo kami ato traveling berdua sering2..

      Like

  4. Waduh mbak Pit tulisannya &#+@%”$ banget. Mana saya bacanya pas lg nyantai.. Jadi langsung kepikiran.

    Saya pernah googling juga soal gejala2 penyakit yg ada di tubuh, jadi parno sendiri klo ternyata kita emang mengidap itu. -_-
    Udah ah, berdoa aja berharap segala kebaikan Tuhan. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s