Beras..beras apa?

image

Sungguh, ini bukan curhat. Tapi saya geli aja denger jokes ini dari penyiar radio yang tadi pagi saya putar. Sebenernya pas dia ngeluarin jokes ini, kondisinya ga lucu sama sekali karena ternyata yang telepon ke radio itu baru putus sama (mantan)pacarnya, tapi akhirnya si penelepon ketawa juga denger jokes garing ini. Maafkan saya mbak penelepon, saya bukannya ikut empati sama mbak yang baru putus cinta tapi malah ikut tertawa, tapi bukan ngetawain mbak lho ya..

Yup, denger jokes ini banyak yang ngerasa related dengernya. Karena apa? Karena banyak orang yang ngerasain hal ironi seperti ini. Waktu masih pacaran, berantem terus sampe akhirnya putus. Tapi setelah putus, kangen terus sampe pengen balikan.

Dan kebanyakan yang baper kayak gini ya cewek yaa 👈 nunjuk diri sendiri jaman muda dulu. Why oh why? Analisa saya sih ada beberapa hal, tapi ini cuma dari pikiran saya yang setengah on di tengah malam ini.
1. Saat bilang putus, kebanyakan cewek dalam kondisi emosional. Ga logis, kadang-kadang ga ngerti alasan esensinya apa. Bamm..! Setelah putus dan akal sehat balik, biasanya yang tersisa ya penyesalan karena sebenernya masih sayang, tapi emosi bikin keputusan.
2. Mungkin putusnya terpaksa. Bisa jadi ortu ngelarang karena masih sekolah, atau beda strata sosial (sinetron abis), atau beda agama. Ada yang bilang, LDR paling jauh itu bukan beda benua tapi beda rumah ibadah. *intermezo*. Jadi sebenernya masih pengen sayang2an, tapi kondisi tidak memungkinkan. Hiks. Tragis nih yang begini.
3. Rasa kompetitif yang tinggi. Hahaha. Ga rela kalau mantan pacar move on duluan. Kerjaannya jadi stalking medsosnya, liat dia upload foto bareng cewek lain jadi galau, mention cewek lain jealous, apalagi sampai ganti status di medsos. Aih, kebakaran jenggot. Gara-gara stalking, jadi sering ngeliat mantan trus mungkin aja jadi muncul perasaan yang dulu-dulu. Karena sepertinya saat pedekate (yang diawali dari stalking biasanya) lebih bikin deg2an kan daripada waktu pacarannya?
4. Kayaknya, banyak cewek yang senang menghabiskan waktu untuk berkhayal. Jadi kenangan2 manis yang dulu dibuat bersama mantan muncul terus dalam khayalan kita. Ntah kenapa biasanya, kejadian2 buruk biasanya kalah sering munculnya dari yg manis2. Kenangan akhirnya bikin kita ngerasa masih sayang sama mantan.
5. Berada di lingkungan, circle, pertemanan yang sama. Jadi kesempatan interaksi sama mantan juga tinggi. Jadi sulit move on.

Apakah saya pernah mengalami seperti jokes diatas, seinget saya sih..SERING. Hahaha. Banyak mantan soundtracknya itu Mantan Terindah.  Padahal seharusnya kalau awalan ter itu hanya 1, ga boleh ada banyak.

Haha, warna-warni masa remaja. Kira-kira ada alasan apa lagi ya yang bikin orang sulit move on? 😛

Boyband

Bukann..saya bukan penggemar boyband kekinian yang menggemparkan wanita-wanita saat salah satu personilnya keluar. Saya tidak semuda itu (pengakuan). Tapi saya jaman dulu juga adalah penggemar boyband kekinian pada masanya. Pada masa saya menyukai boyband, terlintaslah nama Backstreet Boys dan Westlife (sebenarnya ada yang lain macam Nsync, Boyzone, 311, Blue, A1, 98 Degrees tapi yang paling nempel sama otak saya ya 2 itu). Semalam, ada acara di tv yang membahas 2 Boyband ini trus tiba-tiba saya kangen denger lagu-lagu mereka.

BACKSTREET BOYS

screenshot_2016-04-06-11-04-08_1.jpg
Maap ya Mang, mukanya di screen shoot pas lagi pada teriak semua..blur pula

Boyband ini terdiri dari 5 personil yaitu Nick Carter, Brian Littrell, Kevin Richardson, Howie Dorough, dan  A.J. McLean. Nah si mamang-mamang ini semua dulu tuh kayak yang bisa bikin cewek-cewek histeris kalo mereka nyanyi. Kalo saya pribadi demennya ngeliat si Kevin, ntah kenapa.

Saya mah meskipun alay pada masa itu, tapi suka boyband bukan karena wajah mamang personilnya tapi biasanya karena lagunya. Dimasa mulai belajar bahasa enggres yang sampe sekarang ga jago-jago, saya suka dengan lirik mereka dan nadanya yang easy listening (ya ofkorslah ya kalo dibanding band metal macam Korn).

Biasalah, anak abege kan suka menghubung2kan lirik lagu dengan kisah dirinya (apa sampe sekarang masih?) makanya saya suka dengerin lirik lagu yang gampang ini meskipun kadang ga ngerti dan menebak-nebak dari video klipnya. Hahaha.

Lagu Backstreet Boys yang masih terngiang-ngiang dan surprisingly masih bisa saya ikuti liriknya itu :

  1. As Long As You Love Me “I don’t care who you are, where you’re from, what you did as long as you love me”
  2. Shape of My Heart “Looking back on the things i’ve done, i was trying to be so hard, i’ve played my part and kept you in the dark..Now let me show you the shape of my heart”
  3. Drowning “Everytime i breathe and take you in, and my heart beats again..Baby ican’t help it you keep me drowning in your love”

Nah, dari lagu-lagu itu yang paling saya suka itu Shape of My Heart. Apa kabar mereka sekarang? Udah pada tua dong ya pastinya..hahaha..Tapi mereka masih awet-awet aja kayaknya, meskipun Kevin sempet keluar tapi balik lagi dan gelar konser lagi.

WESTLIFE

Nah..ini boyband masih lebih muda dari Backstreet Boys dan bukan dari Amerika tapi Irlandia.

screenshot_2016-04-06-11-12-51_1.jpg
Mendingan lah ya screen shootnya, mukanya keliatan semua

Boyband ini terdiri dari 5 personil juga, Shane Filan, Kian Egan, Nicky Byrne, Mark Feehily dan Brian McFadden. Yang ini menurut saya wajahnya lebih manis-manis dari personilnya BSB. Leadernya si Shane kayaknya ya, tapi saya lebih ngefans sama Mark. Di acara tv yang semalam saya tonton, mereka mulai debut di tahun 1999. Lalu otomatis saya menghitung. Bokkk, sudah 17 tahun yang lalu?? Perasaan belom lama deh saya nge-fans sama mereka –> lalu saya merasa sangat tuaaaaaaa…ancient. Tapi emang kalo diinget-inget lagi, dulu saya ngefans sama mereka waktu jaman SMP sih, lah sekarang udah punya buntut..Tapi tetep time is scary, ga kerasa tapi terlewat begitu aja.

Dan lebih gilanya, saya masih inget beberapa lagunya mereka yang lama. Mulai dari I have a dream sampai terakhir kayaknya I wanna grow old with you. Dari semua lagu mereka, saya paling suka Flying without wings. Kayaknya dengernya grande aja gitu (Grande? hahha..Megah deh maksudnya), kata-katanya juga bagus :
Everybody’s looking for that something
One thing that makes it all complete
You’ll find it in the strangest places
Places you never knew it could be

Some find it in the face of their children
Some find it in their lover’s eyes
Who can deny the joy it brings
When you’ve found that special thing
You’re flying without wings

Some find it sharing every morning
Some in their solitary nights
You’ll find it in the words of others
A simple line can make you laugh or cry

You’ll find it in the deepest friendship
The kind you cherish all your life
And when you know how much that means
You’ve found that special thing
You’re flying without wings

So impossible as they may seem
You’ve got to fight for every dream
‘Cause who’s to know which one you let go
Would have made you complete

Well, for me it’s waking up beside you
To watch the sunrise on your face
To know that I can say I love you
At any given time or place

It’s little things that only I know
Those are the things that make you mine
And it’s like flying without wings
‘Cause you’re my special thing
I’m flying without wings

And you’re the place my life begins
And you’ll be where it ends

I’m flying without wings
And that’s the joy you bring
I’m flying without wings

Okeh..sekarang saya mau sing along sama mereka sambil antepin youtube. Apakah saya doang yang pernah suka boyband? :p

4-4-4 Tahun Lalu

Setiap menjelang tanggal 4 April, saya selalu gelisah. Karena tanggal 4 di bulan 4 selalu membawa kenangan menyakitkan untuk saya. Dimulai di tanggal 4 bulan 4 , 4 tahun yang lalu pukul 4 pagi. Adik saya menelepon dengan suara tercekat “Kak, Papa masuk rumah sakit. Pulang Kak, di Rumah Sakit B*k*i Y*dh*”. Saya sebagai anak kos waktu itu, memang tinggal terpisah dengan orang tua meskipun hanya Depok-Bogor. Setengah sadar, saya hubungi atasan untuk minta izin tidak masuk kantor dan telepon Pak B yang waktu itu masih berstatus pacar “belum” direstui untuk mengantar saya ke Depok. Kenapa tidak telepon taksi, entahlah tapi feeling saya mengatakan saya akan butuh support Pak B untuk melalui hari itu.

Kami naik motor dari kosan saya di daerah Ciawi sana menuju ke Depok. Tapi baru mencapai seperdelapan perjalanan, adik saya telepon lagi untuk mengabarkan kalau Papa dipindahkan ke RS Fatmawati, dirujuk karena butuh cuci darah. Dang. Cuci darah? Separah itukah kondisinya? Bukannya hari minggu kemarin masih saya pijit dan hanya mengeluh sedikit kembung? Tapi hari ini (saat itu tanggal 4 April adalah hari Rabu) beliau butuh cuci darah? Dunia saya jungkir balik. Dengan terburu-buru saya minta Pak B mengantarkan ke RS Fatmawati, iya naik motor dari Ciawi ke Fatmawati jam 5 pagi.

Sampai di RS Fatmawati, langsung saya menuju ke IGD. Begitu melihat mama saya tetap tenang, saya sempat merasa sedikit rileks. Sampai mata saya menjumpai sosok Papa di IGD. Hati saya merosot ke perut, seperti tergerus oleh asam lambung, perih. Beliau tidak sepenuhnya tidak sadar, meskipun selang sudah dimana-mana dan dibantu alat pernapasan. Beliau terlihat kepayahan bahkan untuk menarik nafas singkat. Kata mama, paru-parunya terendam cairan. Melihat orang paling superior dalam hidup saya kelihatan seperti itu, entahlah rasanya campur aduk. Saya hampiri beliau, saya cium pipinya, dan saya merasakan sejenak saat saya cium, beliau tenang sekali.

Yang saya tidak mengerti sampai saat ini adalah bagaimana Mama bisa setenang itu melihat Papa dalam kondisi itu. Saya tahu pasti beliau khawatir luar biasa, tapi tidak panik sama sekali. Saya bersyukur, setidaknya ada yang waras dalam kondisi begitu, karena saya dan adik yang seharusnya menenangkan malah panik bukan main.

Dokter bilang, Papa saya masih menunggu antrian untuk cuci darah dan jikalau Papa selamat melewati cuci darah kali ini, beliau kedepannya harus cuci darah 4x seminggu. Parah sekali kondisi ginjalnya. Saat dokter menyampaikan hal itu, perasaan saya semakin ga karuan. Kalau Papa selamat.. Semakin sore, kondisi Papa semakin kritis, tekanan darahnya drop sampai 40/30. Menolak memikirkan kemungkinan terburuk, saya dan Mama berembuk mengenai rencana pengobatan Papa. Mulai dari cuci darah, alternatif, sampai rencana transplantasi ginjal.

Akhirnya tiba giliran Papa untuk cuci darah. Sekitar pukul 17.00, Papa dibawa ke ruang hemodialisa. Tapi Tuhan lebih sayang Papa. 40 menit cuci darah, tubuhnya menolak proses dan darahnya berbalik ke paru-paru sampai akhirnya pukul 18.10 beliau pergi menghadap Pencipta yang sangat dikasihinya. Terakhir saya ingat, saya menangis sejadi-jadinya di ruangan itu. Memanggil beliau supaya kembali lagi. Tapi tangannya sudah sedingin marmer. Papa sudah benar-benar pergi selamanya.

Setelah itu, hidup rasanya seperti mimpi. Saya dihantui dengan kematian kemana pun saya melangkah, 2x masuk rumah sakit karena psikosomatis, merasa ada yang salah dengan tubuh saya padahal saya sehat kata dokter. Tapi terlebih berat adalah rasa kehilangan sosok Papa.

Setiap sudut rumah mengingatkan saya pada Papa. Gelas yang biasa dia pakai, handuknya yang sudah gembel tapi senang sekali digunakan, sisi tempat tidur yang biasa beliau tempati, acara favoritnya di tv, kebiasaannya menggosok punggung pada tembok, baju-bajunya di lemari, bahkan saya masih ingat dengan jelas aroma tubuh beliau.

Saya juga merasa kehilangan supporter terbesar saya, penjaga saya nomor 1, polisi saya nomor 1, teman baik saya, teman bertengkar saya, cinta pertama saya. Saya menyesal sekali tidak banyak mengungkapkan betapa saya menyayangi beliau selama masih bersama.

Kata Mama, beberapa hari sebelum meninggal, Papa naik motor sendiri ke kampus saya, katanya mengenang saat dia mengantar saya tiap senin pagi ke kampus. Apakah itu pertanda? Jika iya, saya merasa terharu karena Papa pikir momen mengantar saya itu berharga baginya. Selain itu, Mama juga bilang kalau beberapa hari sebelum meninggal Papa juga menitipkan pesan kalau dia sudah merestui Pak B sebagai calon suami anaknya tapi masih terlalu gengsi untuk bilang pada saya. Ya, sebelumnya Pak B tidak diterima dengan tangan terbuka oleh Papa, tapi berkat kegigihannya (dan atas izin Tuhan), Papa akhirnya menerima juga. Seolah-olah sebelum dia meninggal, dia ingin membereskan urusan yang mengganjal.

Sekarang, 4 tahun sudah Papa merasakan kekekalan. Saya bersyukur dilahirkan menjadi anaknya, saya bersyukur untuk setiap omelan sayangnya, saya bersyukur dididik dengan ketegasannya, saya bersyukur Papa adalah Papa. Rindu ini masih sama besarnya Pa, bahkan Pipit masih menangis saat menuliskan ini. Tapi sungguh saya lega, Papa tidak merasakan sakit lagi dan sudah bahagia bersama Tuhan.

image
Papa, cinta pertama saya

Salam kangen pake banget,
Pipit.