4-4-4 Tahun Lalu

Setiap menjelang tanggal 4 April, saya selalu gelisah. Karena tanggal 4 di bulan 4 selalu membawa kenangan menyakitkan untuk saya. Dimulai di tanggal 4 bulan 4 , 4 tahun yang lalu pukul 4 pagi. Adik saya menelepon dengan suara tercekat “Kak, Papa masuk rumah sakit. Pulang Kak, di Rumah Sakit B*k*i Y*dh*”. Saya sebagai anak kos waktu itu, memang tinggal terpisah dengan orang tua meskipun hanya Depok-Bogor. Setengah sadar, saya hubungi atasan untuk minta izin tidak masuk kantor dan telepon Pak B yang waktu itu masih berstatus pacar “belum” direstui untuk mengantar saya ke Depok. Kenapa tidak telepon taksi, entahlah tapi feeling saya mengatakan saya akan butuh support Pak B untuk melalui hari itu.

Kami naik motor dari kosan saya di daerah Ciawi sana menuju ke Depok. Tapi baru mencapai seperdelapan perjalanan, adik saya telepon lagi untuk mengabarkan kalau Papa dipindahkan ke RS Fatmawati, dirujuk karena butuh cuci darah. Dang. Cuci darah? Separah itukah kondisinya? Bukannya hari minggu kemarin masih saya pijit dan hanya mengeluh sedikit kembung? Tapi hari ini (saat itu tanggal 4 April adalah hari Rabu) beliau butuh cuci darah? Dunia saya jungkir balik. Dengan terburu-buru saya minta Pak B mengantarkan ke RS Fatmawati, iya naik motor dari Ciawi ke Fatmawati jam 5 pagi.

Sampai di RS Fatmawati, langsung saya menuju ke IGD. Begitu melihat mama saya tetap tenang, saya sempat merasa sedikit rileks. Sampai mata saya menjumpai sosok Papa di IGD. Hati saya merosot ke perut, seperti tergerus oleh asam lambung, perih. Beliau tidak sepenuhnya tidak sadar, meskipun selang sudah dimana-mana dan dibantu alat pernapasan. Beliau terlihat kepayahan bahkan untuk menarik nafas singkat. Kata mama, paru-parunya terendam cairan. Melihat orang paling superior dalam hidup saya kelihatan seperti itu, entahlah rasanya campur aduk. Saya hampiri beliau, saya cium pipinya, dan saya merasakan sejenak saat saya cium, beliau tenang sekali.

Yang saya tidak mengerti sampai saat ini adalah bagaimana Mama bisa setenang itu melihat Papa dalam kondisi itu. Saya tahu pasti beliau khawatir luar biasa, tapi tidak panik sama sekali. Saya bersyukur, setidaknya ada yang waras dalam kondisi begitu, karena saya dan adik yang seharusnya menenangkan malah panik bukan main.

Dokter bilang, Papa saya masih menunggu antrian untuk cuci darah dan jikalau Papa selamat melewati cuci darah kali ini, beliau kedepannya harus cuci darah 4x seminggu. Parah sekali kondisi ginjalnya. Saat dokter menyampaikan hal itu, perasaan saya semakin ga karuan. Kalau Papa selamat.. Semakin sore, kondisi Papa semakin kritis, tekanan darahnya drop sampai 40/30. Menolak memikirkan kemungkinan terburuk, saya dan Mama berembuk mengenai rencana pengobatan Papa. Mulai dari cuci darah, alternatif, sampai rencana transplantasi ginjal.

Akhirnya tiba giliran Papa untuk cuci darah. Sekitar pukul 17.00, Papa dibawa ke ruang hemodialisa. Tapi Tuhan lebih sayang Papa. 40 menit cuci darah, tubuhnya menolak proses dan darahnya berbalik ke paru-paru sampai akhirnya pukul 18.10 beliau pergi menghadap Pencipta yang sangat dikasihinya. Terakhir saya ingat, saya menangis sejadi-jadinya di ruangan itu. Memanggil beliau supaya kembali lagi. Tapi tangannya sudah sedingin marmer. Papa sudah benar-benar pergi selamanya.

Setelah itu, hidup rasanya seperti mimpi. Saya dihantui dengan kematian kemana pun saya melangkah, 2x masuk rumah sakit karena psikosomatis, merasa ada yang salah dengan tubuh saya padahal saya sehat kata dokter. Tapi terlebih berat adalah rasa kehilangan sosok Papa.

Setiap sudut rumah mengingatkan saya pada Papa. Gelas yang biasa dia pakai, handuknya yang sudah gembel tapi senang sekali digunakan, sisi tempat tidur yang biasa beliau tempati, acara favoritnya di tv, kebiasaannya menggosok punggung pada tembok, baju-bajunya di lemari, bahkan saya masih ingat dengan jelas aroma tubuh beliau.

Saya juga merasa kehilangan supporter terbesar saya, penjaga saya nomor 1, polisi saya nomor 1, teman baik saya, teman bertengkar saya, cinta pertama saya. Saya menyesal sekali tidak banyak mengungkapkan betapa saya menyayangi beliau selama masih bersama.

Kata Mama, beberapa hari sebelum meninggal, Papa naik motor sendiri ke kampus saya, katanya mengenang saat dia mengantar saya tiap senin pagi ke kampus. Apakah itu pertanda? Jika iya, saya merasa terharu karena Papa pikir momen mengantar saya itu berharga baginya. Selain itu, Mama juga bilang kalau beberapa hari sebelum meninggal Papa juga menitipkan pesan kalau dia sudah merestui Pak B sebagai calon suami anaknya tapi masih terlalu gengsi untuk bilang pada saya. Ya, sebelumnya Pak B tidak diterima dengan tangan terbuka oleh Papa, tapi berkat kegigihannya (dan atas izin Tuhan), Papa akhirnya menerima juga. Seolah-olah sebelum dia meninggal, dia ingin membereskan urusan yang mengganjal.

Sekarang, 4 tahun sudah Papa merasakan kekekalan. Saya bersyukur dilahirkan menjadi anaknya, saya bersyukur untuk setiap omelan sayangnya, saya bersyukur dididik dengan ketegasannya, saya bersyukur Papa adalah Papa. Rindu ini masih sama besarnya Pa, bahkan Pipit masih menangis saat menuliskan ini. Tapi sungguh saya lega, Papa tidak merasakan sakit lagi dan sudah bahagia bersama Tuhan.

image
Papa, cinta pertama saya

Salam kangen pake banget,
Pipit.

Advertisements

10 thoughts on “4-4-4 Tahun Lalu

  1. Peluk Mba Pipit 🙂
    Loss is never easy ya mbak. Apalagi kehilangan orang terkasih. Adekku meninggal 15 taun yg lalu. Tapi nyeseknya itu masih sama kayak pertama kali ditinggalin 😦

    Like

      1. emang nih Senin bikin males, masih pagi tapi rasa tengah hari bolong, teriiikk.. malah pake ada ada demo pula depan KPK, gak pada kepanasan apa ya? hahahaha

        Like

  2. Bokap gue juga tahun ini udah 15 tahun meninggalkan gue secara mendadak. Dan beruntunglah elu Pit masih bisa ketemu dengan bokap di saat terakhirnya. Gue ketemu bokap saat dia udah masuk di dalam peti dan kondisi dia sudah bengkak dan menghitam karena diformalin, menunggu penerbangan gue balik yg memakan waktu 2 hari.

    Cherish your favorite moments with him, jangan inget-inget yang sedih-sedihnya. He must be very happy now in heaven. Gak sakit lagi.

    Like

    1. Iya Mbak…i treasure every moment with him..sekarang mah udah bisa mengenang sambil ketawa, meski kadang2 masih nangis krn kangennya itu lho.. Haha, aku emang anak bokap banget..

      Duh Mbak, ga kebayang klo ada di posisimu 😢, sedih banget pasti.. Tapi mereka sekarang sudah senang sekali ya so mari kita mengenang dengan senyum 😊

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s