Wonderful Two

Hai B, have a wonderful two! We really wish you have a great journey ahead. With God as your leader along the way, may your heart be fulfilled with love, peace, faith, compassion. We thankful God for the chance of being your parents. May your life be fruitful to your community, and your soul blossom beautifully in the seasons of your life.

Yap, B berulang tahun ke 2. Waktu lahir, dia kami beri nama Briana Aracely Sinaga. Briana artinya kuat. Hal itu menjadi doa kami mengingat masa kehamilan yang penuh drama, dengan flek dan kenaikan berat badan yang ngepas. Tapi sebelum menemukan nama itu, kami ingin sekali memanggil anak kami kelak dengan panggilan Bri. Karena dalam bahasa Indonesia, Bri itu terambil dari “beri” yang merupakan kata dasar “pemberian”. Ya, Bri adalah pemberian dari Tuhan bagi kami.

Lalu Aracely itu nama mendadak yang ditemukan seminggu sebelum Bri lahir. Artinya (menurut hasil search mbah google) itu Altar of Heaven. Yup, kami mencicipi “surga” saat Bri lahir dan hadir di tengah-tengah kami. Makanya nama itu kami pilih, meskipun jadinya campur-campur originnya.

Kalau Sinaga sudah tahu lah ya, itu identitas Bri sebagai keturunan Batak (Simalungun) dari keluarga Bapak Sinaga :).

Mengingat kelahirannya dulu sungguh kami tetap terkagum-kagum bagaimana semua hal itu bisa di lewati. Dia lahir di minggu ke-36 yang dikategorikan sebagai late premature. Mulai dari saya merasakan kontraksi sampai dia lahir hanya kurang lebih 3 jam. Waktu itu, jam 5 pagi saya terbangun dengan perut mulas, saya ke wc karena mengira mulas itu disebabkan ingin buang air. Toh, due date kelahiran Bri masih lama, masih 1 bulan lagi kurang lebih. Tapi setelahnya, kenapa mulas tidak berhenti malah diikuti dengan kontraksi yang teratur. Merasa tidak beres, saya bangunkan Pak B untuk ke RS. Benar saja, sampai rumah sakit, suster (atau bidan saya lupa) bilang, saya sudah pembukaan 9.

Sebelumnya, saya sudah mempersiapkan mental jika akan melalui tahap pembukaan yang lama karena cerita teman-teman yang sudah berpengalaman. Makanya, saya shock dan surprise waktu diberitahu kalau sudah pembukaan 9. Rumah Sakit yang kami datangi bukan RS tempat kami biasa kontrol (di Bogor) karena saat itu saya ada di rumah Mama (di Depok), untungnya saya sempat sekali periksa sebagai cadangan kalau saya melahirkan di tempat itu. Dokter yang menjadi tempat saya cek tidak ada pagi itu, untungnya dia bisa datang cepat ke RS dan membantu persalinan saya. Jam 8.10 lahirlah Bri ke dunia.

10336845_10201881846469727_9009617871772141455_n
Ini Foto pertama yang diambil Pak B

Hari-hari berikutnya penuh dengan keajaiban. Mengalami baby blues, Bri dirawat 2 x karena jaundice, menyaksikan tawa pertamanya, mendengar ocehan pertamanya, long sleepless night, perjuangan memberi ASI eksklusif sampai 6 bulan, kunjungan dan perhatian dari keluarga dan teman-teman terkasih, makan pertama, langkah pertama, gigi pertam, kata pertama. Rasanya tidak cukup digambarkan dengan kata-kata bagaimana keajaiban itu hadir di tengah kami, yang sungguh masih clueless sebagai orang tua.

10614241_10204499085230865_1267115234144641085_n
Umur 4 bulan, pulang kondangan 😀
10635718_10202914897779929_3509471231123726391_n
Umur 5 bulan
10665903_10202900277694436_3577105595680883586_n
Masih 5 Bulan
10885247_10204764374782938_5731755713820524237_n
Umur 7 bulan, si tepi danau toba, lagi di tempat Oppung 🙂
12310606_725612630907378_7576214970056208444_n
Umur 18 Bulan, di suatu retreat, di foto candid oleh Pakde A

Sekarang Bri sudah lari-larian tidak bisa diam, cerewet luar biasa, nyanyi dan joget, sudah bisa ngambek, sudah bisa menunjukkan keinginannya, sudah bisa berargumentasi, kadang ngeyel kalau disuruh, tapi Bri tetap menjadi kesayangan kami. Tumbuh sehat dan bahagia, ya nak. Have a wonderful two, once again!

13227076_10206233372899733_3279394869102573448_n
Potong kuenyaaaa…

Love,

Mama & Papa

Anaknya, Mbak?

Kemarin siang, saya punya kesempatan jalan berdua bareng baby B ke mall. Pak B ada kegiatan, jadi kami di drop di mall lalu dia lanjut jalan. Agenda utama kami sebenarnya potong rambut B karena poninya sudah menutupi mata dan rambut belakangnya sudah sedikit panjang. Selesai potong rambut, ga afdol buat B kalo di mall tapi ga naik ekskalator bolak-balik ke semua lantai. Yasudahlah saya ikuti, tapi akhirnya iseng juga buat foto box. Beberapa kali ajak Pak B buat foto box bertiga jawabannya selalu “ogah, ngapain foto box kalo pake henpon aja bisa foto” Zzzz…

Yup, mumpung berdua, saya ajaklah B buat foto box, ada yang goyang sih hasilnya, tapi untung ada yang selamat juga fotonya. Beginilah penampakan kami berdua di foto box :

image
Gimana, unyu ga kami?

Selesai foto box yang riweuh itu, B langsung menarik saya mendekati kerumunan orang yang lagi nontonin abege melakukan DDR (ga tau DDR? Sila di google *ngeselin*) dengan semangat 45. Sebentar ikut menonton, B bosan dan mengajak saya masuk ke tempat bermain sejenis t*mez*ne yang namanya Fun World. Dia girang melihat kereta-keretaan yang ada, tapi kasiannya tingginya belum sampai batas minimum untuk naik. Jadi B hanya menjadi suporter di pinggir rel. Hehehe. Lalu, ada lagi yang menarik perhatiannya  yaitu Bombom Car. Nah, ditempat inilah terjadi hal yang bikin saya terinspirasi update blog ini.

Jadi, saat B lagi asik nonton orang main bombom car, dia juga heboh lari kesana kemari kayak ayam lepas dari kandang. Saya memperhatikan dari bangku penunggu sambil sekali-kali lari kalau dia terlihat mau jatuh atau menabrak sesuatu. Bersama saya, ada 1 orang nenek dan 1 orang ibu yang juga lagi menunggu. Si nenek memulai percakapan dengan berkata kalau B mirip sekali dengan cucunya, apalagi dengan potongan rambut dora. Si Ibu pun mulai basa-basi menanyakan apakah B ada keturunan bule (heh?hello..), dan dilanjutkan dengan pertanyaan mak jleb “Emang, itu beneran anaknya Mbak?

Saya nengok cuma buat mastiin saya ga salah denger, eh diulang lagi pertanyaannya “itu anaknya mbak?”. Bingung mau jawab apa, saya cuma bisa nyengir kuda dan sedikit bercanda saya jawab “iya Bu, anak saya. Saya keliatan mirip pengasuhnya ya?hahahah *ketawagaring*”. Si nenek pintar baca situasi langsung menyelamatkan muka saya, dia bilang “iyalah anaknya, mirip kok”. Dan si Ibu sepertinya sadar sama kesalahan pertanyaannya. Dia langsung gelagapan bilang saya bukan kayak pengasuh, tapi dikira tante atau sepupu B karena keliatan masih muda. Hiks, Ibu, saya tahu anda bermaksud nice, tapi kok saya curiga anda ga tulus bilang saya keliatan masih muda *menatapnanardicerminkamar*.

Waktu saya cerita sama Pak B di perjalanan pulang, dia ketawa puas dan menghibur dengan cara yang menyebalkan “untung bukan ditanya, Bu itu cucunya?”. MAKSUD LO? Langsung siram muka pake anti aging segalon.

Demikian momen makjleb saya kemarin yang dipersembahkan oleh ibu-ibu polos di fun world. Oh iya, hmm..SAYA MIRIP KAN YA SAMA B? IYA KANN? *capslockjebol*