Oh..

Salah satu penyesalan terbesar dalam hidup saya baru saja terjadi malam ini. Karena saya lalai, Bri jatuh dan dahinya membentur lantai. Tadi saya lemas sekali melihat darah mengucur deeas dari dahinya. Dan lebih lemas melihat luka yang menganga.

Tanpa pikir panjang dengan baju bersimbah darah, saya dan Pak B langsung menuju klinik terdekat membawa bri yang hanya pakai kaus dan pampers. Panik. Tegang.

Ternyata lukanya harus dijahit agar tidak menimbulkan bekas yang menganga. Oh, saya hanya bisa memegangi Bri saat disuntik bius dan dijahit. Rasanya sesak sekali melihat anak terluka karena saya lalai.

Saya minta maaf dan dengan senyum setelah tangis, Bri tepuk tepuk pundak saya dan bilang “Iya, Mama”. Entah dia mengerti atau tidak dengan penyesalan saya. *Dan saya masih menahan tangis saat menulis ini sambil menidurkan dia*.

Tapi saya jadi ingat, tadi dia menangis kencang saat melihat baju papanya penuh darah dan bilang “Papa berdarah..Papa berdarah”. Duh Nak, mama terharu dan makin nyesek mengingatnya.

Cepet sembuh, sayang. Semoga bekas lukanya tidak kentara ya. Maaf ya. Ini akan jadi penyesalan terbesar mama sekaligus pengingat betapa kamu berharga dan mama tidak boleh lalai menjagamu.

Hidup itu seperti bunga rumput..

Yang hari ini ada dan besok akan lenyap. Dalam dua minggu berturut-turut, saya menerima kabar duka di lingkup tempat kerja saya. Minggu lalu, saya menerima kabar jika salah satu bos meninggal dunia, dan pagi ini saya lebih tersentak karena rekan saya di pabrik juga meninggal dunia.

Setiap mendengar kabar duka, hari saya  mendadak slow motion. Saya, mau tidak mau, jadi terhanyut dalam pikiran saya. Yang pertama, pasti saya akan mulai mengenang kapan saya terakhir kali berinteraksi dengan orang yang pergi dan selanjutnya saya akan mulai pause and pondering tentang hidup.

Dua rekan dengan latar belakang berbeda, tetapi sama-sama punya akhir hidup. Yang satu hidup berkelimpahan dalam materi, yang satu biasa-biasa saja; yang satu sakit dan sempat dirawat beberapa hari, yang satu mendadak; yang satu punya gaya hidup sehat, yang satu baru mau mencoba gaya hidup sehat (tetapi masih susah melepaskan rokok); yang satu pemakamannya penuh dengan karangan bunga dari segala penjuru, yang satu hanya pemakaman sederhana dihadiri teman dan tetangga. Tetapi mereka sama-sama sudah menyelesaikan pertandingannya di dunia.

Saya bersedih sekali, terutama dengan kabar pagi ini (karena saya banyak berhubungan langsung dengan dia). Saat datang ke pemakamannya tadi, istrinya bercerita bagaimana dia mulai sesak nafas, berteriak karena sakit sampai akhirnya pergi dalam rentang waktu 30 menit. Tetangganya bercerita bahwa kemarin dia masih sempat membagikan daging kurban yang dipotong. Temannya menunjuk seorang bocah dan bilang “Bu, itu anaknya”. Entahlah, saya jadi mellow sekali.

Tidak pernah ada yang siap menghadapi kematian orang yang dikasihi, mendadak ataupun tidak, itu akan tetap menyebabkan kepedihan di hati. Yang menghibur adalah ketika banyak yang bercerita tentang kebaikan mereka semasa hidup. Betapa sepinya jika menghadapi kedukaan sendiri.

Saya jadi diingatkan kembali untuk hidup dengan sungguh-sungguh, agar ketika tiba waktunya, orang akan punya kenangan baik dan paling tidak saya mewariskan teladan untuk anak saya. Lalu hal kedua, saya juga dingatkan untuk berempati pada mereka yang berduka, menemani dan mendengarkan kesedihannya.

Karena hidup itu seperti bunga rumput, yang hari ini ada dan besok mungkin lenyap.