Hidup itu seperti bunga rumput..

Yang hari ini ada dan besok akan lenyap. Dalam dua minggu berturut-turut, saya menerima kabar duka di lingkup tempat kerja saya. Minggu lalu, saya menerima kabar jika salah satu bos meninggal dunia, dan pagi ini saya lebih tersentak karena rekan saya di pabrik juga meninggal dunia.

Setiap mendengar kabar duka, hari saya  mendadak slow motion. Saya, mau tidak mau, jadi terhanyut dalam pikiran saya. Yang pertama, pasti saya akan mulai mengenang kapan saya terakhir kali berinteraksi dengan orang yang pergi dan selanjutnya saya akan mulai pause and pondering tentang hidup.

Dua rekan dengan latar belakang berbeda, tetapi sama-sama punya akhir hidup. Yang satu hidup berkelimpahan dalam materi, yang satu biasa-biasa saja; yang satu sakit dan sempat dirawat beberapa hari, yang satu mendadak; yang satu punya gaya hidup sehat, yang satu baru mau mencoba gaya hidup sehat (tetapi masih susah melepaskan rokok); yang satu pemakamannya penuh dengan karangan bunga dari segala penjuru, yang satu hanya pemakaman sederhana dihadiri teman dan tetangga. Tetapi mereka sama-sama sudah menyelesaikan pertandingannya di dunia.

Saya bersedih sekali, terutama dengan kabar pagi ini (karena saya banyak berhubungan langsung dengan dia). Saat datang ke pemakamannya tadi, istrinya bercerita bagaimana dia mulai sesak nafas, berteriak karena sakit sampai akhirnya pergi dalam rentang waktu 30 menit. Tetangganya bercerita bahwa kemarin dia masih sempat membagikan daging kurban yang dipotong. Temannya menunjuk seorang bocah dan bilang “Bu, itu anaknya”. Entahlah, saya jadi mellow sekali.

Tidak pernah ada yang siap menghadapi kematian orang yang dikasihi, mendadak ataupun tidak, itu akan tetap menyebabkan kepedihan di hati. Yang menghibur adalah ketika banyak yang bercerita tentang kebaikan mereka semasa hidup. Betapa sepinya jika menghadapi kedukaan sendiri.

Saya jadi diingatkan kembali untuk hidup dengan sungguh-sungguh, agar ketika tiba waktunya, orang akan punya kenangan baik dan paling tidak saya mewariskan teladan untuk anak saya. Lalu hal kedua, saya juga dingatkan untuk berempati pada mereka yang berduka, menemani dan mendengarkan kesedihannya.

Karena hidup itu seperti bunga rumput, yang hari ini ada dan besok mungkin lenyap.

Advertisements

10 thoughts on “Hidup itu seperti bunga rumput..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s