29

Tak beekesudahan kasih setia Tuhan tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
Pagi ini saya mendapatkan pesan di whatsapp saya yang berbunyi seperti di atas. Menjadi kado pertama di hari pertama saya berusia 29 tahun. Rasanya pas sekali merangkum 29 tahun yang sudah saya jalani.

Hari ini saya berulang tanggal lahir. Membuat saya tertegun. Dulu, seorang kawan pernah berkata : Nikmati usia sebelum 25 mu, waktu seperti kejapan mata jika sudah melewati angka tersebut. Dan benar adanya yang saya rasakan. Lah, tahu-tahu sudah ulang tahun lagi.

Apakah ada perayaan hari ini? Secara khusus tidak, Pak B pun hanya mengucapkan tadi subuh atau tengah malam, saya buta jam karena ditengah tidur lelap, dibangunkan hanya untuk diucapkan “Selamat ulang tahun ya. Sehat terus ya, terus saling menemani” Saya cuma bilang makasih, trus tidur lagi. Hahaha.

Mungkin tidak semeriah di tahun-tahun remaja saya, tapi saya menikmati diperhatikan orang2 terdekat. Yang mengucapkan dengan sepenuh hati dan sukses membuat saya mengharu biru. Juga teman-teman kantor yang membuatkan waffle kejutan *sakingterkejutnyagaadasayaambilfoto* 

Apa harapan saya di 29?

1. Semoga sehat selalu, jiwa dan raga, fisik dan mental.

2. Semoga menjadi ibu dan istri yang lebih baik.

3. Semoga saya bisa menjadi pemain yang baik dalam drama-drama kehidupan yang menanti. Hahaha..

4. Dan semoga kado pertama tadi bisa saya hayati sungguh2 di masa2 mendatang

Happy birthday to me!

Night. Hoam. 😪😪😪

Langit

Buat saya, objek paling menarik untuk diperhatikan adalah langit (selain artis-artis korea idola :p). Entah kenapa, saya suka sekali melihat langit di waktu apapun mau pagi, siang bolong, sore, malam hari, ataupun subuh, ga pernah ada waktu yang salah melihat langit. Setiap ada kesempatan, misalnya lagi di jalan, lagi nunggu di pinggir jalan, lagi bengong depan rumah, saya pasti menyempatkan memperhatikan langit.

Buat saya, langit itu seperti teman yang selalu ada. Saat saya lagi senang, langit jadi teman saya senyum-senyum tak jelas. Saat saya lagi sedih, langit jadi teman saya meratap. Hahahaha, sedih ya, kayak ga punya teman lain buat berbagi. Bukannya begitu sih, tapi kalau teman lain kan keberadaannya terbatas, pasti ada jeda waktu untuk bertatap muka langsung karena pintu kemana saja itu tidak eksis di dunia nyata. Lewat telepon terkadang tidak cukup dan tidak setiap waktu kita bisa ganggu orang untuk telepon kan. Jadi, lebih sering saya berbagi dengan langit.

Sayangnya, saya tidak bisa mengabadikan semua langit yang ingin saya abadikan lewat foto. Pertama, karena saya tidak memiliki kamera yang mumpuni untuk menangkap indahnya malam hari berhias bintang atau menangkap gambar matahari tanpa membuatnya terlihat seperti titik kuning di kejauhan. Kedua, karena saya tidak memiliki “skill” fotografi yang mumpuni. Hahahaha. Saya tidak mengerti pencahayaan yang baik, ataupun hal teknis lainnya dalam mengambil foto. Semoga suatu hari saya akan memiliki kedua hal ini. Kamera yang mumpuni dan skill yang mumpuni (belajar woy kalo itu mah..).

Biarpun kamera dan skill saya pas-pasan, tapi tetap saya beberapa kali mengambil gambar langit dan mem-postingnya kalau menurut saya cukup layak atau saya suka. Yah, dengan bantuan filter instagram tapi saya tidak pernah meng-editnya jauh dari kenyataan, kadang hanya memperjelas warna seperti yang saya lihat aslinya. Karena sungguh deh, langit itu cantik tanpa perlu editan.

img_20160715_173029.jpg
Ini sepertinya menjelang sore diperjalanan menuju rumah Mama saya di depok

img_20150602_091716.jpg
Ini langit pagi di Kebun Raya Bogor. Bersih, biru

img_20160514_065347.jpg
Langit menjelang senja di kantor saya. Dengan sedikit efek lampu jalan 🙂

img_20160601_164926.jpg
Langit sore dalam perjalanan pulang kantor, ditambah hiasan baliho iklan ruko

img_20160912_161059.jpg
Langit sore setelah hujan, dekat rumah saya

img_20160701_222431.jpg
Ini langit diambil dari parkir sebuah mall, dengan ujung menara masjid di kejauhan

img_20160716_120315.jpg
Biarpun gambarnya pecah, saya suka sekali dengan gradasi warna langitnya. Ini diambil dari atas suatu fly over

img_20160615_173740.jpg
Wah, ini menurut saya keren banget langitnya. Diambil di menjelang keluar pintu tol bogor

img_20160515_154956.jpg
Ah, saya suka langit siang yang bersih ini

Orange Resto

Yap mengisi kekosongan blog ini, saya mau cerita tentang pengalaman saya kemarin Sabtu ke sebuah tempat makan bernama Orange Resto. Kenapa tiba-tiba saya tertarik membahas tempat makan ini? Karena dari tempat makan ini, saya belajar tentang ungkapan “don’t judge the book by it’s cover”. Hahahhaha. Ini bukan berkaitan dengan makanan yang disajikan ya, tetapi berkaitan dengan tempatnya.

Saya sering melewati tempat makan ini tapi tidak pernah tertarik untuk mengunjungi. Kenapa? Karena dari pinggir jalan, resto ini terlihat sempit dan saya paling males makan di tempat makan sempit dengan antrian panjang. Makan jadi ga nikmat karena ditunggu antrian yang lain macam di food court mall :D. Nah, kebetulan kemarin Pak B ada janji ketemuan (yang memakan waktu 3 jam) di resto ini. Awalnya, saya malas ikut dan mempertimbangkan option untuk di tinggal di mall saja karena kebayang crankynya Bri kalau ditempat yang sama berjam-jam. Tapi ya entah kenapa, kemarin akhirnya memutuskan ikut Pak B ketemuan (kebetulan saya kenal baik dengan teman-teman yang janjian ketemu dengan Pak B).

Begitu sampai di parkiran, saya sedikit lega karena tampaknya tidak penuh (biasanya weekend lumayan ramai). Tapi begitu turun, saya ternganga melihat tempatnya.

p_20161015_162043_bf.jpg
Ini penampakan depan Resto

Nah, gambar di atas itu penampakan depan resto dari tempat parkir, kalau dari pinggir jalan, saya cuma melihat bangunan depan itu tok. Bangunan 2 lantai yang terdiri dari susunan container. Begitu di tempat parkir, kelihatan deh ada kelanjutan area dari bangunan tersebut.

p_20161015_161854_bf.jpg
Ini di area entrancenya, di bawah container bertingkat tadi. Ada vespa, sepeda onthel & mobil jadul.

Sebenarnya bingung sih, konsep resto ini apa, hehehehe.. Ada kendaraan jadul, tapi yang lainnya terlihat modern. Etapi, tempat duduknya ada yang jadul, ada yang modern deh. Itu, disamping entrance ada jejeran kursi makan yang diatur seperti stasiun

p_20161015_161707_bf.jpg
Ini lho pengaturan meja yang menyerupai stasiun. Kelihatankah plang stasiunnya? di ujung sana terdapat toilet & mushola. Untuk yg ladies, toilet & musholanya bersih. Kalau yang gents, saya tentu tidak tahu 😀

Kami mencari tempat duduk yang terpisah dari bangunan utama demi tidak mengganggu pengunjung lainnya. Jadi untuk tempat duduknya, ada meja ala stasiun, ada container atas (vip room) dengan AC, ada bangunan beratap tapi terbuka semua sisi (sebut saja selasar) dengan meja dan kursi kayu yang diatur sedemikian rupa sehingga jarak satu meja dengan lainnya cukup memberikan ruang gerak (sayangnya saya tidak sempat foto, eh, malu deh mau foto). Selain itu, ada pula 2 bangunan terpisah dari bangunan, bentuknya seperti saung. Kami beruntung mendapatkan salah satu saung.

p_20161015_155912_bf.jpg
Ini saung tempat kami makan. Menampung 6 orang dewasa dan 1 anak (Bri) dengan sisa ruang yang cukup luas. Tapi kekurangannya ditengah itu kaya ada palang di bawah atap, jadi teman saya yang ceroboh berdiri tiba-tiba terbentur palang tersebut 😀

Di saung itu duduknya dialasi karpet rumput (rumput sintetis). Kemarin kondisinya hujan cukup deras, tapi kami tetap aman terlindungi di bawah saung, karena di sisi-sisi terbukanya, disediakan kerai bambu. Bagian depan saung tidak kami tutup karena atap cukup menjorok keluar sehingga menghindarkan tampias air hujan ke dalam saung. Kerai bambu ini juga ada di sisi-sisi selasar yang dengan sigap diturunkan kalau hujan dan digulung jika sudah cerah oleh staf resto.

Keunggulan resto ini, selain tempat duduk yang cukup banyak dan luas, juga menyediakan area terbuka yang luas untuk anak-anak bermain.

p_20161015_125453_bf.jpg
Ini pemandangan dari dalam saung, ada playground, di sisi kanan yang tidak ikut terfoto juga ada papan seluncur a.k.a perosotan, jungkat-jungkit, dan mangkok putar.

Wah, si Bri senang sekali dengan area terbuka ini, waktu hujan dia cuma bisa memandangi dengan mupeng, tapi begitu reda, langsung deh kayak ayam dilepas dari kandang. Nilai plus lainnya, ada staf resto yang setelah hujan reda mengelap semua mainan sehingga anak-anak main dengan kering dan tidak licin. Meskipun sepatu jadi sedikit kotor karena kan tanah setelah hujan pasti becek, tapi menurut saya itu serunya bermain di outdoor begini. Hehehe. Banyak juga anak-anak yang main ditempat ini, jadi sembari orang tuanya makan, anaknya main dengan happy.

Gambar diatas di ambil dari titik yang berdekatan, yaitu di depan play ground kecil. Yang satu mengarah ke luar resto (keliatan kan container tampat entrance tadi? juga ada seujung atap selasar yang terfoto, apakah terbayang luasnya area terbukanya?), dan yang satu mengarah ke saung tempat kami makan tadi.

Untuk makanan, karena menurut  saya cuma ada 3 kategori soal makanan yaitu : Tidak sesuai selera, Enak, dan Heavenly Taste, jadi saya masukkan makanan di tempat ini di kategori ENAK. Hahahha, tapi namanya juga selera ya, orang bisa beda-beda. Kemarin sih saya cuma pesan Nasi Goreng Special Orange Resto, Pisang Goreng Kampung, dan Creamy Banana Milk dan semuanya enak meskipun pisang goreng kampungnya beda dengan ekspetasi saya karena ga ada kampung-kampunya. Maksudnya gimana nih ga ada kampung-kampungnya? Pisang gorengnya disiram saus cokelat. Di kampung mana ada kan model yang begini. Hehehehe

p_20161015_130538_bf.jpg
Creamy Banana Milk, Pancake Cokelat, Pisang Goreng Cokelat

*Itu pancake pesanan teman saya, katanya sih biasa saja, karena sepertinya pancakenya dibuat dari tepung instan, tapi saya ga tau ya. Saya ga ngicip*

Harga gimana? Menurut saya affordable, saya pesan Nasi Goreng Special, Creamy Banana Milk, dan Pisang Goreng Kampung total IDR 59000, ditotal dengan pesanan teman saya (nasi goreng special, nasi goreng pattaya, pancake coklat, teh manis, es coffee mocca, dan milkshake coffee mocca) kalau tidak salah hanya IDR 175000. Makanan yang dipesan tidak sesuai dengan jumlah orang? Karena banyak teman saya sudah makan siang sebelumnya. Hehehe.

Demikian sedikit dari saya tentang Orange Resto. Boleh loh kalau main ke Bogor mampir ke tempat ini :

Orange Resto

Jalan Sancang No. 25, RT.02/RW.02, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16128

(Patokannya McDonald Lodaya kalau dari Jalan Raya Pajajaran)

Cheers,

Pipit