Sedih

Ditengah kehebohan media sosial akhir-akhir ini mengenai pilkada DKI dan demo-demo yang mengiringinya, kemarin ada berita sedih mengenai pelemparan bom molotov ke sebuah Gereja di Samarinda. Bukan, saya bukan mau membahas siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kejadian ini tapi pagi ini saya tergerak menuliskan tentang ini karena salah satu korbannya (diantara beberapa) yang meninggal dunia. Dan yang lebih sedih, dia itu seorang anak kecil bernama Intan Olivia Marbun.

Ya, korban pengeboman kemarin itu memang anak-anak berusia 2-4 tahun. Dan adik kecil Intan baru berusia 2 tahun. Umur yang tak jauh dari Bri. Saya tidak ingin terlibat dalam opini yang digiring menjadi bola salju kebencian yang katanya dilandasi agama. Tidak. Saya hanya ingin menulis dari sudut pandang seorang Ibu yang usia anaknya hampir sama dengan Intan.

Saya menangis, sungguh menangis membaca beritanya. Apakah pernah terbersit di benak orang tua jika anaknya akan meninggal lebih dahulu dari dirinya sendiri. Terlebih saat Β anak itu sebenarnya sehat-sehat saja sebelumnya. Tidak ada penyakit, hanya sebuah minggu pagi yang biasa. Sekeluarga pergi beribadah dan boom..petaka itu terjadi.

Esok harinya, buah hati terkasih harus meninggal karena luka bakar yang parah di tubuhnya. Ibu mana yang hatinya tidak teriris, bahkan mungkin rasanya tidak mungkin melanjutkan hidup karena hal itu. Iya, hal itu juga yang membuat saya merinding dan hancur melihat anak-anak yang hidup di area perang.

Ah, Intan.. Semoga istirahat abadi dalam kedamaian. Pasti kamu ditimang oleh tangan Tuhan yang lembut dan kuat. Bermain di taman yang keindahannya tidak akan ada bandingannya dengan yang di bumi.

Semoga Ibu dan Ayahmu dikuatkan dan dihiburkan oleh Tuhan. Semoga kepedihan tak terperi ini dapat ditanggung dan menumbuhkan kekuatan. Juga untuk semua orang tua yang mengalami hal yang sama di luar sana.

Think of your child, then, not as dead, but as living; not as a flower that has withered, but as one that is transplanted, and touched by a Divine hand, is blooming in richer colors and sweeter shades than those of earth. -Richard Hooker

Advertisements

6 thoughts on “Sedih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s