#Bripulangkampung (2)

Eits..eits..rajin apa ga ada gawe ceu? Udah lanjut postingan #Bripulangkampung ajahh.. Biarlah ya, abis liat postingan tadi endingnya ngegantung gitu..bacanya ga resep, hahahaha..

Day 3 

Setelah kemarin kami pulang dari kampung Tua, hari ini agenda kami ke gereja dong ya, kan hari Minggu. Untung ibadah di gereja mertua saya itu mulainya pukul 10.00. Ga kebayang kalau seperti gereja kami di depok yang ibadahnya jam 07.00, mamih, aku takut mandii.. *cetek. Beneran lho ya, di rumah ini kan tak ada heater, jadi kalau mandi harus rebus air dulu, trus diangkut ke kamar mandi, yang mana harus segera dipakai kalau ga mau airnya jadi dingin lagi… Saya pernah tuh, udah rebus air, udah di tuang ke ember, trus ditinggal sebentar (lupa ngapain, tapi paling 2 menit), eh airnya mulai anyep jadi ga bisa ditambahin air dingin banyak-banyak kalau mau tetep anget. Mandinya jadi ga bisa foya-foya, harus irit air anget yang tinggal segitu-gitunya..hehehe.

Gereja mertua ini dulu tempat Bri tardidi (Baptis), jadi waktu kami kesana, banyaklah orang yang menyapa dan bilang betapa Bri cepat tumbuh besar, tidak terasa kata mereka (hahaha, ya eyalah, pada ga kerasa, kalo emak bapaknya mah kerasa bengbeng). Ibadah menggunakan bahasa daerah (Bahasa Simalungun), jadi saya sama mama cuma bisa bilang “amin” dan meyakini apa yang disampaikan itu adalah ya dan amin. Payah ni emang saya, belum bisa bahasa ibu suami, abis Pak B ga pernah ngajarin juga (alasann..alasannn).

Pulang dari gereja, Inang menjanjikan Bri berenang (emak be like : heol…dingin begindang Inang, ini anak mau berenang dimandose). Jadilah sesiangan, Bri nagih terus “ayo Inang, Opung berenang di danou (red. danau)”. Ya ampun dah, ni anak, cocok keknya di negara dengan musim dingin, soale tidur pun ogah di selimutin, kalau diselimutin, dia ngamuk. Padahal emak bapaknya udah meringkuk kedinginan sekalipun berselimut tebal.

Akhirnya Opung membawa kami ke “pantai” Raya, salah satu pantai Danau Toba yang terdekat dari rumah mertua. Jangan di bayangin pantai pasir ya cinn…ini pantai batu, batu-batunya gede-gede banget dah. mau berenang pun kami harus hati-hati karena batunya licin..jadi repot jaga keseimbangan megangin bocah dan jalan diatas batu.

p_20170115_150444_hdr.jpg
Ini aslinya berdiri di atas batu, tuh Pak B rempong megangin Bri

Iya, akhirnya berenang singkat aja, karena kami khawatir kami kepleset atau Bri demam. Tapi ni bocah emang setrong, ga demam, cuma meler dikit ajah..itu juga ga rewel. Di pantai ini ada banana boat juga, tapi kami ga coba soalnya..err..kami ga bisa berenang, ngeri kalau ketengah-tengah begitu *tutupmuka. Setelah berenang singkat dan membersihkan badan, kami pun makan ikan bakar pesanan Opung.

p_20170115_154533.jpg
Nih, unyil sama 2 neneknya. Lagi ngasih eyangnya makanan pembuka sebelum makan ikan bakar.. Momog* rasa coklat

Ini pantai ramai banget, jadi ga bisa nikmatin suasana, jadi pas pulang lewat jalan berliku-liku mirip jalanan puncak, tapi jurangnya itu Danau Toba, kami sempat berhenti di satu spot untuk sekedar memandangi Danau Toba. Pas pula waktunya sedang matahari terbenam. Jadinya cancikkk anethhh pemandangannya.

img_20170115_185603.jpg
Cantik yaaa…itu matahari memantul di Danau Toba.

Kami akhirnya pulang menjelang malam ke rumah setelah puas memandangi sunset di danau Toba.

Day 4

Ini hari dimana hati saya terasa berat sekali, karena mengingat liburan yang hampir habis. Hiks. Hari itu sampai sore, kami stay saja di rumah karena memang Opung dan Inang harus bekerja. Opung dan Inang adalah Guru, Opung kepala sekolah SMA dan Inang guru bahasa inggris SMP. Tengah hari, Inang pulang untuk mengajak Bri ikut ke sekolahannya. Bri senang sekali, pulang-pulang dia cerita tentang kakak-kakak belajar, Bri ke kantin, di beri buku gambar dan spidol, di beri uang jajan sama teman Inang dan macam-macam. Ujung-ujungnya : Ma, Bri mau sekolah.. Errr…

Sore hari Opung pulang dan mengajak kami ke Air Terjun Sipiso-piso, Ini kali ke dua saya kesini, dan saya ga mau turun ke bawah, takut ga sanggup naik lagi.Hahahaha. jadi kami hanya melihat-lihat pemandangan sambil makan p*p mie. Ini aslinya indah banget, tapi sayang, banyak sampah. Kenapa susah banget sih buang sampah pada tempatnya yak. Untung ga menghalangi saya menikmati pemandangan indah Air Terjun dan Danau Toba (again).

p_20170116_164640_hdr.jpg
Maap gambar pecah, ini di zoom dari kamera hp jadul saya. Air Terjun Sipiso-piso

img_20170116_180140.jpg
Sunset at Sipiso-piso

img_20170116_171055.jpg
Danau Toba from Sipiso-piso point of view

p_20170116_173311_hdr.jpg
Kedua Ibu yang sangat saya sayangi. Laf yu Eyang, Inang

Pulang dari air terjun, kami mampir di rumah Mak Tua (Kakaknya Inang) untuk bercakap-cakap dan pamit karena besoknya kami sudah harus pulang. Rumah Mak Tua ini semacam warung kopi tapi juga tempat transaksi pedagang (kami sempat melihat pedagang jeruk di Sabtu pagi).

p_20170114_075308_hdr.jpg
Jeruk dimana-mana *maafkan latar si ayam..

Setelah kami menghabiskan segelas teh hangat dan berbincang-bincang, kami pun pulang ke rumah untuk istirahat.

To Be Continue..(tsaelah, tinggal cerita pulang doang masih disambung..)

#Bripulangkampung

Yap… Kali ini saya mau bercerita tentang kesempatan pulang kampung ke Rumah Mertua saya di Sumatra Utara. Kami berangkat tangal 13/1/2017 dan pulang tanggal 17/1/2017. Singkat memang (banget malah menurut saya), tapi sangat berkesan untuk kami.

Day 1

Tanggal 13, kami berangkat dengan pesawat pukul 05.00, ngantuk berat coy waktu jalan menuju bandara Halim. Sengaja kami pilih pesawat pagi karena perjalanan dari Kualanamu ke rumah mertua saya itu memakan waktu kurang lebih 5 jam. Demi menghabiskan waktu yang lebih panjang bersama mertua, kami pilih pesawat pagi agar sampai sana masih terang dan sempat bercerita. Ternyata pesawat berangkat lebih awal (04.40 kalau tidak salah) dan kami tiba di Kualanamu pukul 06.50.

img_20170113_160419.jpg
Tiba di Kualanamu, menuju mengambil bagasi

img_20170113_072644.jpg
Anak kecil minta foto di depan replika Istana Sultan Serdang

Berhubung kami datang di hari kerja, dan Bapak mertua harus rapat, jadi kami hanya bisa di jemput di Siantar (kurleb 1-1.5 jam dari rumah mertua). Kami pun menaiki bis cepat paradep untuk sampai ke Siantar. Oh ya ampunnnnnn, supirnya benar-benar “gila”, sampe horor liat jalanan..salip sana, salip sini, pokoknya ga boleh ada kendaraan di depan dia :D. Daripada jantungan, saya pilih tidur, karena emang juga ngantuk berat. Tapi luar biasa ya si krucil, dia ga ada takut sama sekali, malah joget-joget ikutin musik karaoke yang diputar sepanjang perjalanan. Hahahaha. Tiba di Siantar, kamu di jemput dan lagi-lagi di perjalanan sampai rumah, saya tidur..dan krucil masih petakilan. Oh ya, rumah mertua saya ini ada di Saribudolok, Kabupaten Simalungun. Di sana itu dingin banget kakakkk…maklum, masih daerah gunung. Jadi kalau tidur harus pakai selimut tebal dan mandi jadi tantangan tersendiri. Saya emang anak tropis banget, ga kuat dingin..makanya ga kebayang tinggal di negeri yang ada musim dinginnya..Hahaha.

p_20170113_143841_hdr.jpg
Yeay, akhirnya sampai di rumah Inang & Opung (kata Bri)

Si Bri ini kalau panggil Bapak mertua saya itu Opung dan Ibu mertua saya itu Inang. Karena Ibu mertua saya ga mau terkesan tua dengan panggilan Opung. Setelah sampai, kami pun beres-beres dan di lanjut cerita sampai malam. Malam itu dihabiskan dengan.. nonton bareng debat pilkada DKI Jakarta 2017. Jangan tanya kami pilih siapa, karena kami ga ikutan nyoblos. Yang satu ktp Sumatra Utara, yang satu ktp Jawa Barat. Hehehehe. Senang sekali rasanya bisa berkumpul di sana dengan keadaan sehat. Jadi sebenarnya ya, kami pulang kampung itu bagian dari janji kami pada Bri kalau saya sudah sehat, kita bisa ke rumah Opung dan Inang. Dan Bri berdoa terus supaya saya sembuh dan bisa ke rumah Inang.

Day 2

Keesokan harinya, saya dan keluarga (termasuk si Bontot adik Pak B) pergi mengunjungi rumah Opung Pak B yang kami panggil Tua (Opung perempuan). Opung laki-laki sudah meninggal setahun lalu, yang kami sesali karena Pak B tidak bisa pulang saat itu karena situasi. Jadi kami hendak berziarah ke makam Opung yang ada di tengah ladangnya. Iya, orang di sana, kebanyakan dimakamkan di tengah ladang keluarga. Jadi jangan heran, sepanjang perjalanan, di kiri-kanan ada hamparan sawah atau ladang dan ada bangunan kecil disana. Itu makam. Bahkan ada beberapa makam yang di bangun besar sekali.

Di kampung Tua ini, yang jadi highlight liburan kami, karena selain berziarah, kumpul dengan keluarga, saya dan Bri dapat pengalaman baru yaitu ikut melihat panen durian! Iya, kami datang di saat tepat karena durian sedang di panen di sana

p_20170114_130324_hdr.jpg
Can you spot the Durians?

p_20170114_130201_hdr.jpg
Gambar yang lebih jelas

img_20170114_132734.jpg
Here we are. Ki-Ka : Saya, Bri, Pak B, Opung, Inang, Eyang (mama saya). Sambil was-was takut ada durian jatuh dan menimpa kepala kami..hehehe

Pokoknya saya norak banget dehhh, sebelumnya saya ini anti banget sama durian. Tapi kemarin nyoba, awalnya mabok setelah makan 2 biji, tapi kok ya ngeliat yang lain makan enak banget, jadinya ngiler dan kepingin nyoba lagi dan jadi suka. Hahahahaha.

Siapa yang paling senang saya jadi suka durian? Tentu Pak B, jadi dia bisa ajak saya beli durian kalau kami pulang nanti. Hahahaha. Bayangkan, kami pulang dengan 40 butir durian untuk dimakan ber-6 dalam waktu 3 hari (mama saya tidak suka soalnya). Jadi puaslah ya makan durian selama disana. Sebenarnya, selain durian, ada juga tanaman kopi dan coklat, tapi belum panen sepertinya.

Hari itu kami habiskan dengan bercengkrama dan tiba di rumah sudah malam. Bri senang sekali, berkali-kali cerita tentang ladang.

To be continue.. (kalau ga males, hehehe)