Kuntum Farmfield, Bogor

Sekitar 2 minggu yang lalu, saya dan Bri mengunjungi satu tempat wisata di Bogor yaitu Kuntum Farmfield. Sebenarnya ini kunjungan kali kedua kami, tapi rasanya lebih berkesan dari yang pertama dulu. Karena apa? Pertama, Bri sudah lebih besar dan lebih enjoy dengan kegiatan yang kami lakukan; Kedua, saya kali ini hanya datang berdua bareng Bri naik KRL dan angkot untuk sampai ke Kuntum.

Rumah saya memang masih seputaran Bogor, tapi coret banget, jadi kalau mau ke Bogor alternatifnya bisa naik angkot menerjang macet dikala weekend atau naik kereta dulu 1 stasiun ke Stasiun Bogor baru dilanjutkan naik angkot. Kenapa saya tidak pakai angkutan berbasis online? karena Bri lebih senang naik KRL dan angkot sepertinya. Hehehe.

Hari itu rencananya mendadak banget saya putuskan untuk ke Kuntum bersama Bri. Pak B ada pertemuan seharian, jadi otomatis kami tidak bisa jalan bareng seperti weekend biasanya. Awalnya saya mau ajak Bri ke planetarium yang ada di TIM. Sudah pede akan kesana, tetapi saat saya cek website-nya ternyata pada postingan terakhirnya (Bulan April/Mei 2017), planetarium ditutup sampai pemberitahuan selanjutnya karena ada perbaikan. Belum ada update mengenai tanggal dibuka kembalinya, jadi daripada zonk sudah jauh-jauh kesana, saya putuskan untuk menghabiskan weekend di Bogor saja. (Apakah ada yang tahu update mengenai pembukaan planetarium ini?).

Jadi perjalanan kami pun dimulai sudah agak siang, sekitar jam 10 berangkat. Awalnya pesimis nih bakal panas banget, anaknya bakal enjoy ga siang-siang, apa ke mall aja biar adem, dst..dst.. tapi karena sudah dijanjiin bakal ngasih makan kambing, si Bri semangat-semangat aja. Untungnya cuaca lagi bagussss, jadi ga panas, tapi ga hujan, adem-adem cantik gitu cuacanya meskipun kami sampai tengah hari bolong.

Dari rumah, kami naik ojek ke Stasiun Cilebut, dilanjut naik KRL ke Stasiun Bogor, dari stasiun Bogor yang ruame pol saat weekend kami naik angkot 03 ke depan Botani Square, dari sana kami naik angkot 01 (arah Ciawi) sampai ke Kuntum. Barangkali ada yang mau ngangkot seperti saya untuk kesana :).

Tiba di Kuntum, kami bayar tiket 40k/orang, Bri sudah harus bayar. Kalau tidak salah ingat, anak di bawah 2 tahun free.

Setelah di dalam Kuntum, kita bisa beli makanan untuk Kambing/Sapi/Marmut/Kelinci, harganya 1 bakul 5k, ada juga pelet untuk mereka harganya 2 bungkus 5k. Selain makanan, ada juga susu untuk kambing/sapi. Kayaknya sih kalau yang kambing 5k/botol, kalau yang sapi 10k/botol “tupperware” 500 ml. Untuk pelet ikan juga ada kokm 1 bungkus 5k.

Begitu melewati pemeriksaan tiket, ada jalan setapak yang kanannya ada tempat-tempat duduk di bawah pohon rindang, lalu di samping kiri ada kolam ikan. Untuk yang mau ngadem sebentar, enak sih tempatnya. Setelah itu ada tempat peminjaman caping/topi petani. Waktu saya datang sih, tidak ada penjaganya, jadi langsung ambil sesuai ukuran kepala. Kalau saya perhatiin sih, caping ini banyak yang cuma di tenteng sama orang, malah ngeribetin. Padahal berguna juga lho untuk menghalau panas. Jadi kalau yang enggan pakai caping sih, saya saranin pakai topi sendiri.

Yang kita kunjungi pertama kali adalah kandang Marmut. Marmut-nya ginuk ginuk kaya emaknya Bri. Dan jumlahnya banyak. Awalnya saya sendiri geli-geli gimana gitu, tapi demi anak ye..tapi kandangnya bersih jadi nyaman lah buat anak lari-larian kasih makan marmut. Di awal saya sudah wanti-wanti sama Bri, kalau hewannya tidak mau makan jangan dipaksa, tandanya mereka sudah kenyang. Apalagi kami datang siang, takutnya hewannya sudah kekenyangan dikasih makan pengunjung yang datang lebih pagi dari kami.

Jpeg
Marmut..mam rumput sini..
Jpeg
Ma..marmutnya mau makan ma

Meskipun si marmut super cute, ternyata Bri pengen pindah kasih makan ke kandang kambing. Dari awal kan memang dijanjikannya kasih makan kambing, jadi belum sah kalau tidak ke kandang kambing. Kami pun menuju kandang untuk kambing yang masih kecil, jadi bukan di kandang kayu, tapi di sepetak rumput yang dipagari kayu. Kasih makannya tentu dari luar pagar karena meskipun jinak, si kambing lebih gragas kalau lihat makanan.

Jpeg
Sini mbek..makan yang banyak. Saya cukup amazed karena Bri ga takut lho kasih makan kambing, meskipun tangannya kejilat kambing. hahaha

Di kandang kambing ini, ada satu pengunjung yang baru datang dan tahu-tahu ngambil makanan dari bakul kami untuk dikasih ke kambing, saya mau negur ga enak, akhirnya saya ajak Bri lanjut ke kandang kelinci saja. Tadinya bakul kami mau di bawa sama Bri, tapi saya bujuk supaya ditinggalkan saja dan kami beli yang baru. Untung anaknya mau, jadi tidak ada insiden rebutan bakul. Hahaha.. Kami pun lanjut ke kandang kelinci untuk kasih makan. Ternyata si kelinci ini tidak selincah si marmut atau si kambing saat disodori makanan, entah karena kekenyangan atau waktunya mereka tidur dan bermalas-malasan. Kami hanya sebentar di kandang kelinci, karena Bri sedikit bete, ga ada kelinci yang mau makan.

Screenshot_2017-07-17-14-33-01
Kelincinya ginuk-ginuk sampai malas bergerak. Hahaha

Saya agak heran sih, di kandang kelinci, kandang kambing, dan kandang marmut, pasti ada aja orang tua yang menegur sang anak “jangan begitu, kotor” “jangan dekat-dekat nanti dijilat”. Hahaha, namanya juga wisata kasih makan hewan, gimana caranya ya buat tetap bersih dan steril? Sebenarnya ada beberapa titik untuk cuci tangan, jadi kalau saya prefer anak kotor-kotoran (tapi diawasi jangan masukkan tangan ke mulut) lalu cuci tangan supaya bersih. Karena kalau dilarang-larang mereka jadi kurang enjoy untuk eksplorasi. Tapi who am i to judge? Mungkin ada alasan tertentu yang buat orang tua jadi protektif begitu. 🙂

Tibalah di kandang sapi yang mana Bri sama sekali tidak mau mendekat. Sepertinya dia terintimidasi ukuran sapi yang besar, trus waktu kami dekati, ada sapi yang pipis dong di kandang. Pipisnya deras banget kek grujukan ember, untung ga muncrat kemana-mana. Hahaha. Bri langsung tanya kenapa sapi pipis di kandang bukan di toilet. Aku kudu jawab gimana ya?

Jpeg
Sapinya gede banget, Ma..
Jpeg
Aku ga mau dekat-dekat! Takut..hahaha

Setelah kandang sapi kami lewati, kami melihat beberapa kandang. Ada angsa, ayam, burung, rusa..tapi ga terlalu lama singgah karena emaknya Bri stres ngeliat ayam dan angsa, sedangkan Bri bosan ngelihat rusa dan burung. Rusa ini jumlahnya jauuuuuhhhh lebih banyak kalau dilihat di trotoar depan Istana Bogor, jadi udah bosan kayaknya si Bri.

Jpeg
Angsanya berbaris rapi
Jpeg
Senangnya lihat yang hijau-hijau begini
Jpeg
Saya lupa ini lagi lihat apa ya..hehehe

Ada aktivitas yang seru banget kami lihat tapi tidak kami lakukan yaitu menagkap ikan di kolam. Di sepanjang jalan setelah kandng ayam, ada beberapa kolam ikan yang bisa di sewa untuk menangkap ikan pakai serokan ikan. Ada juga kolam besar untuk memancing. Tapi untuk menangkap ikan itu lebih seru dilakukan beramai-ramai (saya ga tanya sih berapa orang maksimal/minimalnya), jadi kami lewati karena kami cuma berdua. Hahaha.

Jpeg
Itu kolam buat nangkap ikan di sisi kiri dan kanan

Inilah highlight buat Bri sepanjang kunjungan kami : Naik Kuda! di ujung area Kuntum ini ada lapangan luas dimana kita bisa sewa naik kuda 1 putaran, harganya 30k/orang. Jadi meskipun 1 kuda, kalau yang naik 2 orang ya bayar 60k (misalnya orang tua yang mau mendampingi anaknya). Naik kuda ini baru buka jam 1 siang (mungkin break makan siang si mamangnya).

Jpeg
Sudah mendung
Jpeg
Ini track untuk naik kuda

Tadinya saya mau bujuk Bri supaya ga usah naik karena mahal, hahaha..tapi saat saya tawari mau naik sendiri atau tidak, dia bilang mau. Bri berani, katanya. Saya mah udah siap-siap kalau tiba-tiba dia jadi takut dan saya terpaksa membeli tiket tambahan. Tapi ternyata, she keeps her promise. Dia berani bahkan sangat excited untuk naik kuda sendiri. Duh, saya yang tiba-tiba ndredeg, apa bisa dia sendiri sampe wanti-wanti mamang penjaga kuda untuk putar balik kalau Bri tidak bisa diam dan bahaya.

Tapi Bri benar-benar berani, tenang, mantap pegangannya, dan semangat. Ditengah putaran, hujan turun cukup deras (meskipun sebentar) tapi masih bisa diterjang si mamang, saya yang khawatir si Bri bagaimana, untung saja dia pakai caping, jadi kepalanya kering. Setelah 1 putaran, Bri pun sampai dengan muka yang sangat senang dan bangga. Dia berulang kali bilang “Bri berani lho naik kuda sendiri” (haha..maap ya mang, ga dianggep sama Bri, padahal si mamang yang memastikan si kuda tetap on track)

Jpeg
That’s my girl!
Jpeg
Si mamang ala naruto, mukanya ditutup begitu. Hihi..Bri supppperrrr happpyyy setelah naik kuda ini.

Setelah selesai naik kuda, kami pun menyudahi kunjungan kami ke Kuntum karena ada anak tetangga yang khitanan dan kita diundang, jadi buru-buru pulang supaya terkejar waktunya. Sebenarnya ada area tanaman organik yang bisa dipetik dan dibeli, tapi saya skip kali ini karena anaknya ga minat (emaknya juga sih..haha).Kami menyempatkan makan siang sebelum akhirnya kembali berpetualang menaiki angkot dan KRL.

Saya rekomendasi untuk berwisata kesini kalau mengunjungi kota Bogor. Hiburan untuk semua umur. Memang lebih maksimal kalau anaknya sudah bisa enjoy (diatas umur 3 tahun), tapi tidak menutup kemungkinan dedek-dedek bayi juga senang melihatnya.

Advertisements

9 thoughts on “Kuntum Farmfield, Bogor

  1. Lucu yah Bri… Happy juga deh ngeliat anak2 happy.. Kalo anak yg ambil bakulan Bri td emg gak diawasi sm orang tuanya? Koq gak dibilangin jgn ambil punya temannya yaa…
    Btw, kepengen juga deh ajak Alom kesini Pit, next trip maybe yaahh..
    *aku panggil nama aja hah, krna kalo dari umur kamu masih adek aku… 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s