Di Gugu dan Di Tiru

Guru, di gugu dan di tiru..Ya, hari ini rasanya ingin sekali bercerita tentang guru-guru yang lekat dalam ingatan saya. Semenjak menikah dengan Pak B, otomatis saya memiliki orang tua berprofesi guru. Bapak mertua saya Kepala Sekolah di sebuah SMA dan Ibu mertua saya seorang guru Bahasa inggris di SMP. Buat mereka, pekerjaan sebagai guru itu prioritas. Sudah beberapa kali, Bapak merelakan waktu cuti yang sudah diambil untuk menengok anak cucu di pulau jawa karena panggilan tiba-tiba untuk rapat atau ada masalah di sekolahnya. Pernah suatu kali, beliau datang di hari minggu pagi, baru saja tiba di rumah kami beliau dapat telepon ada pekerjaan mendadak yang tidak dapat ditunda di hari senin pagi, maka minggu malamnya beliau langsung minta di belikan tiket untuk pulang ke sumatera. Kami sedikit kesal sih waktu itu, karena buyar sudah semua rencana yang disusun. Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga kewajiban dan prioritas beliau. Kami pun merelakan beliau kembali lagi ke sumatera malam harinya.

Dulu di SD, saya punya guru galak sekali. Guru matematika. Kalau beliau kasih tugas, jangan macam-macam. Salah satu soal, cubit sekali. Salah dua soal, cubit dua kali. Dan seterusnya. Sadis memang, apalagi untuk ukuran sekolah sekarang. Mungkin Bapak guru itu bisa-bisa dilaporkan ke polisi. Tapi herannya, semua murid respect sama beliau. Juga sayang pada beliau. Waktu beliau sakit, semua murid berinisiatif jenguk ke rumahnya. Rasanya tidak semua guru yang diberi perhatian seperti itu. Kok bisa ya? Ternyata karena Bapak ini di luar kelas bisa mengayomi. Dia tidak segan-segan memberikan pelajaran tambahan untuk yang dirasa masih tertinggal tanpa minta sepeser pun bayaran tambahan. Di luar kelas juga dia bisa menjadi teman yang baik, suka bercanda dan tertawa. Pernah suatu kali saya sakit cukup lama, begitu masuk ternyata ulangan matematika. Alamak! Saya salah 3 soal dari 10 soal yang diberikan. Selesai dibagikan nilainya, kami yang menjawab salah berjejer di depan untuk di cubit. Luar biasa takut rasanya. Tapi ternyata, cubitannya tidak sakit sama sekali. Entah karena saya habis sakit, jadi beliau tidak mencubit saya sekuat tenaga, atau memang selalu seperti itu cubitannya. Setelah dewasa, saya pikir-pikir mungkin beliau sengaja menciptakan kesan horror tapi tidak menyakiti supaya murid-murid sungguh-sungguh dalam belajar. Mungkin.

Semasa SMP, banyak guru yang cukup melekat di ingatan saya. Ada seorang Ibu guru geografi yang luar biasa hafal peta buta. Wah, kami murid-murid sangat mengagumi beliau. Bahkan murid-murid yang beruntung di ajar beliau, bisa ikutan hafal peta buta, termasuk saya. Sayangnya, setelah naik kelas dan tidak diajar beliau, menguap jugalah kemampuan saya mengenal peta buta. Hahaha. Ada juga kepala sekolah kami yang sangat bersahaja. Datang paling pagi, berdiri di dekat gerbang untuk menyapa murid-murid yang datang. Bahkan pernah saat saya piket dan datang lebih pagi, beliau sudah ada lho. Guru fisika lebih lucu-lucu lagi. Ada yang gaul luar biasa, mengajarnya santai tapi di mengerti. Tapi ada juga sih yang galak luar biasa, yang membuat kami memilih menghindar kalau berpapasan di lorong sekolah. Dulu di SMP saya, banyak mengajar guru senior yang hampir pensiun. Ada 2 Ibu guru yang sudah sepuh sekali. Mereka bertolak belakang secara kepribadian. Yang satu super ceria dan hangat dengan murid-murid, sedangkan yang lain menjaga wibawa dan cenderung jutek dengan murid-murid. Dulu dengan kurang ajarnya, murid-murid menjuluki mereka Angel dan Angel of Death (Oh no, maafkan kami Ibuuu…). Suatu hari, ada teman saya yang entah bagaimana caranya melihat foto mereka saat masih muda. Dia cerita kalau kedua Ibu sepuh ini sangat cantik di masa mudanya. Teman saya ini ditertawakan. Kalau Ibu yang kami juluki Angel sih mungkin saja, karena beliau di usia sekarang masih terlihat cantik, tapi Ibu yang satunya… Keesokan harinya teman kami ini bawa kamera (yes, karena masa saya SMP, boro-boro kami punya smartphone berkamera), dia menyelinap ke ruang guru membawa kamera poketnya dan diam-diam memotret foto kedua Ibu ini di berkas-berkas guru (waw, sungguh niat kamu kawan..hahahaha). Setelah hasil fotonya di cetak, dia menunjukkan kepada kami kalau ucapannya itu benar. Kami terperangah dong saking cantiknya kedua Ibu sepuh itu saat masih muda. Setelah hari itu, kami memanggil mereka Angel 1 dan Angel 2. Dan mungkin melihat sikap anak-anak yang menjadi lebih manis dan berbinar-binar setiap melihat Ibu Angel 2, beliau pun jadi lebih ramah dengan kami. Hahaha.

Kalau di kala SMA, banyak juga guru yang berkesan. Ada seorang Bapak Guru yang dia tidak bisa mengajar kalau tidak merokok. Beliau ini guru SMA. Jadi, sebelum mengajar, beliau berdiam diri di luar kelas merokok, setelah habis setengah batang beliau masuk kelas dan mulai mengajar. Jangan ditanya baunya, bau rokok yang menyengat. Tapi beliau ini pintar sekali sih, jadi anak-anak senang belajar fisika dengan dia. Setelah menjelaskan materi, beliau kasih kami tugas dan beliau keluar lagi untuk merokok sisa batang yang tadi belum habis. Ada juga Bapak Guru matematika yang senangnya meminta murid paling pintar di angkatan kami untuk membuat soal-soal ulangan harian untuk murid yang lainnya. Hahahaha, kacau benar. Ada yang kalau mengajar itu pasti muncrat-muncrat ngomongnya, duh..jadi pengen pakai payung kalau lagi diajar beliau dan pas kebagian duduk paling depan.

Sebenarnya masih banyak sih guru yang berkesan bagi saya, tapi nanti jadi puanjang buanget nih postingan. Hehehehe. Tentu saja tidak semua guru menyenangkan, selain itu beberapa oknum guru juga ada yang melakukan tindakan tidak terpuji. Tetapi sungguh bagi saya pribadi, guru adalah suatu profesi yang mulia dan patut, harus, wajib, kudu dihormati. Maka saat ada berita tentang seorang Bapak Guru muda di Sampang yang meninggal setelah dipukuli siswanya, karena siswanya tidak terima ditegur dengan di coret wajahnya dengan kuas lukis (setelah ditegur untuk tidak mengganggu dalam kelas dan tidak dipedulikan), saya terkejut. Kenapa sekarang banyak berita tentang murid (oknum) yang ganas terhadap gurunya yang notabene orang yang lebih tua darinya. Apa kalau kita kesal dan tersinggung lantas boleh memukuli orang sampai mati batang otak? Oh ya, dari berita yang saya baca, Bapak Guru ini masih muda, 27 tahun, baru menikah, dan istrinya sedang mengandung 4 bulan. Duka saya untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga tidak ada lagi kekerasan terjadi (guru ke murid atau murid ke guru) di lingkungan sekolah khususnya. Selamat jalan Bapak Ahmad Budi Cahyono, kepergianmu adalah teguran yang sangat keras bagi kami para orang tua agar sekuat tenaga mengajarkan kebaikan, sopan santun, dan rasa hormat kepada anak-anak kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s