Remah-remah ramah

Seringkali kita ada pada situasi harus beramah tamah dengan orang lain. Apalagi sepertinya di Indonesia, ramah tamah ini kayak sudah jadi keharusan (meskipun sekarang banyak yang juga yang tidak ramah, tapi marah marah 😁).

Beberapa kali saya jumpai dalam beramah tamah ini berubah menjadi kecanggungan karena salah pilih topik pembicaraan atau alasan-alasan lainnya.

1. Salah panggilan

Di suatu malam yang gelap (yha..kalo terang bukan malam keleusss), saya dan pak b ngopi di warung langganan. Baristanya kebetulan masih lebih muda dari kami dan beberapa kali berinteraksi dengan kami. Malam itu, kami juga memesan makanan pendamping kopi tapi kok ga dateng2. Lebih lama dari waktu biasanya. Maka pak b nanya ke barista (disana barista merangkap kasir), ternyata ada masalah di dapur sehingga menghambat datangnya makanan ke atas meja kami.

Mana roti bakar gurihkuu?

Sebagai permintaan maaf, mereka kasih kami dua buah roti manis dengan sebuah ramah tamah

“Maaf ya, kami lebih lama dari biasanya. Kami ga enak, apalagi Om dan Tante sudah sering kesini”

Saya, yang tadinya nyengir ngeliat roti gratis, berubah mood mendengar panggilan si barista sama saya. tante. Tante. TAnte. TANte. TANTe. TANTE !

No..no..no..i’m not that old

Yaelah Bang, paling kita beda 5 tahun, ngapa dah situ manggil sini Tante? Why? *insecuredetected*.

Pak B nahan ketawa dan mencoba menghibur dengan alasan aneh “mungkin dia ngeliat kepalaku udah botak, makanya dipanggil Om. Masak aku dipanggil Om, kamu dipanggil Kakak” 🀣🀣

2. Gara-gara perasaan “ga enak”

Ini sih kejadiannya saya sebagai pengamat. Saya melihat kejadian ini di commuter line. Alkisah di commuter line Bogor-Jakarta pada jam berangkat kerja dimana tempat duduk adalah hal yang sangat berharga dan langka (apabila tidak naik dari Stasiun Bogor), tersebutlah seorang bapak baik hati yang menawarkan tempat duduknya pada ibu yang berdiri di depannya.

Tidak seperti normalnya penumpang yang ditawari tempat duduk, si ibu malah mengoper penawaran pada mbak-mbak di sebelahnya. Dan herannya si mbak-mbak juga kelihatan ga enak sama ibu-ibu ini. Akhirnya mereka berdua saling berdebat siapa yang harus duduk.

Penumpang lain gemas pengen ngambil tempat duduk nganggur, tapi jaraknya susah ditembus karena kepadatan di commuter line. Akhirnya si bapak tadi duduk lagi dan langsung ambil pose tidur.

Si Ibu dan si mbak gigit jari. Oh ya, ternyata si Ibu dan si Mbak ini masih jauh turunnya. Haha. Dan semakin lama kereta semakin padat. Si Bapak tidak melek2 lagi sampai stasiun tujuan dia. Mungkin dia keki sama si Ibu πŸ˜‚.

3. Basbasbus

Basa basi busuk. Gitu kepanjangannya. Ini sih kerap terjadi di dalam segala kesempatan yang mengharuskan ramah tamah menjadi bagian di dalamnya. Misalnya arisan keluarga, kondangan, dan reuni.

Namanya juga busuk, berarti ini tidak baik untuk kesehatan. Makanan busuk bisa mengganggu kesehatan pencernaan, basbas busuk bisa mengganggu kesehatan pertemanan dan kekeluargaan.

Yah, tipikal pertanyaan tentang hal pribadi yang dilontarkan bukan karena peduli tetapi sebatas kepo atau bahkan ya pemecah keheningan. Seperti pertanyaan kapan nikah, kapan punya anak, kapan nambah anak, sekarang lagi isi ya, eh kok gemukan, eh kok kurusan, eh kok..eh kok.. eh kok kepo yaaaa? 😏

4. Kamu Tak Peka!

Beberapa bulan lalu, sepupu saya kehilangan anak setelah sang buah hati dipanggil Pencipta sebelum sempat bertukar tatapan dengan dunia. It was a great loss for us, especially for her. Jujur, saya amat berduka mendengar kabar itu.

Seminggu kemudian, sepupu saya mengadakan tahlilan untuk alm. putrinya. Kami pun bertukar cerita sebelum acara dimulai. Dia sungguh Ibu yang kuat, tetapi tentu masih hancur hati. Dia curhat ada beberapa orang yang coba beramah tamah dan memberi ucapan belasungkawa tetapi dari obrolannya menyudutkan si ibu. Kenapa bisa begitu, kenapa begini, seharusnya begini begitu, kamu sih tidak begini begitu, dst. Dia sempat sangat down dan menyalahkan diri sendiri karena hal ini. 

Ku cuma bisa urut dada mendengarnya. Mungkin maksud mereka baik (atau tidak), mungkin mereka belum pernah ditinggal pergi orang terdekat, atau mungkin ya lagi-lagi hanya mencari bahan pembicaraan. Tapi please, kalau ada orang berduka, cukuplah ucapkan belasungkawa, atau didengarkan kesedihannya, tapi jangan bumbui dengan pertanyaan macam begitu. Jangan hakimi, jangan tanya soal firasat, jangan tanya kronologi. Karena sudah cukup berat kondisinya. Kalau mereka mau cerita hal-hal tersebut, mereka akan cerita sendiri kok πŸ˜”.

5. Salah Sikon

Suatu hari, berkumpulah segerombolan orang yang berteman tapi sudah lama tak bersua. Saking lamanya, ada beberapa hal yang tidak terupdate. Ada salah seorang yang datang terlambat. Begitu sampai langsung mencoba beramah tamah

“Ehhh..pakabar nek? Gimana lo sama si itu? Jadi kan merit tahun depan?”

Krik..krik..padahal sebelum dia datang, si teman yang ditanya barusan curhat kalau dia udah pisah sama ‘si itu’ dan masih sedih sedihnya πŸ™ˆ

Akhirnya si telat di whatsapp sama salah seorang teman dan dia langsung canggung meminta maaf..hehe..untung tidak terjadi drama lebih lanjut.

Itu sih remah-remah ramah yang bikin canggung yang pernah saya alami atau saksikan atau dengarkan. Ada lagikah?


One thought on “Remah-remah ramah

  1. Yang no. 1 itu, gue sendiri lebih milih dipanggil Tante loh, daripada dipanggil Bunda atau Auntie (layaknya anak-anak kecil manggil Tante di jaman now). Anggep aja itu Barista masih anak kuliahan, jadi cincai lah manggil Tante hihihi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s