A Poem A Day

Ada drama korea yang baru-baru ini saya tonton. Judulnya A Poem A Day. Ceritanya ringan (oh plis jangan cari sinopsis di sini karena yang punya blog ga bisa nulis sinopsis 😅). Di setiap episodenya ada puisi yang dibacakan sebagai latar belakang situasi (meskipun kedengarannya membosankan, buat saya sih nggak 😄). Ada satu puisi yang paling ngena buat saya di episode 15 (yang lain ada juga yang ngena sih, tapi ini yang bikin aku obral air mata). Jadi pengen bagiin puisi ini di blog (terjemahan bahasa inggris, karena saya ga ngerti bahasa korea). Preambulenya panjang amat malih..langsung aja puisinya :

I Thought It Was Okay For Mothers To Do That (By Shim Soon Deok)

I thought it was okay for mothers to do that, even if she works herself to death on the farm fields.

I thought it was okay for mothers to do that, even if she sits on the furnace and eats a cold bowl of rice for lunch.

I thought it was okay for mothers to do that, even if she does laundry with her bare hands and cold water on a winter day.

I thought it was okay for mothers to do that, “I’m full. I’m not hungry.” even if she starves while feeding her family.

I thought it was okay for mothers to do that, even if her heels are so worn out that they make noises in her blanket.

I thought it was okay for mothers to do that, even if her fingernails are so worn out that they can’t even be clipped.

I thought it was okay for mothers to do that, even if father’s anger and our rebellion don’t faze her.

I thought it was okay for mothers to do that,“I miss your grandmother; I miss your grandmother.” I thought those were just complaints.
She woke up in the middle of the night and cried in silence.
When I saw that…

Ah, it was not okay for mothers to do that.

#

Ada beberapa hal yang mungkin tidak ibu saya atau saya alami seperti bekerja di ladang, mencuci di musim dingin (musim hujan iya), atau duduk dekat perapian, tapi entah kenapa saya merasa relatable dengan puisi ini. Aneh ya.

Aku si peniru

Aku si peniru yang ulung. Namaku anakmu.

Ketika kamu berteriak saat menyuruh sesuatu, aku meniru dengan berteriak ketika meminta sesuatu.

Ketika kamu tidak sabaran menunggu antrian minimarket, aku meniru dengan menyerobot giliran temanku saat bermain.

Ketika kamu bersumpah serapah di jalan raya, aku meniru kata-kata sumpah serapah sambil cekikikan karena tidak tahu apa artinya.

Ketika kamu semalaman sibuk dengan handphone saat aku ingin bermain denganmu, aku meniru dengan merengek-rengek minta diputarkan y*utube saat kamu ingin bermain denganku.

Ketika kamu menasihatiku dengan hal-hal bijaksana, maka aku mengingat dan menirukan nasihatmu saat kamu lupa melakukannya.

Ketika kamu meminta maaf untuk kesalahanmu padaku, maka aku meniru untuk meminta maaf saat aku tahu kalau aku salah, tapi maafkan aku karena seringkali aku belum tahu kalau yang kulakukan itu salah.

Ketika kamu memaafkanku saat aku melakukan kesalahan, maka aku juga berkata memaafkan kalau kamu minta maaf, meskipun aku masih kesal dengan omelanmu.

Ketika kamu mengajak aku berdoa setiap hari, maka aku akan mengingat dan meniru dengan berdoa sendiri meskipun saat aku mau tidur kamu belum sampai di rumah karena kereta gangguan saat pulang kerja.

Aku si peniru ulung. Sebelum aku bisa menganalisa sendiri bagaimana harus bersikap, aku hanya meniru dari apa yang kamu atau sekitarku lakukan.

Aku si peniru ulung.