Kuntum Farmfield, Bogor

Sekitar 2 minggu yang lalu, saya dan Bri mengunjungi satu tempat wisata di Bogor yaitu Kuntum Farmfield. Sebenarnya ini kunjungan kali kedua kami, tapi rasanya lebih berkesan dari yang pertama dulu. Karena apa? Pertama, Bri sudah lebih besar dan lebih enjoy dengan kegiatan yang kami lakukan; Kedua, saya kali ini hanya datang berdua bareng Bri naik KRL dan angkot untuk sampai ke Kuntum.

Rumah saya memang masih seputaran Bogor, tapi coret banget, jadi kalau mau ke Bogor alternatifnya bisa naik angkot menerjang macet dikala weekend atau naik kereta dulu 1 stasiun ke Stasiun Bogor baru dilanjutkan naik angkot. Kenapa saya tidak pakai angkutan berbasis online? karena Bri lebih senang naik KRL dan angkot sepertinya. Hehehe.

Hari itu rencananya mendadak banget saya putuskan untuk ke Kuntum bersama Bri. Pak B ada pertemuan seharian, jadi otomatis kami tidak bisa jalan bareng seperti weekend biasanya. Awalnya saya mau ajak Bri ke planetarium yang ada di TIM. Sudah pede akan kesana, tetapi saat saya cek website-nya ternyata pada postingan terakhirnya (Bulan April/Mei 2017), planetarium ditutup sampai pemberitahuan selanjutnya karena ada perbaikan. Belum ada update mengenai tanggal dibuka kembalinya, jadi daripada zonk sudah jauh-jauh kesana, saya putuskan untuk menghabiskan weekend di Bogor saja. (Apakah ada yang tahu update mengenai pembukaan planetarium ini?).

Jadi perjalanan kami pun dimulai sudah agak siang, sekitar jam 10 berangkat. Awalnya pesimis nih bakal panas banget, anaknya bakal enjoy ga siang-siang, apa ke mall aja biar adem, dst..dst.. tapi karena sudah dijanjiin bakal ngasih makan kambing, si Bri semangat-semangat aja. Untungnya cuaca lagi bagussss, jadi ga panas, tapi ga hujan, adem-adem cantik gitu cuacanya meskipun kami sampai tengah hari bolong.

Dari rumah, kami naik ojek ke Stasiun Cilebut, dilanjut naik KRL ke Stasiun Bogor, dari stasiun Bogor yang ruame pol saat weekend kami naik angkot 03 ke depan Botani Square, dari sana kami naik angkot 01 (arah Ciawi) sampai ke Kuntum. Barangkali ada yang mau ngangkot seperti saya untuk kesana :).

Tiba di Kuntum, kami bayar tiket 40k/orang, Bri sudah harus bayar. Kalau tidak salah ingat, anak di bawah 2 tahun free.

Setelah di dalam Kuntum, kita bisa beli makanan untuk Kambing/Sapi/Marmut/Kelinci, harganya 1 bakul 5k, ada juga pelet untuk mereka harganya 2 bungkus 5k. Selain makanan, ada juga susu untuk kambing/sapi. Kayaknya sih kalau yang kambing 5k/botol, kalau yang sapi 10k/botol “tupperware” 500 ml. Untuk pelet ikan juga ada kokm 1 bungkus 5k.

Begitu melewati pemeriksaan tiket, ada jalan setapak yang kanannya ada tempat-tempat duduk di bawah pohon rindang, lalu di samping kiri ada kolam ikan. Untuk yang mau ngadem sebentar, enak sih tempatnya. Setelah itu ada tempat peminjaman caping/topi petani. Waktu saya datang sih, tidak ada penjaganya, jadi langsung ambil sesuai ukuran kepala. Kalau saya perhatiin sih, caping ini banyak yang cuma di tenteng sama orang, malah ngeribetin. Padahal berguna juga lho untuk menghalau panas. Jadi kalau yang enggan pakai caping sih, saya saranin pakai topi sendiri.

Yang kita kunjungi pertama kali adalah kandang Marmut. Marmut-nya ginuk ginuk kaya emaknya Bri. Dan jumlahnya banyak. Awalnya saya sendiri geli-geli gimana gitu, tapi demi anak ye..tapi kandangnya bersih jadi nyaman lah buat anak lari-larian kasih makan marmut. Di awal saya sudah wanti-wanti sama Bri, kalau hewannya tidak mau makan jangan dipaksa, tandanya mereka sudah kenyang. Apalagi kami datang siang, takutnya hewannya sudah kekenyangan dikasih makan pengunjung yang datang lebih pagi dari kami.

Jpeg
Marmut..mam rumput sini..
Jpeg
Ma..marmutnya mau makan ma

Meskipun si marmut super cute, ternyata Bri pengen pindah kasih makan ke kandang kambing. Dari awal kan memang dijanjikannya kasih makan kambing, jadi belum sah kalau tidak ke kandang kambing. Kami pun menuju kandang untuk kambing yang masih kecil, jadi bukan di kandang kayu, tapi di sepetak rumput yang dipagari kayu. Kasih makannya tentu dari luar pagar karena meskipun jinak, si kambing lebih gragas kalau lihat makanan.

Jpeg
Sini mbek..makan yang banyak. Saya cukup amazed karena Bri ga takut lho kasih makan kambing, meskipun tangannya kejilat kambing. hahaha

Di kandang kambing ini, ada satu pengunjung yang baru datang dan tahu-tahu ngambil makanan dari bakul kami untuk dikasih ke kambing, saya mau negur ga enak, akhirnya saya ajak Bri lanjut ke kandang kelinci saja. Tadinya bakul kami mau di bawa sama Bri, tapi saya bujuk supaya ditinggalkan saja dan kami beli yang baru. Untung anaknya mau, jadi tidak ada insiden rebutan bakul. Hahaha.. Kami pun lanjut ke kandang kelinci untuk kasih makan. Ternyata si kelinci ini tidak selincah si marmut atau si kambing saat disodori makanan, entah karena kekenyangan atau waktunya mereka tidur dan bermalas-malasan. Kami hanya sebentar di kandang kelinci, karena Bri sedikit bete, ga ada kelinci yang mau makan.

Screenshot_2017-07-17-14-33-01
Kelincinya ginuk-ginuk sampai malas bergerak. Hahaha

Saya agak heran sih, di kandang kelinci, kandang kambing, dan kandang marmut, pasti ada aja orang tua yang menegur sang anak “jangan begitu, kotor” “jangan dekat-dekat nanti dijilat”. Hahaha, namanya juga wisata kasih makan hewan, gimana caranya ya buat tetap bersih dan steril? Sebenarnya ada beberapa titik untuk cuci tangan, jadi kalau saya prefer anak kotor-kotoran (tapi diawasi jangan masukkan tangan ke mulut) lalu cuci tangan supaya bersih. Karena kalau dilarang-larang mereka jadi kurang enjoy untuk eksplorasi. Tapi who am i to judge? Mungkin ada alasan tertentu yang buat orang tua jadi protektif begitu. 🙂

Tibalah di kandang sapi yang mana Bri sama sekali tidak mau mendekat. Sepertinya dia terintimidasi ukuran sapi yang besar, trus waktu kami dekati, ada sapi yang pipis dong di kandang. Pipisnya deras banget kek grujukan ember, untung ga muncrat kemana-mana. Hahaha. Bri langsung tanya kenapa sapi pipis di kandang bukan di toilet. Aku kudu jawab gimana ya?

Jpeg
Sapinya gede banget, Ma..
Jpeg
Aku ga mau dekat-dekat! Takut..hahaha

Setelah kandang sapi kami lewati, kami melihat beberapa kandang. Ada angsa, ayam, burung, rusa..tapi ga terlalu lama singgah karena emaknya Bri stres ngeliat ayam dan angsa, sedangkan Bri bosan ngelihat rusa dan burung. Rusa ini jumlahnya jauuuuuhhhh lebih banyak kalau dilihat di trotoar depan Istana Bogor, jadi udah bosan kayaknya si Bri.

Jpeg
Angsanya berbaris rapi
Jpeg
Senangnya lihat yang hijau-hijau begini
Jpeg
Saya lupa ini lagi lihat apa ya..hehehe

Ada aktivitas yang seru banget kami lihat tapi tidak kami lakukan yaitu menagkap ikan di kolam. Di sepanjang jalan setelah kandng ayam, ada beberapa kolam ikan yang bisa di sewa untuk menangkap ikan pakai serokan ikan. Ada juga kolam besar untuk memancing. Tapi untuk menangkap ikan itu lebih seru dilakukan beramai-ramai (saya ga tanya sih berapa orang maksimal/minimalnya), jadi kami lewati karena kami cuma berdua. Hahaha.

Jpeg
Itu kolam buat nangkap ikan di sisi kiri dan kanan

Inilah highlight buat Bri sepanjang kunjungan kami : Naik Kuda! di ujung area Kuntum ini ada lapangan luas dimana kita bisa sewa naik kuda 1 putaran, harganya 30k/orang. Jadi meskipun 1 kuda, kalau yang naik 2 orang ya bayar 60k (misalnya orang tua yang mau mendampingi anaknya). Naik kuda ini baru buka jam 1 siang (mungkin break makan siang si mamangnya).

Jpeg
Sudah mendung
Jpeg
Ini track untuk naik kuda

Tadinya saya mau bujuk Bri supaya ga usah naik karena mahal, hahaha..tapi saat saya tawari mau naik sendiri atau tidak, dia bilang mau. Bri berani, katanya. Saya mah udah siap-siap kalau tiba-tiba dia jadi takut dan saya terpaksa membeli tiket tambahan. Tapi ternyata, she keeps her promise. Dia berani bahkan sangat excited untuk naik kuda sendiri. Duh, saya yang tiba-tiba ndredeg, apa bisa dia sendiri sampe wanti-wanti mamang penjaga kuda untuk putar balik kalau Bri tidak bisa diam dan bahaya.

Tapi Bri benar-benar berani, tenang, mantap pegangannya, dan semangat. Ditengah putaran, hujan turun cukup deras (meskipun sebentar) tapi masih bisa diterjang si mamang, saya yang khawatir si Bri bagaimana, untung saja dia pakai caping, jadi kepalanya kering. Setelah 1 putaran, Bri pun sampai dengan muka yang sangat senang dan bangga. Dia berulang kali bilang “Bri berani lho naik kuda sendiri” (haha..maap ya mang, ga dianggep sama Bri, padahal si mamang yang memastikan si kuda tetap on track)

Jpeg
That’s my girl!
Jpeg
Si mamang ala naruto, mukanya ditutup begitu. Hihi..Bri supppperrrr happpyyy setelah naik kuda ini.

Setelah selesai naik kuda, kami pun menyudahi kunjungan kami ke Kuntum karena ada anak tetangga yang khitanan dan kita diundang, jadi buru-buru pulang supaya terkejar waktunya. Sebenarnya ada area tanaman organik yang bisa dipetik dan dibeli, tapi saya skip kali ini karena anaknya ga minat (emaknya juga sih..haha).Kami menyempatkan makan siang sebelum akhirnya kembali berpetualang menaiki angkot dan KRL.

Saya rekomendasi untuk berwisata kesini kalau mengunjungi kota Bogor. Hiburan untuk semua umur. Memang lebih maksimal kalau anaknya sudah bisa enjoy (diatas umur 3 tahun), tapi tidak menutup kemungkinan dedek-dedek bayi juga senang melihatnya.

Ngopi di Bogor

Nulis post ini sebenarnya ga enak hati, hahaha…karena apa? karena saya sebenarnya ga ngerti-ngerti amat tentang kopi. Bisa dibilang saya ini awam tentang kopi, tapi saya menyukai kegiatan ngopi dan juga tentunya menyukai rasa kopi. Kesukaan ini baru berlangsung satu setengah tahun belakangan, diawali dengan ajakan Pak B ke sebuah tempat ngopi yang ternyata ampuh jadi mood booster saya yang sedang penat.

Dulu, adakalanya sesekali saya suka nongkrong kekinian di tempat waralaba ngopi yang terkenal itu tapi kebanyakan hanya pesan yang kombinasi espresso dengan flavoured syrup atau dengan susu disambi dengan brownies atau pastry lainnya. Tetapi, makin kesini, saya makin jarang ke tempat itu karena kok ngerasa semua minumannya kemanisan meski tanpa ekstra gula dan brewed coffenya agak terasa hambar buat saya. Selain itu, emang mahal sih (hahaha..alasannya muter-muter, tapi motif utamanya ya harga..).

Akhirnya saya lebih suka ke tempat-tempat ngopi yang bertaburan di Kota Bogor ini. Dari banyaknya tempat ngopi, kami baru mengunjungi beberapa tempat, tapi yang agak sering kami kunjungi itu ada 3 tempat. Hehe. Sebelum preambulenya kepanjangan dan ngalor ngidul, ini tulisan tentang kesan saya ngopi di tempat-tempat ini (bukan review loh, review mah harus sama yang ahli..hehe).

1. Baked & Brewed Coffee & Kitchen

Open everyday: Mon-Thu 08.00 – 22.00 Fri-Sun 08.00 -23.00. IG : Baked&Brewed.

Alamat : Jalan Salak No.6 (Colonial Building), Bogor (Dekat Lapangan Sempur)

Nah, ini tempat ngopi pertama yang saya kunjungi karena diajak Pak B. Frekuensi kami ke tempat ini paling ga 1 minggu 1 x. Kesan pertama waktu saya datang, tempatnya enak, lega, dan tenang. Dekorasinya minimalis, dominan warna hitam-putih. Tapi sekarang mereka sudah pindah dari tempat awal yang sering saya kunjungi. Tempat barunya ini juga enak dan yah..instagramable deh kalo kata anak sekarang. Menyenangkan pokoknya lah. Haha.

Minuman kesukaan saya disini Cafe Mocha (Campuran Kopi & Coklat (Merk Korte kalo tidak salah coklatnya, seperti yang tertera di Menu)), tanpa gula, tapi sedikit fresh milk (sepertinya) untuk latte artnya.

IMG_20161105_141420
Ini penampakannya tanpa edit, tanpa filter, pake kamera hengpong jadul (ter-LamTur banget gw)

Tapi kadang saya suka ganti-ganti sih pesenan, kadang Coffee Latte atau Manual Brewed mereka. Saya mah standar sukanya, V60 (kadang Japanese Style) dengan biji kopi Kenya. Iya, disini saya ga pernah ngicip biji kopi yang lain. Kalau minuman paling 3 itu yang suka saya pesan disini. Sesekali ngicip kopi Pak B. Dia suka pesan long black atau milkpresso. Saya ga kuat kalau pesan yang long black, pahitnya ngalahin kepahitan hidup. Untuk harga seinget saya untuk kopinya 25k-45k.

IMG_20170101_105703
Ini Coffee Latte, unyu ya Latte Artnya
IMG_20170628_141353_769
Saya suka sama detail ukiran di nampan, menurut saya itu keren :D. Foto ini saya ambil dari tempat duduk bar, karena sofanya tidak ada yang kosong.

Selain kopinya, disini snack-nya enak-enak. Favorit saya Cheese Fries dan Cinnamon Toast. Cheese Fries itu kentang goreng di taburi potongan smoked beef dan siraman keju mozarela. Kalau Cinnamon Toast ya roti panggang dengan bubuk cinnamon dan gula halus dan disajikan dengan 1 scoop es krim vanilla. Too bad, saya ga punya foto-fotonya buat bikin ngiler. Karena sebenarnya saya emang agak sungkan ngambil foto waktu makan (tapi kopi-nya tetep di foto ye..haha).

Menu makanannya banyak yang baru sih di tempat mereka sekarang, tapi kami jarang pesan menu makanan. Pernah sekali pesan rice bowl, sekali pesan spaghetti carbonara, sekali pesan mac & cheese, sekali pesan nasi goreng tom yum. Saya suka-suka aja sih, tapi yang nasgor tom yum saya kurang cocok karena emang dasarnya saya ga suka tom yum tapi penasaran. Hahaha. Untuk harga snack & makanannya, eng ing eng..maap saya lupa..hehehe, tapi ya keknya dibawah 80k semua kok.

Disini baristanya dan pegawainya baik2, di tempat yang lama dulu kalau kita datang dan pulang akan disambut “Welcome” dan “Thank you”. Kalau di tempat yang baru, seinget saya sih nggak, tapi disambut pake senyuman karena begitu pintu masuk langsung tempat order.

Recommended deh tempat ini mah, cuma emang agak tricky cari spot parkir disini, soale ga terlalu besar tapi ramai pengunjung.

2. Rumah Seduh

Open daily Senin – Jumat 09.00 – 21.30 Sabtu – Minggu 09.00 – 22.30. IG : Rumah_Seduh_

Alamat : Jalan Bogor Baru Blok AX No 5b (di pinggir jalan, kalau dari Jl Pajajaran Bogor, belok di McD Lodaya, ikut jalur angkot 05, sebelah kanan jalan)

IMG-20170712-WA0002_1
Ciri khas Rumah Seduh adalah tembok yang ditempeli kayu warna-warni. Maafkan model yang tidak fotogenik dan sedang menikmati tetes terakhir kopinya.
IMG_20170630_192207_324
Nah..ini modelnya lebih cerah dan warna temboknya lebih keluar. Ternyata background tergantung model. Kalau modelnya burem, maka buremlah backgroundnya (maksa bener)

Rumah Seduh ini adalah tempat yang terbaru kita kunjungi. Awalnya karena kita ga dapet parkir di tempat ngopi pertama, trus, ga dapet tempat duduk non smoking di tempat ngopi kedua, makanya kita cari tempat ngopi ketiga dan dapatlah Rumah Seduh ini. (niat banget kan mau ngopi? hahaha..)

Disini saya selalu pesan Manual Brewed Japanese Style dengan biji kopi yang berbeda-beda. Disini semua biji kopinya lokal. Yang sudah saya coba sih Lintong, Flores Manggarai, Toraja, dan Ijen. Favorit saya Lintong karena body-nya lebih pas di lidah saya. Yang paling tidak favorit buat saya Toraja karena asaaammm.. tapi Pak B senang-senang saja. Saya juga selalu mencicip punya Pak B. Biasanya sih dia pesan V60 atau Vietnam Drip (pakai Condensed Milk alias Susu Kental Manis, kalau tidak salah sekitar 15 ml (atau 20 ml ya?)). Harga kopinya sekitaran 20k-40k sepertinya. Selain kopi, ada juga minuman lain seperti teh, tapi saya tidak pernah nyoba jadi tidak dibahas ya.

Makanan disini juga banyak, tapi yang selalu saya pesan sih Chicken Wings dan Rice Bowl Beef. Belum pernah coba yang lain. Terakhir kesini ada display untuk pastry tapi belum ada pastry-nya. Katanya sih coming soon.

IMG-20170712-WA0001
Tolong abaikan muka saya dan piring berisi tulang chicken wings ya, please. Yang mau saya tunjukkin ya coffee shop ini (saya duduk di bagian pojok, lurus dari pintu masuk dan ini non smoking area). Kalau yang smoking area ada di sebelah kanan (dari pintu masuk) dan di lt.2. Lihat display untuk pastry yang masih kosong  dengan latar belakang Mbak Usi, barista yang katanya baru 1 minggu gabung

Disini baristanya juga baik-baik, ramah-ramah. Kalau mereka lagi ga kerja, kadang-kadang bisa diajak diskusi soal kopi. Ada 3 orang yang saya tahu, Mas Widi, Mas Rey, dan Mbak Usi. Saya direkomendasiin sama Mas Rey 1 tempat ngopi namanya Rumah Kopi Ranin (sepertinya pemiliknya sama atau ada hubungan gitu..). Katanya termasuk pioneer di kota Bogor, tapi kami belum sempat kesana sih.

Lagi-lagi kendala disini adalah tempat parkir. Haha.. tricky dah emang masalah perparkiran ini.

Saya sih rekomendasiin tempat ini.

3. Maraca Coffee

TIAP JUMAT BUKA JAM 15.00 Selain jum’at buka jam 09.00. IG : maracacoffee

Alamat : Jl. Jalak Harupat No.9A, Babakan, Bogor Tengah, Kota Bogor (dari arah Regina Pacis, mengarah ke lapangan Sempur, lurus aja, disebelah kiri jalan, di dalam penginapan (lupa namanya))

Sayang banget, untuk tempat ini saya sama sekali ga ada foto pribadi. Bisa cus langsung dilihat di instagramnya. Padahal tempat ini keren loh. Ada perpustakaan kecil didalamnya. Jadi memang konsepnya ngopi sambil baca.

Oh ya, parkirannya luas, hehe..karena gabung sama parkiran penginapan. Saya disini belum banyak nyoba kopi sih. Cuma Manual Brewed dengan biji kopi Gayo (Aceh). Oh ya, pernah sekali pesan latte. Kopinya (manual brewed ataupun latte) enak, lebih light dibanding 2 tempat yang sebelumnya, tapi tetap mantap rasanya. Harganya paling terjangkau (kisaran 20k-35k, kalau tidak salah ingat).

Makanannya saya pernah pesan chicken wings, ukurannya agak kecil tapi sambelnya paling enak. Saya ga tahu ini sambel buat sendiri apa sambel botolan, tapi enak deh. Hehe.. Selain itu makanannya banyak, tapi belum pernah nyoba.

Plus poin disini karena konsepnya ngopi sambil baca, jadi ga awkward kalo lama-lama disini sambil baca (saya pernah nungguin Pak B sampai 2.5 jam disini). Cuma sayang sekali tempat duduk di non smoking areanya tidak banyak, jadi saya biasanya ga dapet tempat duduk sehingga terpaksa cari tempat lain. Kalau smoking areanya sih luas kok, cuma karena biasa bawa si bocil, ga mungkin di smoking area.

Barista dan pegawainya? tentu ramah dong ya..kalau ga ramah, saya biasanya ga mau berkunjung lagi. Hahaha. (anaknya baperan).

Apakah saya merekomendasikan tempat ini? Of course lah ya..hehehe

Demikian kesan-kesan saya di beberapa tempat kopi. Kalau ke Bogor, boleh banget mampir kalau suka ngopi. 🙂

 

Kebiasaan ?

Well, akhir-akhir ini ada hal yang berputar-putar di kepala saya dan ga enak kalau tidak dikeluarkan. Seperti kent*t yang bisa bikin senewen kalo ditahan kelamaan. Saya lagi senang mengikuti jejaring sosial insta*ram. Memang awalnya hanya untuk kepo-kepo artis favorit saya (iya, artis Korea..masalah? :p) tapi lama-kelamaan ada aja yang bisa dilihat-lihat di sana termasuk gambar-gambar meme dan akun gosip (ea..). Kalau meme yang lucu (kebanyakan kartun) sih saya suka ikut ketawa tapi kalau meme yang ngejadiin fisik seseorang sebagai lelucon nasional, saya agak kurang sreg.

Menurut saya sih itu masuk kategori pem-bully-an massal. Memang dulu waktu jaman-jaman saya alay, saya ikut tertawa dan mungkin ikut menyebarkan (duh..malu) meme tersebut. Tapi semakin saya tua (Iya, udah saya ngaku aja kalo udah tua), saya makin ga enak hati melihat meme seperti itu. Entah karena selera humor saya menurun atau empati saya meningkat.

Meme seperti apa yang saya maksud? yah, misalnya menyangkut warna kulit seseorang atau berat badan seseorang atau bentuk fisik yang berbeda dari kebanyakan orang dan menurut si pembuat meme itu lucu. Yah, yang seperti itu, mengerti kan ya? hehe.

Selain meme tersebut, ada juga bentuk pem-bully-an massal yang menurut saya kelewatan. Yaitu komen-komen di postingan yang menyerang seseorang tanpa alasan yang jelas kenapa dia diserang (yang ada alasan aja, saya risih bacanya), trus komen-komen tersebut di screenshot dan dijadiin bahan bercandaan apalagi kalau sampai viral.

Yang menarik perhatian saya belakangan ini adalah tentang rumor yang menyebut Che*sea I*lan dekat dengan B*stian St*el. Ini rumor yang akhirnya trending di dunia maya dengan tajuk #FPI (Front Pembela I*lan). Tajuk ini menyebabkan komen-komen massive di jejaring sosial yang menghina B*stian secara terang-terangan. Ada yang menyamakan dia dengan botol kecap, knalpot bocor, tukang jualan papeda (apa salah tukang jualan papeda coba diseret-seret buat nge-bully orang), dan buanyak lagi yang saya ga tega buat nulisnya.

Hal ini disebabkan oleh beberapa orang yang merasa mereka berdua tidak cocok trus membuat meme/twit “lucu” trus banyak orang lain yang merasa sependapat trus ikut-ikutan bikin sampai viral dan jadi tertawaan banyak orang. Saya tidak habis pikir, segitu gampangnya ya menjatuhkan image orang karena pendapat pribadi. Apa sudah jadi kebiasaan melakukan pem-bully-an seperti ini.

Saya bukan fans atau haters kedua orang ini, tapi saya cuma ga habis pikir betapa orang bisa dengan entengnya mengeluarkan peryataan jahat dan menganggapnya lucu. Kalau menurut kita mereka ga cocok, so what? Emang situ kenal sama orangnya? Kebayang ga sih kalo orang tua si cowok ini baca komen-komen begitu tentang anaknya? Atau si cowok ini yang notabene masih sangat muda depresi dengan kebencian yang tidak perlu ini? He doesn’t even doing something wrong seperti mendekati istri orang atau pacar orang atau yang sejenisnya. Cuma gara-gara anggapan tidak cocok dari fans si cewek yang akhirnya merasa berhak ngata-ngatain si cowok.

Oh no, mungkin banyak yang bilang resiko jadi artis, tapi memangnya kita bisa semena-mena memb-bully orang yang (menurut saya) tidak salah karena nafsu pribadi kita. Apakah kita dibenarkan menyebarkan kebencian yang sangat tidak perlu seperti ini?

Maaf kalau tulisan ini kesannya saya yang paling benar. Tapi sungguh, ini hanya uneg-uneg dari hati saya. Semoga kebiasaan kita mem-bully ini bisa ditahan supaya tidak semakin banyak kebencian di sebarkan.

48194205
Kalo meme seperti ini sih, saya okelah..

My Life is Random

Beberapa waktu belakangan ini kayaknya ga ada hal yang ingin saya tulis di blog, tapi demi blog ga mati suri, saya akan tuliskan saja beberapa hal random yang sedari beberapa waktu lalu saya alami.

Random #1

Saya dan Bri punya beberapa tokoh imajiner dalam cerita sebelum tidur yang jadi ritual kami. Tapi dari semua tokoh imajiner yang ada, Bri paling ingat dengan 3 anak bebek bernama Kwak-kwak, Kwik-kwik, dan Kwok-Kwok. Bukan, ini bukan nama keponakan Donal Bebek 😀 maapkan saya yang kurang kreatif ini.

Suatu malam, Bri susah sekali tidur, dia minta terus-terusan di ceritain sedangkan saya sudah nguantuk buanget. Cerita saya makin lama makin ga seru, terakhir saya ceritakan Kwak-kwak, Kwik-kwik, dan Kwok-kwok jalan-jalan ke museum naik bis (?). Hahaha. Ceritanya sudah setengah sadar.

Dan akhirnya Papa come to the rescue, Pak B menawarkan dia yang melanjutkan cerita! Saya mah hore banget, tapi kok ya saya curi dengar ceritanya heboh sekali sampai pakai gerakan. Saya jadi melek lagi dan ikut mendengarkan. jadi cerita Pak B yang super imajinatif menurut saya adalah begini:

“Suatu hari, Kwak-kwak, Kwik-kwik, dan Kwok-kwok jalan-jalan ke bulan.. (jeda, dilanjutkan peragaan jalan astronot), di bulan mereka ketemu Pitecantropus (? saya mulai mengernyit), lalu tidak lama mereka ketemu lagi dengan Gatot Kaca (diselingi peragaan pamer otot yang heboh), terakhir mereka ketemu Sangkuriang! Akhirnya 3 anak bebek, pitecantropus, gatot kaca, dan sangkuriang bahu membahu membangun seribu candi dibantu Naruto (?) yang mengeluarkan jurus seribu bayangan”.

Hahahahahha..saya ga kebayang deh kok bisa-bisanya dia cerita begitu. Lalu apakah Bri tidur setelah itu? Cencu tidak lah yaw…dia malah seger trus nanya-nanya, apa itu Pitecantropus, Gatot Kaca, Sangkuriang, dan Naruto. Wkwkwkwk. Rasain dah, mending gw tinggal tidur!

Lesson learned : kalau mau anak cepat tidur jangan cerita dengan banyak tokoh dan kosakata baru :’D

Random #2

Di suatu sore yang semilir-semilir, terdengar suara dari jauh “Ting..ting..ting, bakso enak”. Karena tidak berencana makan bakso, jadi kami mengabaikan suara tukang bakso itu sembari mengerjakan pekerjaan lain tanpa menyadari ada 2 kaki kecil yang menyelinap keluar pintu dan berdiri di balik pagar.

Suaranya yang biasanya teriak-teriak tiba-tiba menghilang, barulah kami menyadari anak ini sudah keluar rumah (untung pagar terkunci). Saya pun keluar untuk memastikan, saat itulah saya melihat dia bicara dengan suara yang menurut saya cukup pelan “Bang..Bang Bakso”. Doh! dia manggil tukang bakso, untung suaranya pelan. Srrt..saya buru-buru menghampiri dia untuk menggiring dia balik ke rumah sebelum dia teriak. Tapi..eh tapi, si Abang Bakso pendengarannya super sonik, dia denger dong!! Dia menghampiri rumah dan tanpa basa-basi langsung tanya “Berapa mangkok, Bu?”

Akhirnya sore itu kami makan bakso yang semula tidak direncanakan ini. Doh Bri, jangan semua tukang dipanggilin ya..Bangkrut nak, bangkrut.. 😀

Lesson learned : Well, hmm..jangan biarkan tukang-tukang lewat depan rumah? 😀

Random #3

Dulu, saat saya masih kecil banget, saya sering menginap di rumah Pakde (Bapak Gede) dan Bude (Ibu Gede) saya. Bude saya ini kakaknya Mama saya nomor 2. Saya senang sekali menginap di rumah mereka karena ada kakak-kakak sepupu saya yang cowok semua dan udah beranjak abg. They treat me like princess!

Di suatu waktu saat saya menginap, terjadilah kehebohan dari kamar mandi. Pakde saya teriak “Didittttt!!!! ini apa yang kamu taro di tempat odol!” Rupanya, kakak sepupu saya yang namanya Mas Didit, menaruh facial foam (Biore) di gelas sikat gigi, jadi Pakde saya kira itu odol dan dia akhirnya pakai biore buat sikat gigi. Hahahahahahha. Bukannya takut, Mas Didit (dan kami semua) ketawa terpingkal-pingkal. Lagian Pakde sikat gigi ga pake baca merk dulu sih..

But, belom lama ini saya kena batunya. Hal ini saya alami tapi kebalikannya. Saya cuci muka pake odol (Pepsodent)! Saya kayaknya melamun deh sampai salah ambil odol waktu mau cuci muka. Saya baru tersadar waktu liat kaca kamar mandi, muka saya putih semua, trus tercium semriwing bau khas odol. Hahaha, meskipun saya dengar odol bisa buat menghilangkan komedo (ntah benar atau tidak), tapi tetap aja, waktu itu maksud ya cuci muka pakai facial foam, bukan odol!

Saya ketawa cekikikan sendiri waktu sadar dan akhirnya teringat cerita tentang Pakde saya itu.

Lesson learned : Jangan ngetawain orang tua dan jangan melamun di kamar mandi.

Begitulah ke-randoman yang saya alami akhir-akhir ini.

Have a blessed day

Ciao Bella

Pendapat Orang

Hmm, beberapa hari ini pikiran saya terganggu dengan pertanyaan “gw ini termasuk orang yang mementingkan pendapat orang sama gw ga sih”. Ga tau sih awalnya kenapa mikir begitu. Tapi saya perhatikan, ada beberapa orang disekitar saya ini terkesan “free”. Mereka bisa melakukan apa pun yang menurut mereka menyenangkan tanpa memusingkan apa pendapat orang tentang apa yang dia lakukan atau putuskan. Terkadang saya iri dengan orang yang free spirit kayak mereka, tapi ada masanya juga saya geleng-geleng liatnya 😀

Balik ke pertanyaan di atas, ternyata saya ini labil. Kadang saya mementingkan pendapat orang, kadang sangat cuek dengan pendapat orang. Kapan saya mementingkan pendapat orang atau kapan saya cuek itu juga sangat tergantung. Kadang saya cuek terhadap pendapat yang orang lain pikir “penting sekali” buat saya, tapi sering juga saya memperhatikan pendapat yang sebenarnya receh nan remeh temeh.

Misalnya nih ya, saya sering cuek dengan pendapat orang mengenai penampilan saya yang katanya memberi kesan “preman” atau “gembel”, menurut teman-teman saya penting banget loh perhatiin penampilan ini. Tapi belum lama ini ada juga kejadian receh yang bikin saya kepikiran mengenai pendapat orang. Kejadian receh ini terjadi di suatu sore yang tenang, saya, Pak B, dan Bri ada di suatu kedai kopi langganan saya. Disana saya sempat mengeluarkan handphone untuk mengecek whatsapp, dan tanpa sadar handphone saya letakkan di kursi dan lupa sampai saya pulang.

Kami pun meninggalkan kedai kopi setelah menghabiskan pesanan kami, dan sudah setengah perjalanan saya mencari handphone yang tentunya tidak ada di tas saya. Saya coba telepon pakai handphone Pak B juga tidak terdengar deringnya, padahal saya ingat kalau handphone saya itu tidak di silent, malah dering maksimal. Pak B yang mulai bete langsung cari putaran untuk balik ke kedai kopi tadi karena sepertinya saya meninggalkan handphone saya disana.

Tahu ga apa yang saya pikirin di sepanjang jalan balik? Saya bukannya takut handphone saya hilang, tapi saya mikirin apa pendapat orang yang menemukan handphone saya. Hahahaha. Handphone saya itu deringnya lagu artis korea dan screen saver maupun screen locknya juga artis korea. (tutupmukapakepostergongyoo). Saya bayangin tiba-tiba orang yang duduk di tempat kami kaget karena ada lagu asing trus screen locknya artis korea. Pasti mereka pikir itu punya anak abege.

Akhirnya kami tiba di kedai kopi tadi, trus handphonenya disimpan di kasir. Saya pasang tampang cool meskipun saya sebenarnya pengen ngibrit sambil tutup muka. Malu banget.. Runtuh citra saya sebagai Ibu-ibu kekinian yang dewasa nan bijaksana..apalagi hari itu saya bawa Bri, makin kelihatan kan saya seperti emak-emak yang menolak move on dari masa abege. Hahaha.

Receh banget ga sih kejadiannya? Dan setelah dipikir-pikir mungkin mereka juga ga ngeh dengan lagu maupun screen saver saya, saya aja yang lebay..hahaha.. Begitulah kira-kira postingan tanpa intisari yang bisa diambil ini.

Peace ah

Banjir Lokal

Hahahahahahaha..saya izin ketawa dulu sebelum nulis post yang singkat ini. Jadi, hari ini saya merasa betapa sense of humour Tuhan amatlah menakjubkan (disc. dalam arti positif ya). Berawal dari semalaman saya gelisah memikirkan pekerjaan yang bikin saya ga enak hati siang harinya tetapi juga sekaligus merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaan esok hari. 

Pagi ini sih saya bangun dan berangkat kerja dengan perasaan yang biasa saja cenderung plain. Sampai kantor kepagian, nyalain komputer, printer, dan rekan2nya. Lalu menuju pantry untuk sarapan pagi. Normal saja.

Sarapan pagi berjalan mulus dengan selembar roti dan secangkir oat (pencitraan). Selesai makan, seperti biasa saya hendak mencuci cangkir yang saya pakai untuk sarapan. Dan disinilah dimulai kejadian luar biasa.

Kran air yang saya putar dengan kekuatan standar emak2 tiba2 lepas dan air menyemprot dengan sangat kencang. SANGAT KENCANG. Tau kan aliran air yang dipakai untuk industri pasti tekanan tinggi dan ini kejadian di pantry bukan di kamar mandi!

Panik? Banget! Saya coba tutup pakai tangan saya sambil teriak2 mencoba mencari pertolongan. Dan entah kenapa sampai 5 menit berlalu tidak ada yang nongol. Saya teriak makin kencang, sampai akhirnya ada 1 orang yang menghampiri dan langsung memanggil OB & Maintenance. Aliran air langsung dimatikan dari pusat dan berakhirlah drama pagi itu? Ehm..not.

Saya basah sebasah2nya dari ujung rambut, jaket, baju, celana, pakaian dalam (eh), sampe sepatu. Saya ga bawa ganti, trus drama berikutnya saya dicemberutin OB. Hahahaha. Dingin banget kakak..

Akhirnya saya dipinjami jas lab, rok cadangan teman, jaket teman (tapi pakaian dalam nggak lho y) sementara pakaian saya dikeringkan di mesin cuci kantor. Mata saya merah karena kena semprotan air, dan rambut saya keringkan di bawah hand dryer di kamar mandi. Sepatu saya copot dan bersandal jepit.

OB masih ngambek, tapi saya baik2in aja..hahaha..karena memang unpredictable case kan? Setelah selesai ganti baju, saya pun duduk di meja dan mulai relaks. Saya ketawa karena lucu juga kalau diingat.

See? Disaat saya berpikir sangat jenuh di kantor, Tuhan kasih satu kejadian yang bikin saya “ga jenuh” alias kalang kabut. Hehehe..

#Bripulangkampung (2)

Eits..eits..rajin apa ga ada gawe ceu? Udah lanjut postingan #Bripulangkampung ajahh.. Biarlah ya, abis liat postingan tadi endingnya ngegantung gitu..bacanya ga resep, hahahaha..

Day 3 

Setelah kemarin kami pulang dari kampung Tua, hari ini agenda kami ke gereja dong ya, kan hari Minggu. Untung ibadah di gereja mertua saya itu mulainya pukul 10.00. Ga kebayang kalau seperti gereja kami di depok yang ibadahnya jam 07.00, mamih, aku takut mandii.. *cetek. Beneran lho ya, di rumah ini kan tak ada heater, jadi kalau mandi harus rebus air dulu, trus diangkut ke kamar mandi, yang mana harus segera dipakai kalau ga mau airnya jadi dingin lagi… Saya pernah tuh, udah rebus air, udah di tuang ke ember, trus ditinggal sebentar (lupa ngapain, tapi paling 2 menit), eh airnya mulai anyep jadi ga bisa ditambahin air dingin banyak-banyak kalau mau tetep anget. Mandinya jadi ga bisa foya-foya, harus irit air anget yang tinggal segitu-gitunya..hehehe.

Gereja mertua ini dulu tempat Bri tardidi (Baptis), jadi waktu kami kesana, banyaklah orang yang menyapa dan bilang betapa Bri cepat tumbuh besar, tidak terasa kata mereka (hahaha, ya eyalah, pada ga kerasa, kalo emak bapaknya mah kerasa bengbeng). Ibadah menggunakan bahasa daerah (Bahasa Simalungun), jadi saya sama mama cuma bisa bilang “amin” dan meyakini apa yang disampaikan itu adalah ya dan amin. Payah ni emang saya, belum bisa bahasa ibu suami, abis Pak B ga pernah ngajarin juga (alasann..alasannn).

Pulang dari gereja, Inang menjanjikan Bri berenang (emak be like : heol…dingin begindang Inang, ini anak mau berenang dimandose). Jadilah sesiangan, Bri nagih terus “ayo Inang, Opung berenang di danou (red. danau)”. Ya ampun dah, ni anak, cocok keknya di negara dengan musim dingin, soale tidur pun ogah di selimutin, kalau diselimutin, dia ngamuk. Padahal emak bapaknya udah meringkuk kedinginan sekalipun berselimut tebal.

Akhirnya Opung membawa kami ke “pantai” Raya, salah satu pantai Danau Toba yang terdekat dari rumah mertua. Jangan di bayangin pantai pasir ya cinn…ini pantai batu, batu-batunya gede-gede banget dah. mau berenang pun kami harus hati-hati karena batunya licin..jadi repot jaga keseimbangan megangin bocah dan jalan diatas batu.

p_20170115_150444_hdr.jpg
Ini aslinya berdiri di atas batu, tuh Pak B rempong megangin Bri

Iya, akhirnya berenang singkat aja, karena kami khawatir kami kepleset atau Bri demam. Tapi ni bocah emang setrong, ga demam, cuma meler dikit ajah..itu juga ga rewel. Di pantai ini ada banana boat juga, tapi kami ga coba soalnya..err..kami ga bisa berenang, ngeri kalau ketengah-tengah begitu *tutupmuka. Setelah berenang singkat dan membersihkan badan, kami pun makan ikan bakar pesanan Opung.

p_20170115_154533.jpg
Nih, unyil sama 2 neneknya. Lagi ngasih eyangnya makanan pembuka sebelum makan ikan bakar.. Momog* rasa coklat

Ini pantai ramai banget, jadi ga bisa nikmatin suasana, jadi pas pulang lewat jalan berliku-liku mirip jalanan puncak, tapi jurangnya itu Danau Toba, kami sempat berhenti di satu spot untuk sekedar memandangi Danau Toba. Pas pula waktunya sedang matahari terbenam. Jadinya cancikkk anethhh pemandangannya.

img_20170115_185603.jpg
Cantik yaaa…itu matahari memantul di Danau Toba.

Kami akhirnya pulang menjelang malam ke rumah setelah puas memandangi sunset di danau Toba.

Day 4

Ini hari dimana hati saya terasa berat sekali, karena mengingat liburan yang hampir habis. Hiks. Hari itu sampai sore, kami stay saja di rumah karena memang Opung dan Inang harus bekerja. Opung dan Inang adalah Guru, Opung kepala sekolah SMA dan Inang guru bahasa inggris SMP. Tengah hari, Inang pulang untuk mengajak Bri ikut ke sekolahannya. Bri senang sekali, pulang-pulang dia cerita tentang kakak-kakak belajar, Bri ke kantin, di beri buku gambar dan spidol, di beri uang jajan sama teman Inang dan macam-macam. Ujung-ujungnya : Ma, Bri mau sekolah.. Errr…

Sore hari Opung pulang dan mengajak kami ke Air Terjun Sipiso-piso, Ini kali ke dua saya kesini, dan saya ga mau turun ke bawah, takut ga sanggup naik lagi.Hahahaha. jadi kami hanya melihat-lihat pemandangan sambil makan p*p mie. Ini aslinya indah banget, tapi sayang, banyak sampah. Kenapa susah banget sih buang sampah pada tempatnya yak. Untung ga menghalangi saya menikmati pemandangan indah Air Terjun dan Danau Toba (again).

p_20170116_164640_hdr.jpg
Maap gambar pecah, ini di zoom dari kamera hp jadul saya. Air Terjun Sipiso-piso
img_20170116_180140.jpg
Sunset at Sipiso-piso
img_20170116_171055.jpg
Danau Toba from Sipiso-piso point of view
p_20170116_173311_hdr.jpg
Kedua Ibu yang sangat saya sayangi. Laf yu Eyang, Inang

Pulang dari air terjun, kami mampir di rumah Mak Tua (Kakaknya Inang) untuk bercakap-cakap dan pamit karena besoknya kami sudah harus pulang. Rumah Mak Tua ini semacam warung kopi tapi juga tempat transaksi pedagang (kami sempat melihat pedagang jeruk di Sabtu pagi).

p_20170114_075308_hdr.jpg
Jeruk dimana-mana *maafkan latar si ayam..

Setelah kami menghabiskan segelas teh hangat dan berbincang-bincang, kami pun pulang ke rumah untuk istirahat.

To Be Continue..(tsaelah, tinggal cerita pulang doang masih disambung..)

#Bripulangkampung

Yap… Kali ini saya mau bercerita tentang kesempatan pulang kampung ke Rumah Mertua saya di Sumatra Utara. Kami berangkat tangal 13/1/2017 dan pulang tanggal 17/1/2017. Singkat memang (banget malah menurut saya), tapi sangat berkesan untuk kami.

Day 1

Tanggal 13, kami berangkat dengan pesawat pukul 05.00, ngantuk berat coy waktu jalan menuju bandara Halim. Sengaja kami pilih pesawat pagi karena perjalanan dari Kualanamu ke rumah mertua saya itu memakan waktu kurang lebih 5 jam. Demi menghabiskan waktu yang lebih panjang bersama mertua, kami pilih pesawat pagi agar sampai sana masih terang dan sempat bercerita. Ternyata pesawat berangkat lebih awal (04.40 kalau tidak salah) dan kami tiba di Kualanamu pukul 06.50.

img_20170113_160419.jpg
Tiba di Kualanamu, menuju mengambil bagasi
img_20170113_072644.jpg
Anak kecil minta foto di depan replika Istana Sultan Serdang

Berhubung kami datang di hari kerja, dan Bapak mertua harus rapat, jadi kami hanya bisa di jemput di Siantar (kurleb 1-1.5 jam dari rumah mertua). Kami pun menaiki bis cepat paradep untuk sampai ke Siantar. Oh ya ampunnnnnn, supirnya benar-benar “gila”, sampe horor liat jalanan..salip sana, salip sini, pokoknya ga boleh ada kendaraan di depan dia :D. Daripada jantungan, saya pilih tidur, karena emang juga ngantuk berat. Tapi luar biasa ya si krucil, dia ga ada takut sama sekali, malah joget-joget ikutin musik karaoke yang diputar sepanjang perjalanan. Hahahaha. Tiba di Siantar, kamu di jemput dan lagi-lagi di perjalanan sampai rumah, saya tidur..dan krucil masih petakilan. Oh ya, rumah mertua saya ini ada di Saribudolok, Kabupaten Simalungun. Di sana itu dingin banget kakakkk…maklum, masih daerah gunung. Jadi kalau tidur harus pakai selimut tebal dan mandi jadi tantangan tersendiri. Saya emang anak tropis banget, ga kuat dingin..makanya ga kebayang tinggal di negeri yang ada musim dinginnya..Hahaha.

p_20170113_143841_hdr.jpg
Yeay, akhirnya sampai di rumah Inang & Opung (kata Bri)

Si Bri ini kalau panggil Bapak mertua saya itu Opung dan Ibu mertua saya itu Inang. Karena Ibu mertua saya ga mau terkesan tua dengan panggilan Opung. Setelah sampai, kami pun beres-beres dan di lanjut cerita sampai malam. Malam itu dihabiskan dengan.. nonton bareng debat pilkada DKI Jakarta 2017. Jangan tanya kami pilih siapa, karena kami ga ikutan nyoblos. Yang satu ktp Sumatra Utara, yang satu ktp Jawa Barat. Hehehehe. Senang sekali rasanya bisa berkumpul di sana dengan keadaan sehat. Jadi sebenarnya ya, kami pulang kampung itu bagian dari janji kami pada Bri kalau saya sudah sehat, kita bisa ke rumah Opung dan Inang. Dan Bri berdoa terus supaya saya sembuh dan bisa ke rumah Inang.

Day 2

Keesokan harinya, saya dan keluarga (termasuk si Bontot adik Pak B) pergi mengunjungi rumah Opung Pak B yang kami panggil Tua (Opung perempuan). Opung laki-laki sudah meninggal setahun lalu, yang kami sesali karena Pak B tidak bisa pulang saat itu karena situasi. Jadi kami hendak berziarah ke makam Opung yang ada di tengah ladangnya. Iya, orang di sana, kebanyakan dimakamkan di tengah ladang keluarga. Jadi jangan heran, sepanjang perjalanan, di kiri-kanan ada hamparan sawah atau ladang dan ada bangunan kecil disana. Itu makam. Bahkan ada beberapa makam yang di bangun besar sekali.

Di kampung Tua ini, yang jadi highlight liburan kami, karena selain berziarah, kumpul dengan keluarga, saya dan Bri dapat pengalaman baru yaitu ikut melihat panen durian! Iya, kami datang di saat tepat karena durian sedang di panen di sana

p_20170114_130324_hdr.jpg
Can you spot the Durians?
p_20170114_130201_hdr.jpg
Gambar yang lebih jelas
img_20170114_132734.jpg
Here we are. Ki-Ka : Saya, Bri, Pak B, Opung, Inang, Eyang (mama saya). Sambil was-was takut ada durian jatuh dan menimpa kepala kami..hehehe

Pokoknya saya norak banget dehhh, sebelumnya saya ini anti banget sama durian. Tapi kemarin nyoba, awalnya mabok setelah makan 2 biji, tapi kok ya ngeliat yang lain makan enak banget, jadinya ngiler dan kepingin nyoba lagi dan jadi suka. Hahahahaha.

Siapa yang paling senang saya jadi suka durian? Tentu Pak B, jadi dia bisa ajak saya beli durian kalau kami pulang nanti. Hahahaha. Bayangkan, kami pulang dengan 40 butir durian untuk dimakan ber-6 dalam waktu 3 hari (mama saya tidak suka soalnya). Jadi puaslah ya makan durian selama disana. Sebenarnya, selain durian, ada juga tanaman kopi dan coklat, tapi belum panen sepertinya.

Hari itu kami habiskan dengan bercengkrama dan tiba di rumah sudah malam. Bri senang sekali, berkali-kali cerita tentang ladang.

To be continue.. (kalau ga males, hehehe)

(late) Christmas Dinner

Hai hai..apa kabar yang liburan? Apa? Ga libur? Sama dong..ciyan ya kita..hahaha..meskipun ga libur, semangat jangan dikasih kendor dong. Tarik mang!! 😉

Jadi di postingan dengan preambule jayus ini, saya mau cerita aja sih kalau beberapa hari lalu, tepatnya Selasa kemarin saya meet up sama teman2 saya. Bukan teman sembarang teman, tapi teman yang sudah 14 tahun berteman (bahkan ada yang sudah 17 tahun dan 25 tahun). Time flies! Yap, mereka adalah sahabat-sahabat saya dimasa SMA.

Jadi, menurut saya, ada beberapa jenis sahabat. Yang pertama yang super lengket, yang sering contact dan curhat all the time. Yang kedua yang keep in touch tapi jarang sekali curhat via email, message, atau telepon karena beberapa alasan tetapi saat bertemu rasanya tidak ada yang berubah, cerita bisa tidak habis-habis, dan kita merasa bebas mengungkapkan apa saja. Nah, kami ini kayaknya tipe yang kedua. Duh, ngumpulinnya susahhhh, tapi sekali ngumpul, it’s always a memorable one.

Mendadak seminggu sebelum Natal, teman saya yang super sibuk dan paling sering ga bisa kumpul padahal dia yang paling bikin suasana greget whatsapp di group mengajak kami untuk Christmas Dinner. Somehow, kami semua bisa dan sepakat aja gitu tanggalnya. Padahal ya, sebelum2nya nih, biasanya akan jadi wacana doang.

Tanggal sudah sepakat, tinggal tempatnya. Tadinya saya nawarin ke arah Bogor (modus banget biar dekat, karena saya doang yang tinggal di pinggir (banget) bogor), ada juga yang minta di Jakarta karena memang kebanyakan kerja di sana. Tetapi jadinya tetep dong ya, di Depok. Hahaha. Ini permintaan khusus 2 orang teman kami yang hamil buesar, yang due date nya mepet, jadi musti stay close ke RS tempat cek mereka kalau2 mendadak kontraksi. Akhirnya kami pilih De Margo Restaurant, di Margo Hotel.

Ki-ka : Eva, Saya, Markus, Dea, Liza, Nala, Ira, Hagai

Dress code harusnya putih-jeans, tapi ga seru ya kalo ga ada yang melenceng. Ibu hamil mah dimaklumin deh, stok baju yang muat kan terbatas, tapi ternyata ada Bapak hamil yang ikut2an melenceng dari dress code. Teman saya yang pake baju hitam (laki-laki) itu benar2 yang paling signifikan perubahan ehm..beratnya..(ampun kus).

Begitu bertemu, kami lupa itu tempat umum. Didukung restaurant yang sepi, posisi meja di pojok yang ga ada tetangganya, kami mulai cerita ga habis-habis dan tertawa. Tapi sebagai orang dewasa yang ngerti rasanya terganggu dengan suara berisik di tempat umum, kami mati-matian berusaha supaya volume kami tetap low sampai nutup muka pakai serbet. 😂😂

Sebelum bapak hamil datang
Setelah bapak hamil bergabung

Lihat dong ya, di atas meja kami itu masih kosong dan hanya terisi kado. Iya, karena kami ada tukar kado, dan hanya bumil dan beberapa emak lapar yang udah pesen karena datang duluan. Kami mengutamakan selfie daripada makan. Begitu kira-kira jadinya. Hahaha. Acara tukar kado berjalan lancar, dan sepertinya pas satu sama lain dapernya.

Yeay, ini kado kami!!

Saya dapat apa? Dapat hiasan dinding rumah, yang saya aminkan semoga jadi pertanda rencana memperbaiki rumah akan segera terwujud *maksatapiamin.

Ah, muka saya kok gitu..ga bisa dikondisikan apa ya..hehe

Tentang makanan? Jujurly nih ya, saya ga notice gimana rasanya karena lebih heboh ngobrol daripada makannya. Jadi maap deh ya kalau ada yang cari rekomendasi makan disini, kayaknya saya harus coba ulang deh rasanya 😁. Tapi selama itu makanan habis sama saya, rasanya pasti cukup enak menurut saya. Hahaha. Kita pesan a la carte gitu, ga ambil buffet, saya pesan ayam taliwang, kebanyakan pesan spagheti (bolognaise maupun carbonara), ada juga tongseng (lupa ayam ato kambing) dan sop buntut.

Pertemuan kami singkat (2 jam saja karena weekdays dan besok harus kerja pagi) tapi sangat berkesan buat kami. Yup, true friends are like stars, sometimes we can’t see them, but we know that they’re always be there.

Oh ya, pertemuan ini juga menyisipkan rindu pada salah satu teman kami, Monce, yang sudah lebih dahulu menjadi “bintang” di surga. Ce, you always be missed. Kami mengenang dengan senyum dan membicarakan betapa baiknya kamu 🙂

Semoga kami akan bisa tetap berteman sampai tua nanti. Amin.

Nikmatnya Sehat (2)

Tulisan ini sekedar sharing, mungkin ada teman lain yang pernah merasakan hal yang sama. Jadi kelanjutan sakit yang kemarin itu ternyata panjang urusannya, broh..

Sempat bikin ketar ketir juga sih. Jadi di tanggal 25 Nov kemarin (setelah berkeluh kesah di sini) saya memutuskan untuk coba ke dokter di RumKit langganan di dekat rumah nyokap. Tapi ada ngeselinnya nih, ternyata jadwal dokter (saya pengen lgsg ke spesialis penyakit dalam) di web-nya ga update, jadi udahlah sampe sana malah ga ada dokter spesialis lagi (emang saya dateng malem, jam 8.30 malem). Kezel. Tapi karena saya pusing hebat, kami ke bagian IGD yang 24 jam.

Di IGD, saya dikasih obat pereda nyeri lewat infus dan lumayan banget pusingnya berkurang. Setelah kurleb 2 jam diinfus, cus lah kami pulang dengan dibekali surat rujuk ke dokter spesialis syaraf, surat pengantar cek kolesterol dkk dan serenceng obat sakit kepala, jaga-jaga kalau pusingnya kumat. Malam itu dilewati dengan damai, tidur nyenyak, dan optimis meski kaki masih senat-senut.

Esok harinya, saya cek darah dan hasilnya kolesterol & asam urat saya diatas ambang batas meskipun ga terlalu tinggi *tutupmuka*. Setelah cek darah, saya pun menuju dokter spesialis syaraf, namanya Dr.Catur Banuaji Sp.S. Doketer Catur sabar meladeni dan memberi penjelasan panjang lebar. SEtelah mendengar kronologisnya, dia bilang kemungkinan saya radang syaraf karena nyerinya tidak di satu sisi (tangan kanan, kaki kiri), dan pusing di kepala bisa jadi tension otot di pundak menekan syaraf. Sementara dia kasih obat untuk syaraf dulu, kalau keluhan tidak mereda baru akan cek lebih lanjut.

Drama dimulai setelah pulang dari dokter, saya sakit kepala hebat lagi, minum obat dari dokter di IGD ga mempan, minum obat warung (b*drex extra) 4 jam kemudian ga mempan, dan sakit kepala berlanjut sampai hari minggu. Bukannya membaik, malah memburuk disertai muntah-muntah.. Lihat cahaya lampu (dan cahaya lainnya) pusing ga karuan, denger suara berisik nyut-nyutan. Akhirnya minggu sore balik lagi ke RS, dan seperti biasa ke IGD lagi, diinfus lagi, cek darah lagi, tapi ga membaik. Hasil cek darah ke 2 ini juga ga menunjukkan infeksi, ga anemia, gula darah pun normal. Dokter memutuskan supaya saya dirawat agar bisa di observasi lebih lanjut dengan dokter penanggungjawabnya ya dokter Catur karena beliau yang terakhir menangani.

Dokter Catur meminta supaya segera CT Scan dan rontgen Versikal (bahu & leher) keesokan harinya. Malamnya beliau datang tapi sayangnya, hasil CT Scan dan Rontgen belum dia terima dari radiolog. Hari itu menjadi hari terpanjangggggg dalam hidup saya menunggu hasil CT Scan dengan segala kekhawatirannya. Di kunjungan pertamanya, meskipun kamar dalam keadaan gelap (karena saya ga bisa lihat cahaya), dokter Catur menanyakan beberapa hal mengenai sakit kepala saya, dan dari ciri-cirinya dia menyimpulkan saya ini Vertigo berat. Intinya kondisi saya menyangkut pusat keseimbangan di tubuh saya. Biasanya gejala akan hilang sendirinya setelah beberapa hari (dibantu obat pereda nyeri dan istirahat). Pemicunya? Macam-macam dan salah satunya stres.

Long story short, akhirnya hasil CT Scan dan rontgen saya keluar. Puji Tuhan kondisi otak saya normal, tidak ada pendarahan, intinya oke. Tetapi ada satu penemuan pengapuran pada tulang & sendi saya dari hasil rontgen . Dokter bilang hal ini kemungkinan besar yang menjadi pemicu rasa sakit kepala hebat saya karena pengapuran membuat otot jadi tegang dan menekan syaraf (cmiiw, maklum waktu dijelasin saya masih oleng banget). Semua orang nanya, apa penyebabnya saya bisa pengapuran padahal masih muda? Jawabannya saya tidak tahu pasti, mungkin kurang kalsium (ciyan ya saya..) tapi yang jelas posisi yang tidak ergonomis saat bekerja menghadap komputer dan saat memegang handphone (kepala menunduk dan bukan hpnya yang diangkat sejajar mata).

Terus harus gimana? Saya diminta fisioterapi tapi setelah vertigo saya hilang. Kenapa? karena fisioterapi harus tengkurap, tapi kalau saya masih vertigo bisa muntah-muntah kalau disuruh tengkurap. Masalahnya, vertigo saya bandel banget dan menetap sampai seminggu di RumKit dan berlanjut seminggu lagi di rumah. Fisioterapi belum saya lakukan sampai saat ini, tapi saya melakukan akupuntur untung meringankan vertigo saya (dengan persetujuan dokter tentunya).

Pengalaman baru ini saya di akupuntur, dulu saya ngeri banget lihatnya. Tapi pas dijalani, kok ya ga kerasa tau2 jarum udah “pating cerantelan” di kepala sampai kaki saya. Hahaha, akupuntur ini menurut saya help me a lot karena senat-senut kaki saya hilang dan vertigo saya jadi berkurang. Saat ini saya sudah mulai kerja dengan kondisi tidak bisa menatap layar monitor (dan hape) lama-lama, jadi harus sering mengalihkan mata dari layar. Belum kondisi maksimal, tapi sudah jauuuuhhh lebih baik.

Dengan “kado” akhir tahun ini, saya pun semakin terpacu untuk mulai sangat memperhatikan kesehatan. Mulai pilah pilih makan, menggunakan hp seperlunya (hiks, ketinggalan update aktor terpaporit iniiiii… *plakk), menatap layar monitor tidak lama-lama (makanya blog terlantar, blogwalking sekali2, bhay drama2 korea kece yang lagi on going, sementara ga bisa nonton dulu lama-lama, sementara lho ya sampai bener2 sehat..), mulai stretching otot setiap pagi..

Hahhh..pokoknya 2017 cuma 1 resolusinya : Harus Lebih Sehat!!!!

Fighting

Oh ya, Merry Christmas & Happy New Year buat kamuh kamuh yang merayakan… Yang tidak merayakan, selamat menyambut 2017 yaaaa

God bless us