Weekend Note

Minggu pagi yang berhujan, perdebatan tentang siapa yang duluan mandi sebelum berangkat ibadah sudah seperti rutinitas di minggu pagi kami. Anak kecil dibangunkan, diajak mandi, malah meluk guling lagi dan bilang “mama duluan yang mandi, habis itu baru papa dan terakhir aku”. Anak kecil yang suka tawar menawar. Hfft.

Tidak heran sih, karena hal itu dia contoh tidak lain dan tidak bukan dari kami..si orang tua yang suka tawar menawar soal mandi.

P : Kamu duluan deh mandi..plis..aku mau tidur 5 menit lagiiiii…

Pak B : Lah..minggu kemaren kan aku duluan yang mandi, sekarang giliran kamu lah

(Yaampun..tepok jidat)

Setelah semua siap, berangkatlah kami menuju gereja. Tapi di tengah jalan, ah bang angkot berhenti sembarangan menunggu penumpang di depan stasiun, bikin kemacetan yang tak perlu. Diburu waktu, emosilah Pak B

Pak B : Bang, minggir sedikit supaya bisa lewat! (Nada sedikit tinggi, muka ngotot ngajak berantem)

Bri : Papa jangan marah-marah dong. Biasanya kan mama yang marah-marah di jalan.

(Mama hanya bengong dan tutup muka, “tamparan”mu perih banget nak).

Sampai gereja, si kecil sekolah minggu tapi jutek sekali sama guru-guru yang mengajar. Memang butuh pemanasan yang lumayan lama untuk bermanis manja sama si kecil ini. Sampai gurunya bertanya..

Bu Guru : Bri, kamu jutek kayak siapa sih? (Pertanyaan retorika, yg sudah tahu jawabannya)

Bri : Aku kan galak mirip mama

Bu Guru : (Tertawa puas sambil nunjuk-nunjuk hidung mamanya Bri)

P : *ketawa pedih*

Okesip, ini bukan contoh yang baik ya ibu-ibu yang budiman. Ini adalah bukti nyata betapa cepat anak-anak meniru dari orang tua dan lingkungan sekitar. Yang pasti, ini PR saya untuk semakin hati-hati berbicara dan bersikap, terutama di depan si kecil. Semangat! πŸ’ͺπŸ’ͺ

Di Gugu dan Di Tiru

Guru, di gugu dan di tiru..Ya, hari ini rasanya ingin sekali bercerita tentang guru-guru yang lekat dalam ingatan saya. Semenjak menikah dengan Pak B, otomatis saya memiliki orang tua berprofesi guru. Bapak mertua saya Kepala Sekolah di sebuah SMA dan Ibu mertua saya seorang guru Bahasa inggris di SMP. Buat mereka, pekerjaan sebagai guru itu prioritas. Sudah beberapa kali, Bapak merelakan waktu cuti yang sudah diambil untuk menengok anak cucu di pulau jawa karena panggilan tiba-tiba untuk rapat atau ada masalah di sekolahnya. Pernah suatu kali, beliau datang di hari minggu pagi, baru saja tiba di rumah kami beliau dapat telepon ada pekerjaan mendadak yang tidak dapat ditunda di hari senin pagi, maka minggu malamnya beliau langsung minta di belikan tiket untuk pulang ke sumatera. Kami sedikit kesal sih waktu itu, karena buyar sudah semua rencana yang disusun. Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga kewajiban dan prioritas beliau. Kami pun merelakan beliau kembali lagi ke sumatera malam harinya.

Dulu di SD, saya punya guru galak sekali. Guru matematika. Kalau beliau kasih tugas, jangan macam-macam. Salah satu soal, cubit sekali. Salah dua soal, cubit dua kali. Dan seterusnya. Sadis memang, apalagi untuk ukuran sekolah sekarang. Mungkin Bapak guru itu bisa-bisa dilaporkan ke polisi. Tapi herannya, semua murid respect sama beliau. Juga sayang pada beliau. Waktu beliau sakit, semua murid berinisiatif jenguk ke rumahnya. Rasanya tidak semua guru yang diberi perhatian seperti itu. Kok bisa ya? Ternyata karena Bapak ini di luar kelas bisa mengayomi. Dia tidak segan-segan memberikan pelajaran tambahan untuk yang dirasa masih tertinggal tanpa minta sepeser pun bayaran tambahan. Di luar kelas juga dia bisa menjadi teman yang baik, suka bercanda dan tertawa. Pernah suatu kali saya sakit cukup lama, begitu masuk ternyata ulangan matematika. Alamak! Saya salah 3 soal dari 10 soal yang diberikan. Selesai dibagikan nilainya, kami yang menjawab salah berjejer di depan untuk di cubit. Luar biasa takut rasanya. Tapi ternyata, cubitannya tidak sakit sama sekali. Entah karena saya habis sakit, jadi beliau tidak mencubit saya sekuat tenaga, atau memang selalu seperti itu cubitannya. Setelah dewasa, saya pikir-pikir mungkin beliau sengaja menciptakan kesan horror tapi tidak menyakiti supaya murid-murid sungguh-sungguh dalam belajar. Mungkin.

Semasa SMP, banyak guru yang cukup melekat di ingatan saya. Ada seorang Ibu guru geografi yang luar biasa hafal peta buta. Wah, kami murid-murid sangat mengagumi beliau. Bahkan murid-murid yang beruntung di ajar beliau, bisa ikutan hafal peta buta, termasuk saya. Sayangnya, setelah naik kelas dan tidak diajar beliau, menguap jugalah kemampuan saya mengenal peta buta. Hahaha. Ada juga kepala sekolah kami yang sangat bersahaja. Datang paling pagi, berdiri di dekat gerbang untuk menyapa murid-murid yang datang. Bahkan pernah saat saya piket dan datang lebih pagi, beliau sudah ada lho. Guru fisika lebih lucu-lucu lagi. Ada yang gaul luar biasa, mengajarnya santai tapi di mengerti. Tapi ada juga sih yang galak luar biasa, yang membuat kami memilih menghindar kalau berpapasan di lorong sekolah. Dulu di SMP saya, banyak mengajar guru senior yang hampir pensiun. Ada 2 Ibu guru yang sudah sepuh sekali. Mereka bertolak belakang secara kepribadian. Yang satu super ceria dan hangat dengan murid-murid, sedangkan yang lain menjaga wibawa dan cenderung jutek dengan murid-murid. Dulu dengan kurang ajarnya, murid-murid menjuluki mereka Angel dan Angel of Death (Oh no, maafkan kami Ibuuu…). Suatu hari, ada teman saya yang entah bagaimana caranya melihat foto mereka saat masih muda. Dia cerita kalau kedua Ibu sepuh ini sangat cantik di masa mudanya. Teman saya ini ditertawakan. Kalau Ibu yang kami juluki Angel sih mungkin saja, karena beliau di usia sekarang masih terlihat cantik, tapi Ibu yang satunya… Keesokan harinya teman kami ini bawa kamera (yes, karena masa saya SMP, boro-boro kami punya smartphone berkamera), dia menyelinap ke ruang guru membawa kamera poketnya dan diam-diam memotret foto kedua Ibu ini di berkas-berkas guru (waw, sungguh niat kamu kawan..hahahaha). Setelah hasil fotonya di cetak, dia menunjukkan kepada kami kalau ucapannya itu benar. Kami terperangah dong saking cantiknya kedua Ibu sepuh itu saat masih muda. Setelah hari itu, kami memanggil mereka Angel 1 dan Angel 2. Dan mungkin melihat sikap anak-anak yang menjadi lebih manis dan berbinar-binar setiap melihat Ibu Angel 2, beliau pun jadi lebih ramah dengan kami. Hahaha.

Kalau di kala SMA, banyak juga guru yang berkesan. Ada seorang Bapak Guru yang dia tidak bisa mengajar kalau tidak merokok. Beliau ini guru SMA. Jadi, sebelum mengajar, beliau berdiam diri di luar kelas merokok, setelah habis setengah batang beliau masuk kelas dan mulai mengajar. Jangan ditanya baunya, bau rokok yang menyengat. Tapi beliau ini pintar sekali sih, jadi anak-anak senang belajar fisika dengan dia. Setelah menjelaskan materi, beliau kasih kami tugas dan beliau keluar lagi untuk merokok sisa batang yang tadi belum habis. Ada juga Bapak Guru matematika yang senangnya meminta murid paling pintar di angkatan kami untuk membuat soal-soal ulangan harian untuk murid yang lainnya. Hahahaha, kacau benar. Ada yang kalau mengajar itu pasti muncrat-muncrat ngomongnya, duh..jadi pengen pakai payung kalau lagi diajar beliau dan pas kebagian duduk paling depan.

Sebenarnya masih banyak sih guru yang berkesan bagi saya, tapi nanti jadi puanjang buanget nih postingan. Hehehehe. Tentu saja tidak semua guru menyenangkan, selain itu beberapa oknum guru juga ada yang melakukan tindakan tidak terpuji. Tetapi sungguh bagi saya pribadi, guru adalah suatu profesi yang mulia dan patut, harus, wajib, kudu dihormati. Maka saat ada berita tentang seorang Bapak Guru muda di Sampang yang meninggal setelah dipukuli siswanya, karena siswanya tidak terima ditegur dengan di coret wajahnya dengan kuas lukis (setelah ditegur untuk tidak mengganggu dalam kelas dan tidak dipedulikan), saya terkejut. Kenapa sekarang banyak berita tentang murid (oknum) yang ganas terhadap gurunya yang notabene orang yang lebih tua darinya. Apa kalau kita kesal dan tersinggung lantas boleh memukuli orang sampai mati batang otak? Oh ya, dari berita yang saya baca, Bapak Guru ini masih muda, 27 tahun, baru menikah, dan istrinya sedang mengandung 4 bulan. Duka saya untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga tidak ada lagi kekerasan terjadi (guru ke murid atau murid ke guru) di lingkungan sekolah khususnya. Selamat jalan Bapak Ahmad Budi Cahyono, kepergianmu adalah teguran yang sangat keras bagi kami para orang tua agar sekuat tenaga mengajarkan kebaikan, sopan santun, dan rasa hormat kepada anak-anak kami.

Lima Tahun

Semalam saya tidak bisa tidur sampai menjelang pagi karena ada masalah mendadak di kantor yang bikin puyeng. Besoknya pagi-pagi saya langsung berangkat dengan pikiran yang sudah tertancap di kantor. Rasanya ingin cepat-cepat sampai untuk mengecek masalah dengan mata kepala saya sendiri. Saya lupa sama sekali kalau hari ini itu ulang tahun pernikahan saya, sampai Pak B mengucapkan lewat whatsapp.

Lima tahun, usia yang masih balita. Kalau ibarat anak-anak, kami baru mau masuk TK. Tapi tentu saja kami tidak bisa bermain-main seperti anak-anak yang baru mau masuk TK. Hahaha. Untuk lima tahun ini, saya bersyukur diberikan pasangan yang bisa menyeimbangkan saya. Kalau saya marah, dia meredam. Kalau saya sedih, dia menghibur. Kalau saya ngamuk, dia kalem. Ini kenapa kesannya jadi saya terus yang temperamental? Haha. Tapi semua ketenangan dia tidak menunjukan dia lemah, malah sebenarnya dia kuat. Kuat menahan ego, kuat menghalau badai segelap apapun di hari saya, kuat berbagi peran dengan saya untuk mengasuh dan mengasihi Bri.

Tentu saja kami secara pribadi tidak sempurna. Meski begitu, kami terus berusaha saling melengkapi untuk menjadi semakin baik dalam peran kami dalam rumah tangga. PR besar kami tentu saja untuk membesarkan Bri (dan mungkin adiknya, who knows), ini menciptakan list “task to do” yang panjang yang harus kami bahas berdua.

Tapi kami mau tetap menjalani pernikahan ini dengan sukacita, dengan fun, dengan happy!! Ini juga penting banget deh, supaya muka saya tidak semakin cepat keriput, atau rambut Pak B tidak semakin cepat menghilang (Oh, ini sih genetis sepertinya).

Selamat lima tahun ya Pak B. You know how grateful i am to have you as my lifetime partner!

Istimewa

Di tempat saya bergereja, saya ambil pelayanan menjadi salah seorang guru sekolah minggu. Ada salah satu murid sekolah minggu saya, panggil saja Little K. Dia sangat istimewa, setiap minggu pagi saat dia datang untuk sekolah minggu, dia akan menghampiri semua guru untuk salaman dan mengucapkan “selamat pagi”. Ah, apa istimewanya, mungkin pikir kita, semua anak bisa melakukan hal itu kok.

Selain itu dia juga istimewa karena sering sekali memanggil guru sekolah minggu dengan sebutan “mama”. Ah, apa lagi ini, semua anak juga bisa memanggil ibu mereka mama.

Dia sudah berusia 11 tahun, tapi dia disukai oleh adik-adik di kelas balita. Dia sering bersekolah minggu bersama adik-adik balita. Tapi dia juga disayangi oleh kakak-kakak dan bapak-ibu di gereja. Buktinya, dia sering kok menyelinap ke ibadah dewasa dan duduk di sebelah siapapun yang duduk di depan. Bapak-bapak dan Ibu-ibu akan memberi tempat.

Little K juga kadang nakal seperti anak-anak lainnya. Dia pernah diam-diam membongkar tas Ibu Guru untuk memainkan bedaknya, dia juga pernah diam-diam mengambil gunting untuk membuat kreativitas dari map Ibu Guru untuk dipakai menggunting rambutnya. Little K juga kadang-kadang tantrum seperti anak-anak lainnya, tapi sering juga dia sangat manis. Hehehehe. Kami semua sayang Little K.

Little K istimewa. Dia lahir dengan kondisi istimewa yang disebut down syndrome. Saya menyaksikan bagaimana dia tumbuh dari seorang bayi sampai menjadi anak berusia 11 tahun. Dia ditinggal pergi oleh Ibunya dan sekarang hanya dirawat oleh Ayah, Tante, dan Opungnya. Saya tidak tahu terlalu banyak tentang pendidikan anak istimewa seperti Little K, tetapi yang pasti kami semua sayang dengan Little K. Di saat rapat guru, di saat persiapan mengajar, di saat ngobrol pun pasti kami akan sekali dua kali membahas Little K.

Hati saya terenyuh setiap kali dia memanggil kami “mama” dan memeluk kami dengan erat. Ini membuktikan hatinya juga istimewa. Oleh karena itu, ketika saya mendapati timeline medsos saya ramai tentang seorang wanita (yang ternyata seorang Ibu) menuliskan status yang sangat menyakitkan tentang anak-anak istimewa ini, saya kaget, marah, tertegun. Untuk orang yang tidak setiap hari merawat anak istimewa saja, hati saya sakit. Saya tidak bisa membayangkan perasaan orang tua mereka saat membaca status Ibu ini.

Tidak heran, hal ini menjadi viral. Si Ibu ini minta maaf lewat video live facebook, yang saat saya lihat entah kenapa terasa tidak tulus. Saya tidak mau ikut menyumpahi Ibu ini (karena dia disumpah-serapahi oleh banyak sekali orang). Saya hanya mau mengingatkan diri saya tentang berempati pada orang lain, saya mau mengingatkan diri saya untuk mengajarkan empati pada anak saya. Menerima kalau di dunia ini banyak orang yang tidak sama dengan kebanyakan orang, tetapi tetap harus dihormati selayaknya orang kebanyakan. Karena sesungguhnya mereka istimewa. Seistimewa Little K.

2018

Selamat Tahun Baru 2018!!! πŸ₯‚πŸ₯‚

Meskipun sudah masuk minggu kedua, bolehlah ya ngucapin di postingan pertama tahun ini setelah emm..lupa berapa bulan tidak mengisi apa-apa di blog. Fuh..fuh..tiup-tiup debu intan <<DEBU DEBU INTANNNNNN>> 😁

Selama beberapa bulan hilang ditelan dunia nyata, saya hanya melakukan kegiatan nguli, pulang, nguli, pulang, nguli, pulang..begitu terus sampai negara api menyerang. Gileh bro..naik commuter line jurusan bogor-jakarta kota ternyata segitu menguras tenaga sampai-sampai malas ngapa-ngapain begitu sampai rumah. Luar biasa. I salute you yang sudah melakukan perjalanan dengan commuter line selama bertahun tahun πŸ˜‚πŸ˜‚

Teman saya beberapa waktu lalu ada yang share di efbe tentang keganasan com-line ini. Dia dengkulnya bergeser <<IYA BERGESER>>, mlengsek gitu akibat tergencet arus keluar orang-orang di gerbong wanita. Bacanya ngilu, apalagi dia foto kondisi lututnya yang mlengsek gitu. Ughhh..usap-usap dengkul.

Selain menghadang medan perang commuter line saat pergi dan pulang, saya juga sibuk melakukan adjustment dengan pekerjaan baru saya yang bagaikan jarak dari pulau we sampai papua dengan kerjaan lama saya (jauh bener brayyy). Dulu saya buruh pabrik yang lebih tersistem semua-muanya, sekarang saya serba BELUM tersistem semua-muanya. Maklum, sekarang di bidang retail dan resto yang baru buka sehinggggaaaa masih build sistem yang cucok guk guk (karena cucok meong sangatlah biasa). What an adventure.

(Ini sebenernya ada yang nanya ga sih pit, ngapa jadi curhat kemana-mana) πŸ˜…

Tapi ini bukan komplain loh ya, saya cuma amazed dengan pengalaman baru ini. Hmm, ngomongin apa yang jadi harapan di 2018 sebenarnya sederhana, saya ingin lebih SANTAI. Sebenarnya kerjaan bukan yang berat-berat gimana, cuma ya kadang otak saya ini suka mengarang novel dengan skenario skenario yang bikin jidat berkerut dalam. Ada masa, vertigo saya kumat karena sepertinya saya stres akibat mikirin yang nggak-nggak. Langsung stop dari semua kegiatan, istirahat sehari supaya ga terjadi drama masuk rumah sakit seperti tahun 2016 kemarin.

Saya juga mau lebih santai menghadapi kelakuan threenager saya. Jadi saya ga pengen gampang terpancing dengan kekeraskepalaan dia ataupun kejahilan dia. Karena di tahun 2017 kemarin, HASTAGAHNAGAH mau garuk-garuk kepala suami rasanya tiap kali dia berulah.

Terus lebih santai ngadepin orang di commuter line (lah balik lagi topiknya ke commuter line). Ini berbagai rupa manusia bisa keluar watak jahatnya kayaknya di commuter line. Ada seorang bapak yang menghalang-halangi saya untuk pegangan di pegangan dekat kursi dengan cara meregangkan kakinya sampai dia menguasai 3 titik pegangan demi dia dapat tempat yang luas (kemudian saya injak saja kakinya dan dia marah-marah manggil saya “MAS” karena rambut pendek saya. Begitu saya ngomong, mukanya berubah karena merasa bodoh ngajak ribut seorang IBU-IBU, yaelah pak, saya aja males ribut sama sesama ibu-ibu, tau kan gimana ibu-ibu kalau disenggol *keluarinpancibuatngemplangkepalanya*). Ada juga yang selingkuh (ini apa sih, asli berdempetan di kereta terkadang membuat kita overheard yang taks perlu). Yang cuek duduk di kursi prioritas padahal dia bukan golongan prioritas dan pura-pura bobok nyenyak atau pura-pura sakit waktu diminta kasih tempat untuk yang prioritas mah udah banyak ya. Ada juga seorang ibu yang ngomelin saya dan nuduh saya dorong dia padahal tangan saya sedang sibuk pegangan di pegangan kereta (ini gw rasa sih karena dia ngeliat gw gede trus dia ngambil kesimpulan yang seenaknya, lagian woy buuuuu…kalo ga mau kedorong-dorong naik taksi gihhhhhh *gagalsantai*. Sampai bapak-bapak di sebelah saya senyum-senyum kasihan sama saya yg dituduh si ibu, sepertinya dia juga sering dituduh begitu πŸ˜‚). Pokoknya banyak yang bikin ga santai deh di commuter line. Makanya saya pengen lebih santai supaya uban saya ga nambah.

Stop pit, sudah sudah..jangan mengoceh tidak karuan.

Anyway, semoga 2018 membawa berkat lebih banyak bagi kita. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang, jadi mari hidup dengan baik untuk saat ini dan tetap berharap yang baik di masa depan (tsahhh…)

Anyeong! πŸ˜„

KRL oh KRL

Yeay, saya resmi jadi pesbuker (persatuan ebok ebok kereta) selama 2 minggu ini. Setelah sebelumnya saya hanya sekali-sekali menggunakan kereta, akhirnya sekarang saya menjadikan kereta sebagai moda transportasi utama saya. Dulu, waktu jadi angkoters dan ojekers, saya suka mbatin “duh, capek banget kali ya kalo kerja naik kereta tiap hari”. Sekarang, bulan mbatin lagi tapi ngalamin sendiri. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Hmm, waktu jadi angkoters dulu, masalah terpelik soal berangkat kerja adalah memilih mau naik monster, sexy, atau apa nih. Jadi angkot arah sukabumi dulu itu punya nama perkumpulan masing-masing yang namanya ditempel di kaca depan. Ada beberapa perkumpulan yang terkenal cepat (baca:nekat) bawa angkotnya dan justru paling penuh penumpang yang mengejar waktu di tengah kemacetan yang yaampunkokngeselinbanget. Yang paling cepat itu monster. Pertama kali saya naik, saya ga berani melek saking takutnya tapi lama kelamaan malah merem karena tidur nyenyak 😁.

Lalu, bagaimana dengan KRL? Yang jelas 1 kata ga cukup untuk menggambarkan rasanya. Padahal baru 2 minggu, tapi saya merasa banyak pelajaran (PE-LA-JA-RAN) yang saya dapatkan sebagai pesbuker.

1. Belajar Disiplin

Saya merasakan banget harus mendisiplinkan diri bangun amat sangat pagi supaya dapet kereta yang sesuai. Telat 5 menit sampai stasiun, ceritanya bisa beda jauh. Jadi kalau lagi malas bangun, saya mengingat-ingat kalau telat 5 menit bisa2 saya berdiri sepanjang rute kereta yang dari ujung ke ujung dan kepadatannya bisa berbeda sekali, langsung melek dengan sempurna deh saya.

2. Belajar Tangguh

Tangguh beibeh..ini mah ga usah dijabarin ya, pertarungan menaiki kereta levelnya udah kayak taruhan makan ayam ricis level 4..berkeringat bok, belom lagi kalo harus berdiri melewati buanyakkk stasiun karena ga dapet duduk, berdempetan sampai rasanya bisa berdiri tanpa pegangan saking dempetnya. Pokoknya, ga boleh cemen dan melas, malah bikin perasaan tambah capek karena tak ada yang peduli. Bukannya karena tak berperikemanusiaan tetapi karena semua orang sama capeknya kelesss…

3. Belajar Sabar

Sabar kalo kaki keinjek, sabar didorong kesana kemari setiap berhenti di stasiun, sabar kalo kepala lo diketekin orang, tapi yang paling ajib sih sabar kalo “kereta gangguan”. Kalo udah gangguan, penumpukan penumpang di stasiun dan di kereta pasti terjadi, trus sampe tujuan jadi lama banget. MOHON SABAR INI UJIAN BEIB..

4. Belajar Tetap Peduli

Sungguh loh, ini berat bung kalo di kereta. Lo udah capek-capek berangkat subuh buat dapet tempat duduk (non prioritas) dan stasiun tujuan lo masih 1.5 jam lagi tapi tiba2 masuk nenek2 renta atau ibu2 hamil yang ga kebagian kursi prioritas..dilema deh tuh..kalo sekali2 naik kereta, pasti akan saya kasih tanpa pikir panjang..tapi kalo setiap hari bagaimana? Kalo di sekitar lo banyak orang lebih muda/remaja pria yang cuek bebek dengan kondisi nenek atau bumil itu, apa lo akan rela hati ngasih bangku yang berharga itu..jawabannya “harus”. Saya ngalamin beberapa kali seperti ini, berdebat dalam hati, tapi ya apa tega..jadi ngerti banget deh peduli sama orang saat sebenarnya kita juga butuh. πŸ˜‹πŸ˜‹

5. Belajar Strategi

Serius ini, ngatur strategi naik kereta yang jam berapa, gerbong berapa yg kemungkinan masih ada tempat duduk, berdiri di bagian peron mana supaya dapet gerbong itu dst..dst..

Seperti biasa, pikiran saya yg suka melantur ini juga tergelitik buat mikirin hal2 penting ga penting macam :

1. Masinis dan pegawai KAI kereta pertama berangkat kerja jam berapa ya dari rumah, naik apa ya secara belom ada kereta πŸ€”

2. Ibu2 yang naik kereta subuh2 itu buanyak jumlahnya, dan buanyak yang sudah memakai pensil alis (haha, yang keliatan alis doang soale pada make masker). Ga kebayang mereka bangun jam berapa πŸ˜…

Demikianlah sekelumit cerita pesbuker baru ini. Tetap SEMANGADH KAKAK. πŸ’ͺπŸ’ͺ

Life is about process

Judulnya berat aje ya, tapi isinya super receh. Jadi begini, pikiran saya ini kadang suka ngelantur kemana-mana. Bukan cuma waktu bengong atau ga ada kerjaan, tapi ditengah-tengah melakukan sesuatu pun suka terbersit sekilas pikiran ngelantur itu. Misalnya ni, lagi melakukan sesuatu yang prosesnya panjang/lama/banyak tahapannya, tiba-tiba suka terbersit pikiran “bisa ga bagian ini di skip aja” (which is ga bisa, karena satu rangkaian). Yak, saya akan membahas pikiran ngelantur saya tentang proses apa yang pengen di skip dari suatu hal.

1. Kegiatan cuci-jemur-setrika

Ini kegiatan paling tidak menyenangkan buat saya yang tidak punya asisten rt di rumah. Karena apa? Tahapannya banyak, lama, dan menguras energi. Dan proses apa yang paling pengen banget di skip? NYETRIKA. Doh, bisa sih di skip tapi bakal menuai gunung baju yang ujung2nya harus di setrika juga.

Nyetrika itu kegiatan yang ga bisa saya kuasai dengan baik. Manalah kalau nyetrika keringet bisa ngucur kayak lagi mandi. Saya ga bisa nyetrika celana panjang sampai licin dalam waktu cepat, ga bisa nyetrika kemeja lengan panjang dengan cepat, deeste, deesbe (buka aib). Jadi, nyetrika itu bisa jadi pekerjaan yang lamaaaaaaa bgt buat saya. Huft.

Terpujilah laundry kiloan yg sekarang bertebaran, aku bisa memasrahkan baju2 (dan celana, dan sprei, dan selimut, dan boneka) yang terlalu berat untuk disetrika sendiri. *laluakudibilangmamahmalas

2. Masak Indomie/Supermie/Mie2 instan yang lain

Perkara masak mie instan aja ribet ya sis. Haha. Sebagai ibu2 yang suka cheating msg saat si unyil meleng, saya suka masak mie instan. Tapi ada satu proses yang pengen banget di skip yaitu proses membuka bumbu (esp. Minyaknya). Apalagi kalau tiba2 gunting menghilang dari dapur. PR banget deh ngerjainnya.

Pakai gunting aja tangan saya suka kena minyak, apalagi ga pake gunting. Ntah kenapa menurut saya, bungkus bumbu minyak mie instan itu ga user friendly. Kadang susah disobek, atau disobek sedikit keras bisa muncrat kemana2. Iyuh. Makanya saya cinta sekali dengan abang2 warkop dekat rumah/ibu kantin dekat kantor, karena berkat mereka acara makan mie instan saya bisa bikin tangan saya oil free πŸ˜‚

3. Mandiin Anak

Berhubung anak kicik belom bisa mandi sendiri, otomatis kegiatan ini membutuhkan orangtuanya. Tapi perihal mandi ini suka berujung drama. Apalagi kalau bukan si bocil menolak sikat gigi. πŸ˜ͺπŸ˜ͺ. Membujuknya itu bukan hal mudah. Bisa di skip? Bisa banget, tapi apa iya saya tega2an begitu, ntar gigi rusak, emak bapaknya yang ketumpuan lagi πŸ˜‚. Biasanya nih, cara terampuh adalah dengan menyanyikan “lagu huruf vokal” (cuma nyebutin a, i, u, e ,o sambil mangap lebar2 dan dikasih nada suka2 hati). Waktu pelafalan huruf “i” curi2 sikat gigi depannya, huruf “a” curi2 sikat gigi bagian dalam dan belakang, dan seterusnya sampai dirasa cukup.

Masalahnya itu saya buosen buanget nyanyi itu, apalagi kalau buru2. Haish, rasanya pengen tak pegang paksa trus disikat (kemudian anaknya trauma dan emaknya dilaporkan atas perlakuan tdk menyenangkan). Haha.

Hmm..apalagi yah? Kayaknya baru segitu aja yang terlintas. Ada ga sih yang pernah punya pikiran ngelantur kayak gini? (Woo..cari temen, ngelantur kok ajak2)

Another Start

Well, besok akan jadi hari terakhir saya bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Saya akan berpindah ke suatu tempat yang masih tidak bisa saya bayangkan seperti apa nantinya. Lalu bagaimana rasanya? Nervous yet excited. Karena semua hal akan di mulai dari titik nol lagi.

Di tempat saya sekarang, banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan meskipun dengan berdarah-darah (lebay bener). Masih teringat jelas masa-masa adaptasi yang luar biasa sulit, kesulitan tidur karena kepikiran kerjaan, stres karena melakukan kesalahan, tetapi juga menemukan teman yang sepenanggungan di sini. Meskipun jadi single fighter untuk beberapa job desk, tapi pada akhirnya saya tidak sendirian. Belajar mandiri, belajar menengahi, belajar melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang lebih luas.

Kalaupun sekarang saya memutuskan mencari tempat yang baru, itu bukan lagi semata-mata melarikan diri dari kesulitan di sini. Malahan saya merasa siap menghadapi “kesulitan” baru yang mungkin ditemui nantinya. Saya memutuskan mencari tempat dimana ada celah untuk tumbuh dan di bentuk menjadi pribadi yang lebih baik. Doakan saya supaya bisa terus “on fire”.

Karena seperti kata seorang teman (yang saya kutip menjadi tag line) :

“hidup itu bukan pelarian diri dari satu masalah ke masalah lain, tetapi sebuah perjalanan yang harus di lewati dengan sebuah harapan akan ada tujuan yang kita capai pada akhirnya”

Kuntum Farmfield, Bogor

Sekitar 2 minggu yang lalu, saya dan Bri mengunjungi satu tempat wisata di Bogor yaitu Kuntum Farmfield. Sebenarnya ini kunjungan kali kedua kami, tapi rasanya lebih berkesan dari yang pertama dulu. Karena apa? Pertama, Bri sudah lebih besar dan lebih enjoy dengan kegiatan yang kami lakukan; Kedua, saya kali ini hanya datang berdua bareng Bri naik KRL dan angkot untuk sampai ke Kuntum.

Rumah saya memang masih seputaran Bogor, tapi coret banget, jadi kalau mau ke Bogor alternatifnya bisa naik angkot menerjang macet dikala weekend atau naik kereta dulu 1 stasiun ke Stasiun Bogor baru dilanjutkan naik angkot. Kenapa saya tidak pakai angkutan berbasis online? karena Bri lebih senang naik KRL dan angkot sepertinya. Hehehe.

Hari itu rencananya mendadak banget saya putuskan untuk ke Kuntum bersama Bri. Pak B ada pertemuan seharian, jadi otomatis kami tidak bisa jalan bareng seperti weekend biasanya. Awalnya saya mau ajak Bri ke planetarium yang ada di TIM. Sudah pede akan kesana, tetapi saat saya cek website-nya ternyata pada postingan terakhirnya (Bulan April/Mei 2017), planetarium ditutup sampai pemberitahuan selanjutnya karena ada perbaikan. Belum ada update mengenai tanggal dibuka kembalinya, jadi daripada zonk sudah jauh-jauh kesana, saya putuskan untuk menghabiskan weekend di Bogor saja. (Apakah ada yang tahu update mengenai pembukaan planetarium ini?).

Jadi perjalanan kami pun dimulai sudah agak siang, sekitar jam 10 berangkat. Awalnya pesimis nih bakal panas banget, anaknya bakal enjoy ga siang-siang, apa ke mall aja biar adem, dst..dst.. tapi karena sudah dijanjiin bakal ngasih makan kambing, si Bri semangat-semangat aja. Untungnya cuaca lagi bagussss, jadi ga panas, tapi ga hujan, adem-adem cantik gitu cuacanya meskipun kami sampai tengah hari bolong.

Dari rumah, kami naik ojek ke Stasiun Cilebut, dilanjut naik KRL ke Stasiun Bogor, dari stasiun Bogor yang ruame pol saat weekend kami naik angkot 03 ke depan Botani Square, dari sana kami naik angkot 01 (arah Ciawi) sampai ke Kuntum. Barangkali ada yang mau ngangkot seperti saya untuk kesana :).

Tiba di Kuntum, kami bayar tiket 40k/orang, Bri sudah harus bayar. Kalau tidak salah ingat, anak di bawah 2 tahun free.

Setelah di dalam Kuntum, kita bisa beli makanan untuk Kambing/Sapi/Marmut/Kelinci, harganya 1 bakul 5k, ada juga pelet untuk mereka harganya 2 bungkus 5k. Selain makanan, ada juga susu untuk kambing/sapi. Kayaknya sih kalau yang kambing 5k/botol, kalau yang sapi 10k/botol “tupperware” 500 ml. Untuk pelet ikan juga ada kokm 1 bungkus 5k.

Begitu melewati pemeriksaan tiket, ada jalan setapak yang kanannya ada tempat-tempat duduk di bawah pohon rindang, lalu di samping kiri ada kolam ikan. Untuk yang mau ngadem sebentar, enak sih tempatnya. Setelah itu ada tempat peminjaman caping/topi petani. Waktu saya datang sih, tidak ada penjaganya, jadi langsung ambil sesuai ukuran kepala. Kalau saya perhatiin sih, caping ini banyak yang cuma di tenteng sama orang, malah ngeribetin. Padahal berguna juga lho untuk menghalau panas. Jadi kalau yang enggan pakai caping sih, saya saranin pakai topi sendiri.

Yang kita kunjungi pertama kali adalah kandang Marmut. Marmut-nya ginuk ginuk kaya emaknya Bri. Dan jumlahnya banyak. Awalnya saya sendiri geli-geli gimana gitu, tapi demi anak ye..tapi kandangnya bersih jadi nyaman lah buat anak lari-larian kasih makan marmut. Di awal saya sudah wanti-wanti sama Bri, kalau hewannya tidak mau makan jangan dipaksa, tandanya mereka sudah kenyang. Apalagi kami datang siang, takutnya hewannya sudah kekenyangan dikasih makan pengunjung yang datang lebih pagi dari kami.

Jpeg
Marmut..mam rumput sini..
Jpeg
Ma..marmutnya mau makan ma

Meskipun si marmut super cute, ternyata Bri pengen pindah kasih makan ke kandang kambing. Dari awal kan memang dijanjikannya kasih makan kambing, jadi belum sah kalau tidak ke kandang kambing. Kami pun menuju kandang untuk kambing yang masih kecil, jadi bukan di kandang kayu, tapi di sepetak rumput yang dipagari kayu. Kasih makannya tentu dari luar pagar karena meskipun jinak, si kambing lebih gragas kalau lihat makanan.

Jpeg
Sini mbek..makan yang banyak. Saya cukup amazed karena Bri ga takut lho kasih makan kambing, meskipun tangannya kejilat kambing. hahaha

Di kandang kambing ini, ada satu pengunjung yang baru datang dan tahu-tahu ngambil makanan dari bakul kami untuk dikasih ke kambing, saya mau negur ga enak, akhirnya saya ajak Bri lanjut ke kandang kelinci saja. Tadinya bakul kami mau di bawa sama Bri, tapi saya bujuk supaya ditinggalkan saja dan kami beli yang baru. Untung anaknya mau, jadi tidak ada insiden rebutan bakul. Hahaha.. Kami pun lanjut ke kandang kelinci untuk kasih makan. Ternyata si kelinci ini tidak selincah si marmut atau si kambing saat disodori makanan, entah karena kekenyangan atau waktunya mereka tidur dan bermalas-malasan. Kami hanya sebentar di kandang kelinci, karena Bri sedikit bete, ga ada kelinci yang mau makan.

Screenshot_2017-07-17-14-33-01
Kelincinya ginuk-ginuk sampai malas bergerak. Hahaha

Saya agak heran sih, di kandang kelinci, kandang kambing, dan kandang marmut, pasti ada aja orang tua yang menegur sang anak “jangan begitu, kotor” “jangan dekat-dekat nanti dijilat”. Hahaha, namanya juga wisata kasih makan hewan, gimana caranya ya buat tetap bersih dan steril? Sebenarnya ada beberapa titik untuk cuci tangan, jadi kalau saya prefer anak kotor-kotoran (tapi diawasi jangan masukkan tangan ke mulut) lalu cuci tangan supaya bersih. Karena kalau dilarang-larang mereka jadi kurang enjoy untuk eksplorasi. Tapi who am i to judge? Mungkin ada alasan tertentu yang buat orang tua jadi protektif begitu. πŸ™‚

Tibalah di kandang sapi yang mana Bri sama sekali tidak mau mendekat. Sepertinya dia terintimidasi ukuran sapi yang besar, trus waktu kami dekati, ada sapi yang pipis dong di kandang. Pipisnya deras banget kek grujukan ember, untung ga muncrat kemana-mana. Hahaha. Bri langsung tanya kenapa sapi pipis di kandang bukan di toilet. Aku kudu jawab gimana ya?

Jpeg
Sapinya gede banget, Ma..
Jpeg
Aku ga mau dekat-dekat! Takut..hahaha

Setelah kandang sapi kami lewati, kami melihat beberapa kandang. Ada angsa, ayam, burung, rusa..tapi ga terlalu lama singgah karena emaknya Bri stres ngeliat ayam dan angsa, sedangkan Bri bosan ngelihat rusa dan burung. Rusa ini jumlahnya jauuuuuhhhh lebih banyak kalau dilihat di trotoar depan Istana Bogor, jadi udah bosan kayaknya si Bri.

Jpeg
Angsanya berbaris rapi
Jpeg
Senangnya lihat yang hijau-hijau begini
Jpeg
Saya lupa ini lagi lihat apa ya..hehehe

Ada aktivitas yang seru banget kami lihat tapi tidak kami lakukan yaitu menagkap ikan di kolam. Di sepanjang jalan setelah kandng ayam, ada beberapa kolam ikan yang bisa di sewa untuk menangkap ikan pakai serokan ikan. Ada juga kolam besar untuk memancing. Tapi untuk menangkap ikan itu lebih seru dilakukan beramai-ramai (saya ga tanya sih berapa orang maksimal/minimalnya), jadi kami lewati karena kami cuma berdua. Hahaha.

Jpeg
Itu kolam buat nangkap ikan di sisi kiri dan kanan

Inilah highlight buat Bri sepanjang kunjungan kami : Naik Kuda! di ujung area Kuntum ini ada lapangan luas dimana kita bisa sewa naik kuda 1 putaran, harganya 30k/orang. Jadi meskipun 1 kuda, kalau yang naik 2 orang ya bayar 60k (misalnya orang tua yang mau mendampingi anaknya). Naik kuda ini baru buka jam 1 siang (mungkin break makan siang si mamangnya).

Jpeg
Sudah mendung
Jpeg
Ini track untuk naik kuda

Tadinya saya mau bujuk Bri supaya ga usah naik karena mahal, hahaha..tapi saat saya tawari mau naik sendiri atau tidak, dia bilang mau. Bri berani, katanya. Saya mah udah siap-siap kalau tiba-tiba dia jadi takut dan saya terpaksa membeli tiket tambahan. Tapi ternyata, she keeps her promise. Dia berani bahkan sangat excited untuk naik kuda sendiri. Duh, saya yang tiba-tiba ndredeg, apa bisa dia sendiri sampe wanti-wanti mamang penjaga kuda untuk putar balik kalau Bri tidak bisa diam dan bahaya.

Tapi Bri benar-benar berani, tenang, mantap pegangannya, dan semangat. Ditengah putaran, hujan turun cukup deras (meskipun sebentar) tapi masih bisa diterjang si mamang, saya yang khawatir si Bri bagaimana, untung saja dia pakai caping, jadi kepalanya kering. Setelah 1 putaran, Bri pun sampai dengan muka yang sangat senang dan bangga. Dia berulang kali bilang “Bri berani lho naik kuda sendiri” (haha..maap ya mang, ga dianggep sama Bri, padahal si mamang yang memastikan si kuda tetap on track)

Jpeg
That’s my girl!
Jpeg
Si mamang ala naruto, mukanya ditutup begitu. Hihi..Bri supppperrrr happpyyy setelah naik kuda ini.

Setelah selesai naik kuda, kami pun menyudahi kunjungan kami ke Kuntum karena ada anak tetangga yang khitanan dan kita diundang, jadi buru-buru pulang supaya terkejar waktunya. Sebenarnya ada area tanaman organik yang bisa dipetik dan dibeli, tapi saya skip kali ini karena anaknya ga minat (emaknya juga sih..haha).Kami menyempatkan makan siang sebelum akhirnya kembali berpetualang menaiki angkot dan KRL.

Saya rekomendasi untuk berwisata kesini kalau mengunjungi kota Bogor. Hiburan untuk semua umur. Memang lebih maksimal kalau anaknya sudah bisa enjoy (diatas umur 3 tahun), tapi tidak menutup kemungkinan dedek-dedek bayi juga senang melihatnya.

Ngopi di Bogor

Nulis post ini sebenarnya ga enak hati, hahaha…karena apa? karena saya sebenarnya ga ngerti-ngerti amat tentang kopi. Bisa dibilang saya ini awam tentang kopi, tapi saya menyukai kegiatan ngopi dan juga tentunya menyukai rasa kopi. Kesukaan ini baru berlangsung satu setengah tahun belakangan, diawali dengan ajakan Pak B ke sebuah tempat ngopi yang ternyata ampuh jadi mood booster saya yang sedang penat.

Dulu, adakalanya sesekali saya suka nongkrong kekinian di tempat waralaba ngopi yang terkenal itu tapi kebanyakan hanya pesan yang kombinasi espresso dengan flavoured syrup atau dengan susu disambi dengan brownies atau pastry lainnya. Tetapi, makin kesini, saya makin jarang ke tempat itu karena kok ngerasa semua minumannya kemanisan meski tanpa ekstra gula dan brewed coffenya agak terasa hambar buat saya. Selain itu, emang mahal sih (hahaha..alasannya muter-muter, tapi motif utamanya ya harga..).

Akhirnya saya lebih suka ke tempat-tempat ngopi yang bertaburan di Kota Bogor ini. Dari banyaknya tempat ngopi, kami baru mengunjungi beberapa tempat, tapi yang agak sering kami kunjungi itu ada 3 tempat. Hehe. Sebelum preambulenya kepanjangan dan ngalor ngidul, ini tulisan tentang kesan saya ngopi di tempat-tempat ini (bukan review loh, review mah harus sama yang ahli..hehe).

1. Baked & Brewed Coffee & Kitchen

Open everyday: Mon-Thu 08.00 – 22.00 Fri-Sun 08.00 -23.00. IG :Β Baked&Brewed.

Alamat : Jalan Salak No.6 (Colonial Building), Bogor (Dekat Lapangan Sempur)

Nah, ini tempat ngopi pertama yang saya kunjungi karena diajak Pak B. Frekuensi kami ke tempat ini paling ga 1 minggu 1 x. Kesan pertama waktu saya datang, tempatnya enak, lega, dan tenang. Dekorasinya minimalis, dominan warna hitam-putih. Tapi sekarang mereka sudah pindah dari tempat awal yang sering saya kunjungi. Tempat barunya ini juga enak dan yah..instagramable deh kalo kata anak sekarang. Menyenangkan pokoknya lah. Haha.

Minuman kesukaan saya disini Cafe Mocha (Campuran Kopi & Coklat (Merk Korte kalo tidak salah coklatnya, seperti yang tertera di Menu)), tanpa gula, tapi sedikit fresh milk (sepertinya) untuk latte artnya.

IMG_20161105_141420
Ini penampakannya tanpa edit, tanpa filter, pake kamera hengpong jadul (ter-LamTur banget gw)

Tapi kadang saya suka ganti-ganti sih pesenan, kadang Coffee Latte atau Manual Brewed mereka. Saya mah standar sukanya, V60 (kadang Japanese Style) dengan biji kopi Kenya. Iya, disini saya ga pernah ngicip biji kopi yang lain. Kalau minuman paling 3 itu yang suka saya pesan disini. Sesekali ngicip kopi Pak B. Dia suka pesan long black atau milkpresso. Saya ga kuat kalau pesan yang long black, pahitnya ngalahin kepahitan hidup. Untuk harga seinget saya untuk kopinya 25k-45k.

IMG_20170101_105703
Ini Coffee Latte, unyu ya Latte Artnya
IMG_20170628_141353_769
Saya suka sama detail ukiran di nampan, menurut saya itu keren :D. Foto ini saya ambil dari tempat duduk bar, karena sofanya tidak ada yang kosong.

Selain kopinya, disini snack-nya enak-enak. Favorit saya Cheese Fries dan Cinnamon Toast. Cheese Fries itu kentang goreng di taburi potongan smoked beef dan siraman keju mozarela. Kalau Cinnamon Toast ya roti panggang dengan bubuk cinnamon dan gula halus dan disajikan dengan 1 scoop es krim vanilla. Too bad, saya ga punya foto-fotonya buat bikin ngiler. Karena sebenarnya saya emang agak sungkan ngambil foto waktu makan (tapi kopi-nya tetep di foto ye..haha).

Menu makanannya banyak yang baru sih di tempat mereka sekarang, tapi kami jarang pesan menu makanan. Pernah sekali pesan rice bowl, sekali pesan spaghetti carbonara, sekali pesan mac & cheese, sekali pesan nasi goreng tom yum. Saya suka-suka aja sih, tapi yang nasgor tom yum saya kurang cocok karena emang dasarnya saya ga suka tom yum tapi penasaran. Hahaha. Untuk harga snack & makanannya, eng ing eng..maap saya lupa..hehehe, tapi ya keknya dibawah 80k semua kok.

Disini baristanya dan pegawainya baik2, di tempat yang lama dulu kalau kita datang dan pulang akan disambut “Welcome” dan “Thank you”. Kalau di tempat yang baru, seinget saya sih nggak, tapi disambut pake senyuman karena begitu pintu masuk langsung tempat order.

Recommended deh tempat ini mah, cuma emang agak tricky cari spot parkir disini, soale ga terlalu besar tapi ramai pengunjung.

2. Rumah Seduh

Open daily Senin – Jumat 09.00 – 21.30 Sabtu – Minggu 09.00 – 22.30. IG :Β Rumah_Seduh_

Alamat : Jalan Bogor Baru Blok AX No 5b (di pinggir jalan, kalau dari Jl Pajajaran Bogor, belok di McD Lodaya, ikut jalur angkot 05, sebelah kanan jalan)

IMG-20170712-WA0002_1
Ciri khas Rumah Seduh adalah tembok yang ditempeli kayu warna-warni. Maafkan model yang tidak fotogenik dan sedang menikmati tetes terakhir kopinya.
IMG_20170630_192207_324
Nah..ini modelnya lebih cerah dan warna temboknya lebih keluar. Ternyata background tergantung model. Kalau modelnya burem, maka buremlah backgroundnya (maksa bener)

Rumah Seduh ini adalah tempat yang terbaru kita kunjungi. Awalnya karena kita ga dapet parkir di tempat ngopi pertama, trus, ga dapet tempat duduk non smoking di tempat ngopi kedua, makanya kita cari tempat ngopi ketiga dan dapatlah Rumah Seduh ini. (niat banget kan mau ngopi? hahaha..)

Disini saya selalu pesan Manual Brewed Japanese Style dengan biji kopi yang berbeda-beda. Disini semua biji kopinya lokal. Yang sudah saya coba sih Lintong, Flores Manggarai, Toraja, dan Ijen. Favorit saya Lintong karena body-nya lebih pas di lidah saya. Yang paling tidak favorit buat saya Toraja karena asaaammm.. tapi Pak B senang-senang saja. Saya juga selalu mencicip punya Pak B. Biasanya sih dia pesan V60 atau Vietnam Drip (pakai Condensed Milk alias Susu Kental Manis, kalau tidak salah sekitar 15 ml (atau 20 ml ya?)). Harga kopinya sekitaran 20k-40k sepertinya. Selain kopi, ada juga minuman lain seperti teh, tapi saya tidak pernah nyoba jadi tidak dibahas ya.

Makanan disini juga banyak, tapi yang selalu saya pesan sih Chicken Wings dan Rice Bowl Beef. Belum pernah coba yang lain. Terakhir kesini ada display untuk pastry tapi belum ada pastry-nya. Katanya sih coming soon.

IMG-20170712-WA0001
Tolong abaikan muka saya dan piring berisi tulang chicken wings ya, please. Yang mau saya tunjukkin ya coffee shop ini (saya duduk di bagian pojok, lurus dari pintu masuk dan ini non smoking area). Kalau yang smoking area ada di sebelah kanan (dari pintu masuk) dan di lt.2. Lihat display untuk pastry yang masih kosong Β dengan latar belakang Mbak Usi, barista yang katanya baru 1 minggu gabung

Disini baristanya juga baik-baik, ramah-ramah. Kalau mereka lagi ga kerja, kadang-kadang bisa diajak diskusi soal kopi. Ada 3 orang yang saya tahu, Mas Widi, Mas Rey, dan Mbak Usi. Saya direkomendasiin sama Mas Rey 1 tempat ngopi namanya Rumah Kopi Ranin (sepertinya pemiliknya sama atau ada hubungan gitu..). Katanya termasuk pioneer di kota Bogor, tapi kami belum sempat kesana sih.

Lagi-lagi kendala disini adalah tempat parkir. Haha.. tricky dah emang masalah perparkiran ini.

Saya sih rekomendasiin tempat ini.

3. Maraca Coffee

TIAP JUMAT BUKA JAM 15.00 Selain jum’at buka jam 09.00. IG : maracacoffee

Alamat :Β Jl. Jalak Harupat No.9A, Babakan, Bogor Tengah, Kota Bogor (dari arah Regina Pacis, mengarah ke lapangan Sempur, lurus aja, disebelah kiri jalan, di dalam penginapan (lupa namanya))

Sayang banget, untuk tempat ini saya sama sekali ga ada foto pribadi. Bisa cus langsung dilihat di instagramnya. Padahal tempat ini keren loh. Ada perpustakaan kecil didalamnya. Jadi memang konsepnya ngopi sambil baca.

Oh ya, parkirannya luas, hehe..karena gabung sama parkiran penginapan. Saya disini belum banyak nyoba kopi sih. Cuma Manual Brewed dengan biji kopi Gayo (Aceh). Oh ya, pernah sekali pesan latte. Kopinya (manual brewed ataupun latte) enak, lebih light dibanding 2 tempat yang sebelumnya, tapi tetap mantap rasanya. Harganya paling terjangkau (kisaran 20k-35k, kalau tidak salah ingat).

Makanannya saya pernah pesan chicken wings, ukurannya agak kecil tapi sambelnya paling enak. Saya ga tahu ini sambel buat sendiri apa sambel botolan, tapi enak deh. Hehe.. Selain itu makanannya banyak, tapi belum pernah nyoba.

Plus poin disini karena konsepnya ngopi sambil baca, jadi ga awkward kalo lama-lama disini sambil baca (saya pernah nungguin Pak B sampai 2.5 jam disini). Cuma sayang sekali tempat duduk di non smoking areanya tidak banyak, jadi saya biasanya ga dapet tempat duduk sehingga terpaksa cari tempat lain. Kalau smoking areanya sih luas kok, cuma karena biasa bawa si bocil, ga mungkin di smoking area.

Barista dan pegawainya? tentu ramah dong ya..kalau ga ramah, saya biasanya ga mau berkunjung lagi. Hahaha. (anaknya baperan).

Apakah saya merekomendasikan tempat ini? Of course lah ya..hehehe

Demikian kesan-kesan saya di beberapa tempat kopi. Kalau ke Bogor, boleh banget mampir kalau suka ngopi. πŸ™‚