Selamat Hari Ibu

Pagi ini, saya bangun dengan perasaan awkward karena berseliwerannya ucapan selamat hari ibu di grup whatsapp yang saya tergabung di dalamnya. Kenapa saya merasa awkward? karena saya merasa bingung bagaimana cara mengucapkan selamat Hari Ibu pada Mama. Mama bukan orang yang terbiasa mengekspresikan afeksi terhadap orang malah cenderung kaku. Bayangkan, saat Papa meninggal, Mama tidak menangis setetes pun sampai Papa selesai di makamkan. Itu pun hanya sekali menangis, setelah itu tidak pernah menangis lagi. Tapi kami tahu beliau sangat kehilangan partner hidupnya, hanya saja tidak berekspresi seperti kami.

Oleh karena itu, pasti akan terjadi keanehan kalu tiba-tiba saya mengucapakan “Selamat Hari Ibu, Ma” sambil memeluknya. Saya takut reaksi yang beliau berikan mengecewakan saya. Egois sekali ya alasan saya. *tutupmuka*. Mungkin nanti sore akan saya ucapkan, setelah mempersiapkan diri dapat tatapan aneh dari beliau 😀

Ibu, atau Mama, atau Bunda, atau Mommy, atau Ummi, atau apapun sebutannya pasti memiliki tempat yang istimewa di hati anak-anaknya. Sekalipun ada beberapa kisah sedih mengenai Ibu yang mengabaikan/menelantarkan anak, tetapi jumlahnya jauuuuuuhhhh lebih banyak Ibu yang akan melakukan apapun demi anaknya, yang sayang sekali sama anaknya, yang berjuang sampai hampir mati untuk anaknya. Duh, saya jadi ingin menitikkan air mata saat mengetiknya. Bentuk kasih sayang Ibu pasti berbeda-beda, pola pengasuhannya pun berbeda. Setiap Ibu adalah pilihan Tuhan bagi anak-anaknya, pasti tepat meskipun sering terasa tidak tepat.

Lalu bagaimana dengan Mama bagi saya? Hubungan saya dengan Mama itu love-“hate” relationship. Tidak benar-beanr hate, tetapi ada masanya kami saling menjengkelkan satu sama lain 😀 . Saya ini sifatnya fotocopy dari Papa yang berdarah Sumatra, keras kepala dan susah basa basi. Kalau tidak suka, ya tidak suka apalagi dengan orang terdekat. Inilah yang sering sekali menjadi pertengkaran di antara kami. Bahkan, waktu hamil pun saya sempat bertengkar hebat dengan Mama karena tidak setuju dengan pendapatnya *nyuwun pangampunten Ma”. Tapi tetap kami akan kembali saling memaafkan. Atau lebih tepatnya, Mama memaafkan saya :’)

Tapi bagi saya Mama juga adalah teladan. Beliau ibu bekerja dan baru pensiun di usia menjelang senja, namun anak-anaknya terurus baik. At least, menurut saya, saya dan adik saya tumbuh tanpa kurang kasih sayang, dan masih pada “track” yang benar. Beliau juga teladan dalam ketegaran. Setelah Papa tidak bekerja karena suatu hal, beliau tetap tegar mencari pemasukan bagi keluarga. Saat Papa divonis diabetes, beliau tetap tegar merawat . Saat Papa meninggal, beliau tetap tegar agar kami tidak kecil hati sebagai yatim. Bagi saya, beliau adalah pahlawan. Terkadang bertanya-tanya, apakah saya bisa seperti beliau menjadi Ibu bagi anak (anak) saya nantinya. Mama juga teladan dalam iman. Dengan iman yang “sederhana”, beliau menunjukkan pada saya bagaimana seorang beriman itu. Percaya penuh dan berusaha menerapkan iman dalah keseharian.

Selamat Hari Ibu Ma. Tuhan menguatkan dan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNYA. Terima kasih telah menjadi sabar terhadap saya dan adik.

Bahagia selalu ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s