My Life is Random

Beberapa waktu belakangan ini kayaknya ga ada hal yang ingin saya tulis di blog, tapi demi blog ga mati suri, saya akan tuliskan saja beberapa hal random yang sedari beberapa waktu lalu saya alami.

Random #1

Saya dan Bri punya beberapa tokoh imajiner dalam cerita sebelum tidur yang jadi ritual kami. Tapi dari semua tokoh imajiner yang ada, Bri paling ingat dengan 3 anak bebek bernama Kwak-kwak, Kwik-kwik, dan Kwok-Kwok. Bukan, ini bukan nama keponakan Donal Bebek ūüėÄ maapkan saya yang kurang kreatif ini.

Suatu malam, Bri susah sekali tidur, dia minta terus-terusan di ceritain sedangkan saya sudah nguantuk buanget. Cerita saya makin lama makin ga seru, terakhir saya ceritakan Kwak-kwak, Kwik-kwik, dan Kwok-kwok jalan-jalan ke museum naik bis (?). Hahaha. Ceritanya sudah setengah sadar.

Dan akhirnya Papa come to the rescue, Pak B menawarkan dia yang melanjutkan cerita! Saya mah hore banget, tapi kok ya saya curi dengar ceritanya heboh sekali sampai pakai gerakan. Saya jadi melek lagi dan ikut mendengarkan. jadi cerita Pak B yang super imajinatif menurut saya adalah begini:

“Suatu hari, Kwak-kwak, Kwik-kwik, dan Kwok-kwok jalan-jalan ke bulan.. (jeda, dilanjutkan peragaan jalan astronot), di bulan mereka ketemu Pitecantropus (? saya mulai mengernyit), lalu tidak lama mereka ketemu lagi dengan Gatot Kaca (diselingi peragaan pamer otot yang heboh), terakhir mereka ketemu Sangkuriang! Akhirnya 3 anak bebek, pitecantropus, gatot kaca, dan sangkuriang bahu membahu membangun seribu candi dibantu Naruto (?) yang mengeluarkan jurus seribu bayangan”.

Hahahahahha..saya ga kebayang deh kok bisa-bisanya dia cerita begitu. Lalu apakah Bri tidur setelah itu? Cencu tidak lah yaw…dia malah seger trus nanya-nanya, apa itu Pitecantropus, Gatot Kaca, Sangkuriang, dan Naruto. Wkwkwkwk. Rasain dah, mending gw tinggal tidur!

Lesson learned : kalau mau anak cepat tidur jangan cerita dengan banyak tokoh dan kosakata baru :’D

Random #2

Di suatu sore yang semilir-semilir, terdengar suara dari jauh “Ting..ting..ting, bakso enak”. Karena tidak berencana makan bakso, jadi kami mengabaikan suara tukang bakso itu sembari mengerjakan pekerjaan lain tanpa menyadari ada 2 kaki kecil yang menyelinap keluar pintu dan berdiri di balik pagar.

Suaranya yang biasanya teriak-teriak tiba-tiba menghilang, barulah kami menyadari anak ini sudah keluar rumah (untung pagar terkunci). Saya pun keluar untuk memastikan, saat itulah saya melihat dia bicara dengan suara yang menurut saya cukup pelan “Bang..Bang Bakso”. Doh! dia manggil tukang bakso, untung suaranya pelan. Srrt..saya buru-buru menghampiri dia untuk menggiring dia balik ke rumah sebelum dia teriak. Tapi..eh tapi, si Abang Bakso pendengarannya super sonik, dia denger dong!! Dia menghampiri rumah dan tanpa basa-basi langsung tanya “Berapa mangkok, Bu?”

Akhirnya sore itu kami makan bakso yang semula tidak direncanakan ini. Doh Bri, jangan semua tukang dipanggilin ya..Bangkrut nak, bangkrut.. ūüėÄ

Lesson learned : Well, hmm..jangan biarkan tukang-tukang lewat depan rumah? ūüėÄ

Random #3

Dulu, saat saya masih kecil banget, saya sering menginap di rumah Pakde (Bapak Gede) dan Bude (Ibu Gede) saya. Bude saya ini kakaknya Mama saya nomor 2. Saya senang sekali menginap di rumah mereka karena ada kakak-kakak sepupu saya yang cowok semua dan udah beranjak abg. They treat me like princess!

Di suatu waktu saat saya menginap, terjadilah kehebohan dari kamar mandi. Pakde saya teriak “Didittttt!!!! ini apa yang kamu taro di tempat odol!” Rupanya, kakak sepupu saya yang namanya Mas Didit, menaruh facial foam (Biore) di gelas sikat gigi, jadi Pakde saya kira itu odol dan dia akhirnya pakai biore buat sikat gigi. Hahahahahahha. Bukannya takut, Mas Didit (dan kami semua) ketawa terpingkal-pingkal. Lagian Pakde sikat gigi ga pake baca merk dulu sih..

But, belom lama ini saya kena batunya. Hal ini saya alami tapi kebalikannya. Saya cuci muka pake odol (Pepsodent)! Saya kayaknya melamun deh sampai salah ambil odol waktu mau cuci muka. Saya baru tersadar waktu liat kaca kamar mandi, muka saya putih semua, trus tercium semriwing bau khas odol. Hahaha, meskipun saya dengar odol bisa buat menghilangkan komedo (ntah benar atau tidak), tapi tetap aja, waktu itu maksud ya cuci muka pakai facial foam, bukan odol!

Saya ketawa cekikikan sendiri waktu sadar dan akhirnya teringat cerita tentang Pakde saya itu.

Lesson learned : Jangan ngetawain orang tua dan jangan melamun di kamar mandi.

Begitulah ke-randoman yang saya alami akhir-akhir ini.

Have a blessed day

Ciao Bella

Pendapat Orang

Hmm, beberapa hari ini pikiran saya terganggu dengan pertanyaan “gw ini termasuk orang yang mementingkan pendapat orang sama gw ga sih”. Ga tau sih awalnya kenapa mikir begitu. Tapi saya¬†perhatikan, ada beberapa orang disekitar saya ini terkesan “free”. Mereka bisa melakukan apa pun yang menurut mereka menyenangkan tanpa memusingkan apa pendapat orang tentang apa yang dia lakukan atau putuskan. Terkadang saya iri dengan orang yang free spirit kayak mereka, tapi ada masanya juga saya geleng-geleng liatnya ūüėÄ

Balik ke pertanyaan di atas, ternyata saya ini labil. Kadang saya mementingkan pendapat orang, kadang sangat cuek dengan pendapat orang. Kapan saya mementingkan pendapat orang atau kapan saya cuek itu juga sangat tergantung. Kadang saya cuek terhadap pendapat yang orang lain pikir “penting sekali” buat saya, tapi sering juga saya memperhatikan pendapat yang sebenarnya receh nan remeh temeh.

Misalnya nih ya, saya sering cuek dengan pendapat orang mengenai penampilan saya yang katanya memberi kesan “preman” atau “gembel”, menurut teman-teman saya penting banget loh perhatiin penampilan ini. Tapi belum lama ini ada juga kejadian receh yang bikin saya kepikiran mengenai pendapat orang. Kejadian receh ini terjadi di suatu sore yang tenang, saya, Pak B, dan Bri ada di suatu kedai kopi langganan saya. Disana saya sempat mengeluarkan handphone untuk mengecek whatsapp, dan tanpa sadar handphone saya letakkan di kursi dan lupa sampai saya pulang.

Kami pun meninggalkan kedai kopi setelah menghabiskan pesanan kami, dan sudah setengah perjalanan saya mencari handphone yang tentunya tidak ada di tas saya. Saya coba telepon pakai handphone Pak B juga tidak terdengar deringnya, padahal saya ingat kalau handphone saya itu tidak di silent, malah dering maksimal. Pak B yang mulai bete langsung cari putaran untuk balik ke kedai kopi tadi karena sepertinya saya meninggalkan handphone saya disana.

Tahu ga apa yang saya pikirin di sepanjang jalan balik? Saya bukannya takut handphone saya hilang, tapi saya mikirin apa pendapat orang yang menemukan handphone saya. Hahahaha. Handphone saya itu deringnya lagu artis korea dan screen saver maupun screen locknya juga artis korea. (tutupmukapakepostergongyoo). Saya bayangin tiba-tiba orang yang duduk di tempat kami kaget karena ada lagu asing trus screen locknya artis korea. Pasti mereka pikir itu punya anak abege.

Akhirnya kami tiba di kedai kopi tadi, trus handphonenya disimpan di kasir. Saya pasang tampang cool meskipun saya sebenarnya pengen ngibrit sambil tutup muka. Malu banget.. Runtuh citra saya sebagai Ibu-ibu kekinian yang dewasa nan bijaksana..apalagi hari itu saya bawa Bri, makin kelihatan kan saya seperti emak-emak yang menolak move on dari masa abege. Hahaha.

Receh banget ga sih kejadiannya? Dan setelah dipikir-pikir mungkin mereka juga ga ngeh dengan lagu maupun screen saver saya, saya aja yang lebay..hahaha.. Begitulah kira-kira postingan tanpa intisari yang bisa diambil ini.

Peace ah

Banjir Lokal

Hahahahahahaha..saya izin ketawa dulu sebelum nulis post yang singkat ini. Jadi, hari ini saya merasa betapa sense of humour Tuhan amatlah menakjubkan (disc. dalam arti positif ya). Berawal dari semalaman saya gelisah memikirkan pekerjaan yang bikin saya ga enak hati siang harinya tetapi juga sekaligus merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaan esok hari. 

Pagi ini sih saya bangun dan berangkat kerja dengan perasaan yang biasa saja cenderung plain. Sampai kantor kepagian, nyalain komputer, printer, dan rekan2nya. Lalu menuju pantry untuk sarapan pagi. Normal saja.

Sarapan pagi berjalan mulus dengan selembar roti dan secangkir oat (pencitraan). Selesai makan, seperti biasa saya hendak mencuci cangkir yang saya pakai untuk sarapan. Dan disinilah dimulai kejadian luar biasa.

Kran air yang saya putar dengan kekuatan standar emak2 tiba2 lepas dan air menyemprot dengan sangat kencang. SANGAT KENCANG. Tau kan aliran air yang dipakai untuk industri pasti tekanan tinggi dan ini kejadian di pantry bukan di kamar mandi!

Panik? Banget! Saya coba tutup pakai tangan saya sambil teriak2 mencoba mencari pertolongan. Dan entah kenapa sampai 5 menit berlalu tidak ada yang nongol. Saya teriak makin kencang, sampai akhirnya ada 1 orang yang menghampiri dan langsung memanggil OB & Maintenance. Aliran air langsung dimatikan dari pusat dan berakhirlah drama pagi itu? Ehm..not.

Saya basah sebasah2nya dari ujung rambut, jaket, baju, celana, pakaian dalam (eh), sampe sepatu. Saya ga bawa ganti, trus drama berikutnya saya dicemberutin OB. Hahahaha. Dingin banget kakak..

Akhirnya saya dipinjami jas lab, rok cadangan teman, jaket teman (tapi pakaian dalam nggak lho y) sementara pakaian saya dikeringkan di mesin cuci kantor. Mata saya merah karena kena semprotan air, dan rambut saya keringkan di bawah hand dryer di kamar mandi. Sepatu saya copot dan bersandal jepit.

OB masih ngambek, tapi saya baik2in aja..hahaha..karena memang unpredictable case kan? Setelah selesai ganti baju, saya pun duduk di meja dan mulai relaks. Saya ketawa karena lucu juga kalau diingat.

See? Disaat saya berpikir sangat jenuh di kantor, Tuhan kasih satu kejadian yang bikin saya “ga jenuh” alias kalang kabut. Hehehe..

#Bripulangkampung (2)

Eits..eits..rajin apa ga ada gawe ceu? Udah lanjut postingan #Bripulangkampung ajahh.. Biarlah ya, abis liat postingan tadi endingnya ngegantung gitu..bacanya ga resep, hahahaha..

Day 3 

Setelah kemarin kami pulang dari kampung Tua, hari ini agenda kami ke gereja dong ya, kan hari Minggu. Untung ibadah di gereja mertua saya itu mulainya pukul 10.00. Ga kebayang kalau seperti gereja kami di depok yang ibadahnya jam 07.00, mamih, aku takut mandii.. *cetek. Beneran lho ya, di rumah ini kan tak ada heater, jadi kalau mandi harus rebus air dulu, trus diangkut ke kamar mandi, yang mana harus segera dipakai kalau ga mau airnya jadi dingin lagi… Saya pernah tuh, udah rebus air, udah di tuang ke ember, trus ditinggal sebentar (lupa ngapain, tapi paling 2 menit), eh airnya mulai anyep jadi ga bisa ditambahin air dingin banyak-banyak kalau mau tetep anget. Mandinya jadi ga bisa foya-foya, harus irit air anget yang tinggal segitu-gitunya..hehehe.

Gereja mertua ini dulu tempat Bri tardidi (Baptis), jadi waktu kami kesana, banyaklah orang yang menyapa dan bilang betapa Bri cepat tumbuh besar, tidak terasa kata mereka (hahaha, ya eyalah, pada ga kerasa, kalo emak bapaknya mah kerasa bengbeng). Ibadah menggunakan bahasa daerah (Bahasa Simalungun), jadi saya sama mama cuma bisa bilang “amin” dan meyakini apa yang disampaikan itu adalah ya dan amin. Payah ni emang saya, belum bisa bahasa ibu suami, abis Pak B ga pernah ngajarin juga (alasann..alasannn).

Pulang dari gereja, Inang menjanjikan Bri berenang (emak be like : heol…dingin begindang Inang, ini anak mau berenang dimandose). Jadilah sesiangan, Bri nagih terus “ayo Inang, Opung berenang di danou (red. danau)”. Ya ampun dah, ni anak, cocok keknya di negara dengan musim dingin, soale tidur pun ogah di selimutin, kalau diselimutin, dia ngamuk. Padahal emak bapaknya udah meringkuk kedinginan sekalipun berselimut tebal.

Akhirnya Opung membawa kami ke “pantai” Raya, salah satu pantai Danau Toba yang terdekat dari rumah mertua. Jangan di bayangin pantai pasir ya cinn…ini pantai batu, batu-batunya gede-gede banget dah. mau berenang pun kami harus hati-hati karena batunya licin..jadi repot jaga keseimbangan megangin bocah dan jalan diatas batu.

p_20170115_150444_hdr.jpg
Ini aslinya berdiri di atas batu, tuh Pak B rempong megangin Bri

Iya, akhirnya berenang singkat aja, karena kami khawatir kami kepleset atau Bri demam. Tapi ni bocah emang setrong, ga demam, cuma meler dikit ajah..itu juga ga rewel. Di pantai ini ada banana boat juga, tapi kami ga coba soalnya..err..kami ga bisa berenang, ngeri kalau ketengah-tengah begitu *tutupmuka. Setelah berenang singkat dan membersihkan badan, kami pun makan ikan bakar pesanan Opung.

p_20170115_154533.jpg
Nih, unyil sama 2 neneknya. Lagi ngasih eyangnya makanan pembuka sebelum makan ikan bakar.. Momog* rasa coklat

Ini pantai ramai banget, jadi ga bisa nikmatin suasana, jadi pas pulang lewat jalan berliku-liku mirip jalanan puncak, tapi jurangnya itu Danau Toba, kami sempat berhenti di satu spot untuk sekedar memandangi Danau Toba. Pas pula waktunya sedang matahari terbenam. Jadinya cancikkk anethhh pemandangannya.

img_20170115_185603.jpg
Cantik yaaa…itu matahari memantul di Danau Toba.

Kami akhirnya pulang menjelang malam ke rumah setelah puas memandangi sunset di danau Toba.

Day 4

Ini hari dimana hati saya terasa berat sekali, karena mengingat liburan yang hampir habis. Hiks. Hari itu sampai sore, kami stay saja di rumah karena memang Opung dan Inang harus bekerja. Opung dan Inang adalah Guru, Opung kepala sekolah SMA dan Inang guru bahasa inggris SMP. Tengah hari, Inang pulang untuk mengajak Bri ikut ke sekolahannya. Bri senang sekali, pulang-pulang dia cerita tentang kakak-kakak belajar, Bri ke kantin, di beri buku gambar dan spidol, di beri uang jajan sama teman Inang dan macam-macam. Ujung-ujungnya : Ma, Bri mau sekolah.. Errr…

Sore hari Opung pulang dan mengajak kami ke Air Terjun Sipiso-piso, Ini kali ke dua saya kesini, dan saya ga mau turun ke bawah, takut ga sanggup naik lagi.Hahahaha. jadi kami hanya melihat-lihat pemandangan sambil makan p*p mie. Ini aslinya indah banget, tapi sayang, banyak sampah. Kenapa susah banget sih buang sampah pada tempatnya yak. Untung ga menghalangi saya menikmati pemandangan indah Air Terjun dan Danau Toba (again).

p_20170116_164640_hdr.jpg
Maap gambar pecah, ini di zoom dari kamera hp jadul saya. Air Terjun Sipiso-piso
img_20170116_180140.jpg
Sunset at Sipiso-piso
img_20170116_171055.jpg
Danau Toba from Sipiso-piso point of view
p_20170116_173311_hdr.jpg
Kedua Ibu yang sangat saya sayangi. Laf yu Eyang, Inang

Pulang dari air terjun, kami mampir di rumah Mak Tua (Kakaknya Inang) untuk bercakap-cakap dan pamit karena besoknya kami sudah harus pulang. Rumah Mak Tua ini semacam warung kopi tapi juga tempat transaksi pedagang (kami sempat melihat pedagang jeruk di Sabtu pagi).

p_20170114_075308_hdr.jpg
Jeruk dimana-mana *maafkan latar si ayam..

Setelah kami menghabiskan segelas teh hangat dan berbincang-bincang, kami pun pulang ke rumah untuk istirahat.

To Be Continue..(tsaelah, tinggal cerita pulang doang masih disambung..)

#Bripulangkampung

Yap… Kali ini saya mau bercerita tentang kesempatan pulang kampung ke Rumah Mertua saya di Sumatra Utara. Kami berangkat tangal 13/1/2017 dan pulang tanggal 17/1/2017. Singkat memang (banget malah menurut saya), tapi sangat berkesan untuk kami.

Day 1

Tanggal 13, kami berangkat dengan pesawat pukul 05.00, ngantuk berat coy waktu jalan menuju bandara Halim. Sengaja kami pilih pesawat pagi karena perjalanan dari Kualanamu ke rumah mertua saya itu memakan waktu kurang lebih 5 jam. Demi menghabiskan waktu yang lebih panjang bersama mertua, kami pilih pesawat pagi agar sampai sana masih terang dan sempat bercerita. Ternyata pesawat berangkat lebih awal (04.40 kalau tidak salah) dan kami tiba di Kualanamu pukul 06.50.

img_20170113_160419.jpg
Tiba di Kualanamu, menuju mengambil bagasi
img_20170113_072644.jpg
Anak kecil minta foto di depan replika Istana Sultan Serdang

Berhubung kami datang di hari kerja, dan Bapak mertua harus rapat, jadi kami hanya bisa di jemput di Siantar (kurleb 1-1.5 jam dari rumah mertua). Kami pun menaiki bis cepat paradep untuk sampai ke Siantar. Oh ya ampunnnnnn, supirnya benar-benar “gila”, sampe horor liat jalanan..salip sana, salip sini, pokoknya ga boleh ada kendaraan di depan dia :D. Daripada jantungan, saya pilih tidur, karena emang juga ngantuk berat. Tapi luar biasa ya si krucil, dia ga ada takut sama sekali, malah joget-joget ikutin musik karaoke yang diputar sepanjang perjalanan. Hahahaha. Tiba di Siantar, kamu di jemput dan lagi-lagi di perjalanan sampai rumah, saya tidur..dan krucil masih petakilan. Oh ya, rumah mertua saya ini ada di Saribudolok, Kabupaten Simalungun. Di sana itu dingin banget kakakkk…maklum, masih daerah gunung. Jadi kalau tidur harus pakai selimut tebal dan mandi jadi tantangan tersendiri. Saya emang anak tropis banget, ga kuat dingin..makanya ga kebayang tinggal di negeri yang ada musim dinginnya..Hahaha.

p_20170113_143841_hdr.jpg
Yeay, akhirnya sampai di rumah Inang & Opung (kata Bri)

Si Bri ini kalau panggil Bapak mertua saya itu Opung dan Ibu mertua saya itu Inang. Karena Ibu mertua saya ga mau terkesan tua dengan panggilan Opung. Setelah sampai, kami pun beres-beres dan di lanjut cerita sampai malam. Malam itu dihabiskan dengan.. nonton bareng debat pilkada DKI Jakarta 2017. Jangan tanya kami pilih siapa, karena kami ga ikutan nyoblos. Yang satu ktp Sumatra Utara, yang satu ktp Jawa Barat. Hehehehe. Senang sekali rasanya bisa berkumpul di sana dengan keadaan sehat. Jadi sebenarnya ya, kami pulang kampung itu bagian dari janji kami pada Bri kalau saya sudah sehat, kita bisa ke rumah Opung dan Inang. Dan Bri berdoa terus supaya saya sembuh dan bisa ke rumah Inang.

Day 2

Keesokan harinya, saya dan keluarga (termasuk si Bontot adik Pak B) pergi mengunjungi rumah Opung Pak B yang kami panggil Tua (Opung perempuan). Opung laki-laki sudah meninggal setahun lalu, yang kami sesali karena Pak B tidak bisa pulang saat itu karena situasi. Jadi kami hendak berziarah ke makam Opung yang ada di tengah ladangnya. Iya, orang di sana, kebanyakan dimakamkan di tengah ladang keluarga. Jadi jangan heran, sepanjang perjalanan, di kiri-kanan ada hamparan sawah atau ladang dan ada bangunan kecil disana. Itu makam. Bahkan ada beberapa makam yang di bangun besar sekali.

Di kampung Tua ini, yang jadi highlight liburan kami, karena selain berziarah, kumpul dengan keluarga, saya dan Bri dapat pengalaman baru yaitu ikut melihat panen durian! Iya, kami datang di saat tepat karena durian sedang di panen di sana

p_20170114_130324_hdr.jpg
Can you spot the Durians?
p_20170114_130201_hdr.jpg
Gambar yang lebih jelas
img_20170114_132734.jpg
Here we are. Ki-Ka : Saya, Bri, Pak B, Opung, Inang, Eyang (mama saya). Sambil was-was takut ada durian jatuh dan menimpa kepala kami..hehehe

Pokoknya saya norak banget dehhh, sebelumnya saya ini anti banget sama durian. Tapi kemarin nyoba, awalnya mabok setelah makan 2 biji, tapi kok ya ngeliat yang lain makan enak banget, jadinya ngiler dan kepingin nyoba lagi dan jadi suka. Hahahahaha.

Siapa yang paling senang saya jadi suka durian? Tentu Pak B, jadi dia bisa ajak saya beli durian kalau kami pulang nanti. Hahahaha. Bayangkan, kami pulang dengan 40 butir durian untuk dimakan ber-6 dalam waktu 3 hari (mama saya tidak suka soalnya). Jadi puaslah ya makan durian selama disana. Sebenarnya, selain durian, ada juga tanaman kopi dan coklat, tapi belum panen sepertinya.

Hari itu kami habiskan dengan bercengkrama dan tiba di rumah sudah malam. Bri senang sekali, berkali-kali cerita tentang ladang.

To be continue.. (kalau ga males, hehehe)

(late) Christmas Dinner

Hai hai..apa kabar yang liburan? Apa? Ga libur? Sama dong..ciyan ya kita..hahaha..meskipun ga libur, semangat jangan dikasih kendor dong. Tarik mang!! ūüėČ

Jadi di postingan dengan preambule jayus ini, saya mau cerita aja sih kalau beberapa hari lalu, tepatnya Selasa kemarin saya meet up sama teman2 saya. Bukan teman sembarang teman, tapi teman yang sudah 14 tahun berteman (bahkan ada yang sudah 17 tahun dan 25 tahun). Time flies! Yap, mereka adalah sahabat-sahabat saya dimasa SMA.

Jadi, menurut saya, ada beberapa jenis sahabat. Yang pertama yang super lengket, yang sering contact dan curhat all the time. Yang kedua yang keep in touch tapi jarang sekali curhat via email, message, atau telepon karena beberapa alasan tetapi saat bertemu rasanya tidak ada yang berubah, cerita bisa tidak habis-habis, dan kita merasa bebas mengungkapkan apa saja. Nah, kami ini kayaknya tipe yang kedua. Duh, ngumpulinnya susahhhh, tapi sekali ngumpul, it’s always a memorable one.

Mendadak seminggu sebelum Natal, teman saya yang super sibuk dan paling sering ga bisa kumpul padahal dia yang paling bikin suasana greget whatsapp di group mengajak kami untuk Christmas Dinner. Somehow, kami semua bisa dan sepakat aja gitu tanggalnya. Padahal ya, sebelum2nya nih, biasanya akan jadi wacana doang.

Tanggal sudah sepakat, tinggal tempatnya. Tadinya saya nawarin ke arah Bogor (modus banget biar dekat, karena saya doang yang tinggal di pinggir (banget) bogor), ada juga yang minta di Jakarta karena memang kebanyakan kerja di sana. Tetapi jadinya tetep dong ya, di Depok. Hahaha. Ini permintaan khusus 2 orang teman kami yang hamil buesar, yang due date nya mepet, jadi musti stay close ke RS tempat cek mereka kalau2 mendadak kontraksi. Akhirnya kami pilih De Margo Restaurant, di Margo Hotel.

Ki-ka : Eva, Saya, Markus, Dea, Liza, Nala, Ira, Hagai

Dress code harusnya putih-jeans, tapi ga seru ya kalo ga ada yang melenceng. Ibu hamil mah dimaklumin deh, stok baju yang muat kan terbatas, tapi ternyata ada Bapak hamil yang ikut2an melenceng dari dress code. Teman saya yang pake baju hitam (laki-laki) itu benar2 yang paling signifikan perubahan ehm..beratnya..(ampun kus).

Begitu bertemu, kami lupa itu tempat umum. Didukung restaurant yang sepi, posisi meja di pojok yang ga ada tetangganya, kami mulai cerita ga habis-habis dan tertawa. Tapi sebagai orang dewasa yang ngerti rasanya terganggu dengan suara berisik di tempat umum, kami mati-matian berusaha supaya volume kami tetap low sampai nutup muka pakai serbet. 😂😂

Sebelum bapak hamil datang
Setelah bapak hamil bergabung

Lihat dong ya, di atas meja kami itu masih kosong dan hanya terisi kado. Iya, karena kami ada tukar kado, dan hanya bumil dan beberapa emak lapar yang udah pesen karena datang duluan. Kami mengutamakan selfie daripada makan. Begitu kira-kira jadinya. Hahaha. Acara tukar kado berjalan lancar, dan sepertinya pas satu sama lain dapernya.

Yeay, ini kado kami!!

Saya dapat apa? Dapat hiasan dinding rumah, yang saya aminkan semoga jadi pertanda rencana memperbaiki rumah akan segera terwujud *maksatapiamin.

Ah, muka saya kok gitu..ga bisa dikondisikan apa ya..hehe

Tentang makanan? Jujurly nih ya, saya ga notice gimana rasanya karena lebih heboh ngobrol daripada makannya. Jadi maap deh ya kalau ada yang cari rekomendasi makan disini, kayaknya saya harus coba ulang deh rasanya 😁. Tapi selama itu makanan habis sama saya, rasanya pasti cukup enak menurut saya. Hahaha. Kita pesan a la carte gitu, ga ambil buffet, saya pesan ayam taliwang, kebanyakan pesan spagheti (bolognaise maupun carbonara), ada juga tongseng (lupa ayam ato kambing) dan sop buntut.

Pertemuan kami singkat (2 jam saja karena weekdays dan besok harus kerja pagi) tapi sangat berkesan buat kami. Yup, true friends are like stars, sometimes we can’t see them, but we know that they’re always be there.

Oh ya, pertemuan ini juga menyisipkan rindu pada salah satu teman kami, Monce, yang sudah lebih dahulu menjadi “bintang” di surga. Ce, you always be missed. Kami mengenang dengan senyum dan membicarakan betapa baiknya kamu ūüôā

Semoga kami akan bisa tetap berteman sampai tua nanti. Amin.

Nikmatnya Sehat (2)

Tulisan ini sekedar sharing, mungkin ada teman lain yang pernah merasakan hal yang sama. Jadi kelanjutan sakit yang kemarin itu ternyata panjang urusannya, broh..

Sempat bikin ketar ketir juga sih. Jadi di tanggal 25 Nov kemarin (setelah berkeluh kesah di sini) saya memutuskan untuk coba ke dokter di RumKit langganan di dekat rumah nyokap. Tapi ada ngeselinnya nih, ternyata jadwal dokter (saya pengen lgsg ke spesialis penyakit dalam) di web-nya ga update, jadi udahlah sampe sana malah ga ada dokter spesialis lagi (emang saya dateng malem, jam 8.30 malem). Kezel. Tapi karena saya pusing hebat, kami ke bagian IGD yang 24 jam.

Di IGD, saya dikasih obat pereda nyeri lewat infus dan lumayan banget pusingnya berkurang. Setelah kurleb 2 jam diinfus, cus lah kami pulang dengan dibekali surat rujuk ke dokter spesialis syaraf, surat pengantar cek kolesterol dkk dan serenceng obat sakit kepala, jaga-jaga kalau pusingnya kumat. Malam itu dilewati dengan damai, tidur nyenyak, dan optimis meski kaki masih senat-senut.

Esok harinya, saya cek darah dan hasilnya kolesterol & asam urat saya diatas ambang batas meskipun ga terlalu tinggi *tutupmuka*. Setelah cek darah, saya pun menuju dokter spesialis syaraf, namanya Dr.Catur Banuaji Sp.S. Doketer Catur sabar meladeni dan memberi penjelasan panjang lebar. SEtelah mendengar kronologisnya, dia bilang kemungkinan saya radang syaraf karena nyerinya tidak di satu sisi (tangan kanan, kaki kiri), dan pusing di kepala bisa jadi tension otot di pundak menekan syaraf. Sementara dia kasih obat untuk syaraf dulu, kalau keluhan tidak mereda baru akan cek lebih lanjut.

Drama dimulai setelah pulang dari dokter, saya sakit kepala hebat lagi, minum obat dari dokter di IGD ga mempan, minum obat warung (b*drex extra) 4 jam kemudian ga mempan, dan sakit kepala berlanjut sampai hari minggu. Bukannya membaik, malah memburuk disertai muntah-muntah.. Lihat cahaya lampu (dan cahaya lainnya) pusing ga karuan, denger suara berisik nyut-nyutan. Akhirnya minggu sore balik lagi ke RS, dan seperti biasa ke IGD lagi, diinfus lagi, cek darah lagi, tapi ga membaik. Hasil cek darah ke 2 ini juga ga menunjukkan infeksi, ga anemia, gula darah pun normal. Dokter memutuskan supaya saya dirawat agar bisa di observasi lebih lanjut dengan dokter penanggungjawabnya ya dokter Catur karena beliau yang terakhir menangani.

Dokter Catur meminta supaya segera CT Scan dan rontgen Versikal (bahu & leher) keesokan harinya. Malamnya beliau datang tapi sayangnya, hasil CT Scan dan Rontgen belum dia terima dari radiolog. Hari itu menjadi hari terpanjangggggg dalam hidup saya menunggu hasil CT Scan dengan segala kekhawatirannya. Di kunjungan pertamanya, meskipun kamar dalam keadaan gelap (karena saya ga bisa lihat cahaya), dokter Catur menanyakan beberapa hal mengenai sakit kepala saya, dan dari ciri-cirinya dia menyimpulkan saya ini Vertigo berat. Intinya kondisi saya menyangkut pusat keseimbangan di tubuh saya. Biasanya gejala akan hilang sendirinya setelah beberapa hari (dibantu obat pereda nyeri dan istirahat). Pemicunya? Macam-macam dan salah satunya stres.

Long story short, akhirnya hasil CT Scan dan rontgen saya keluar. Puji Tuhan kondisi otak saya normal, tidak ada pendarahan, intinya oke. Tetapi ada satu penemuan pengapuran pada tulang & sendi saya dari hasil rontgen . Dokter bilang hal ini kemungkinan besar yang menjadi pemicu rasa sakit kepala hebat saya karena pengapuran membuat otot jadi tegang dan menekan syaraf (cmiiw, maklum waktu dijelasin saya masih oleng banget). Semua orang nanya, apa penyebabnya saya bisa pengapuran padahal masih muda? Jawabannya saya tidak tahu pasti, mungkin kurang kalsium (ciyan ya saya..) tapi yang jelas posisi yang tidak ergonomis saat bekerja menghadap komputer dan saat memegang handphone (kepala menunduk dan bukan hpnya yang diangkat sejajar mata).

Terus harus gimana? Saya diminta fisioterapi tapi setelah vertigo saya hilang. Kenapa? karena fisioterapi harus tengkurap, tapi kalau saya masih vertigo bisa muntah-muntah kalau disuruh tengkurap. Masalahnya, vertigo saya bandel banget dan menetap sampai seminggu di RumKit dan berlanjut seminggu lagi di rumah. Fisioterapi belum saya lakukan sampai saat ini, tapi saya melakukan akupuntur untung meringankan vertigo saya (dengan persetujuan dokter tentunya).

Pengalaman baru ini saya di akupuntur, dulu saya ngeri banget lihatnya. Tapi pas dijalani, kok ya ga kerasa tau2 jarum udah “pating cerantelan” di kepala sampai kaki saya. Hahaha, akupuntur ini menurut saya help me a lot karena senat-senut kaki saya hilang dan vertigo saya jadi berkurang. Saat ini saya sudah mulai kerja dengan kondisi tidak bisa menatap layar monitor (dan hape) lama-lama, jadi harus sering mengalihkan mata dari layar. Belum kondisi maksimal, tapi sudah jauuuuhhh lebih baik.

Dengan “kado” akhir tahun ini, saya pun semakin terpacu untuk mulai sangat memperhatikan kesehatan. Mulai pilah pilih makan, menggunakan hp seperlunya (hiks, ketinggalan update aktor terpaporit iniiiii… *plakk), menatap layar monitor tidak lama-lama (makanya blog terlantar, blogwalking sekali2, bhay drama2 korea kece yang lagi on going, sementara ga bisa nonton dulu lama-lama, sementara lho ya sampai bener2 sehat..), mulai stretching otot setiap pagi..

Hahhh..pokoknya 2017 cuma 1 resolusinya : Harus Lebih Sehat!!!!

Fighting

Oh ya, Merry Christmas & Happy New Year buat kamuh kamuh yang merayakan… Yang tidak merayakan, selamat menyambut 2017 yaaaa

God bless us

Tentang Kucing

Saya ini sedang bingung, bukan mikrin uang baru, pilkada atau apapun. Saya bingung bagaimana caranya agar rumah saya bisa bersih *yadibersihinkali*. Pasalnya, selama saya sakit kemarin dan bed rest di RumKit dan RumOr (Rumah Sakit dan Rumah Ortu), ternyata ada hal yang terjadi di komplek perumahan kami yang membuat rumah ga bersih. Kejadiannya itu, ada tetangga baru yang memelihara kucing (simpang siur jumlahnya, tapi ada yang bilang 15 ekor, ntah lebay atau dramatisasi) tapi kucingnya dibiarkan berkeliaran ke lingkungan luar dan meninggalkan “jejak” dimana-mana.

Saya ini not too animal lover, biasa-biasa aja, tapi dari kecil saya tuh takut sekali sama kucing. Tidak tahu apa alasannya saya sebegitu takutnya. Makanya, ada teman saya yang pecinta kucing, suka ngeledekin, mengendap-endap dari belakang, trus “nyokot” betis saya sambil bilang “miawwww..”. Kalau sudah begitu, bulu kuduk saya pasti naik. Meskipun takut, saya ga pernah sekalipun melakukan kekerasan sama kucing, lah boro-boro kasar ya, diliatin kucing aja saya ngacir. Tapi kadang-kadang hidup itu lucu ya, si Bri demen kucing, suka kasih makan ke kucing, makanya kucing banyak yang suka mampir kalau ada bri di depan pagar dan emaknya ngumpet di kamar.

Balik soal kebersihan rumah, “jejak” yang ditinggalkan kucing-kucing tetangga saya itu ga banget deh..mending kalau cuma bulu, tapi yang ditinggalin itu hasil sekresi alias tokai alias (maaf) tai kucing. Iyuhhhh…mana bau banget kannnnn. Waktu pulang ke rumah, saya histeris lihat teras saya karena ada 4 spot yang ditinggalkan jejaknya sama si kucing-kucing ini. Ohemji, sampe kerja bakti dulu kami beresinnya sebelum mobil bisa masuk. Setiap pagi pun pasti ada jejak itu yang ditinggalkan.

Ternyata hal ini bukan hanya di rumah kami yang notabene kosong selama 2 minggu, tapi juga keluhan yang sama datang dari tetangga-tetangga yang lain. Sampai ada yang ngontrak salah satu rumah, pindah meskipun sisa kontraknya masih 6 bulan lagi karena ga tahan setiap pagi membersihkan jejak itu.

Kami sudah mengeluh pada Pak RT, tapi belum ada juga perbaikan dari si pemilik. Sampai kemarin ada yang usulin untuk di karungin dan di buang, tapi saya mah ga tega atuh begitu. Jadi gimana ya caranya negur si pemilik ini supaya diajarin kucingnya untuk buang hajat pada tempat yang dia sediakan dan ga terlalu berkeliaran kemana-mana.

Jadi bingung..

Nikmatnya Sehat

Betul, sehat itu nikmat sekali lho. Saya benar-benar mengamininya selama seminggu ini. Kok baru seminggu ini? biasalah, insaf karena sakit. Hehehehehe. Dimulai dari minggu lalu badan ini mulai nggreges-nggreges ga enak, puncaknya hari Kamis malam dimana bagian tubuh saya sebelah kiri kram dari ujung rambut sampai ujung kaki (literally). Kejadian kram itu memang cuma 30 menit tapi bikin saya kepikiran sepanjang malam tapi coba tenang dan ga heboh.

Hari Jumat saya bangun dengan rasa nyeri di jari kelingking & jari manis sebelah kanan. Lho, semalam yang kram bagian kiri, kenapa yang nyeri sebelah kanan ya. Saya abaikan lah sakitnya dan tetap ngantor seperti biasa. Ndilalah di kantor ada update sistem yang membuat kami para penggunanya harus stand by dan menanyakan jika ada hal-hal aneh yang ditemukan di sistem. Tapi namanya badan ga bisa kompromi, saya ga kuat karena nyerinya makin hebat diikuti migrain sebelah kiri. Saya izin setengah hari dan pulang.

Entahlah, saya kok ga pengen ke dokter ya hari itu, malah dipijit berharap itu hanya otot yang kaku. Selesai di pijit badan saya berasa ‘njarem’ semua. Saya pikir itu biasa kan kalau habis pijit ‘njarem’ sebelum akhirnya feeling better. Saya tidur dengan keyakinan itu, tapi Sabtu paginya badan saya malah sakit semua dan ga bisa bangun dari tempat tidur. Hari minggu saya merasa enakan dan nekat ngajar Sekolah Minggu kelas Batita, garis bawah cetak tebal cetak miring BATITA. Kelas Batita ini modalnya joget-joget, banyak gerak, suara harus lantang, pokoknya menguras energi banget. Tepat selesai bercerita, saya mulai keringat dingin dan terduduk. Kelas diselesaikan oleh rekan saya yang sukarela back up karena tidak tega lihat saya.

Fix ini mah harus ke dokter. Tangan kanan saya makin nyeri dan sekarang ditambah kaki kiri telapaknya nyeri luar biasa. Saya jalan jadi terpincang-pincang. Singkat kata, hari senin saya izin ngantor dan ke dokter. Dokter di so called “excecutive” clinic yang saya datangi hanya pegang-pegang badan saya, dan langsung menyimpulkan saya “Rheumatoid arthritis”. Saya sampe mengajukan permohonan cek darah padahal, dia ngotot ga kasih rujukan. Katanya coba minum obat nyeri dulu selama 10 hari (Iya, SEPULUH HARI) baru kalo ga ada perubahan baru cek darah.

Demi ga mau sotoy, saya pun mengiyakan saran dokter dan pulang. Harapan saya tinggi terhadap obat yang dia kasih. Hasilnya? saya menyerah minum obat itu setelah 3 x, karena nyeri tidak berkurang tapi yang saya rasakan efek sampingnya yaitu sakit kepala hebat dan mau muntah. Sekarang saya sudah harus ngantor sambil menahan sakit di kaki dan tangan. Jadi jalan saya sekarang terpincang-pincang.

Sepertinya saya harus cari second opinion untuk penyakit saya ini. Wish me luck ya friends and stay healthy wherever you are. God bless you all

Standing Egg

Standing Egg? Telur berdiri? Apa maksudnya deh ah.. itu yang ada di pikiran saya waktu teman saya mempromosikan grup ini. Jadi, teman saya itu berkesempatan jalan-jalan ke Korea beberapa waktu lalu dan dia bilang menonton festival musik yang salah satu artis pengisinya adalah Standing Egg. Standing Egg ini grup band indie Korea yang debut tahun 2010 dengan anggota :

  1. Egg 1: Composer
  2. Egg 2: Vocal, Composer
  3. Egg 3: Lyricist

Jangan tanya saya siapa namanya karena cuma itu yang bisa saya temukan di google..hahaha, tapi mereka ada team live performancenya seringnya ada :

  1. Clover : Vocal
  2. Lee Han Kyul : Double Bass
  3. Song Hana : Djembe, Percussion
  4. Lee Yeni : Keyboard
  5. Windy : Vocal
  6. Lee Yeseul : Vocal                (Data diambil dari sini)

Akhirnya karena teman saya terus-terusan mengingatkan, saya pun tergerak untuk cari lagunya di youtube :p . The result? Saya jatuh cinta sama grup ini. Meskipun saya ga ngerti liriknya, tapi nadanya menyenangkan di telinga saya. Kalau berdasarkan artikel di awal debutnya, mereka ini genre musiknya : reggae, punk to pop, even jazz with hints of bossa nova. Saya buta musik, tapi saya suka lagu-lagu mereka

Dan yang terbaru mereka merelease album terbaru dengan single jagoannya “Voice” Oh Tuhan..saya sekali lagi merasa jatuh cinta dengan video klip dan lagunya.. Kalau mau liat mvnya bisa langsung cus ke¬†sini. Gara-gara mereka lah sepertinya saya akan mencoba mencari-cari lagi band korea indie.

Musik sih masalah selera ya, tapi give it a chance, maybe you will fall in love also with this group ūüôā

standing-egg-voice
Ini gambar cover album terbaru mereka yang di ambil dari mv-nya.